Header Ads


Dek Arief Abas Terlalu Serius Menanggapi Mr Firanda Andirja




Oleh : Ersyad Mamonto

Dek Arif, kali ini abang dapat tempat khusus di kolom ini. Disela-sela kesibukanku menunggu ujian akhir studi, bak punduk merindukan rembulan—sebab kata orang Gorontalo “mangu manguru hila mo wisuda”. Daku—kalau bisa pakai gaya pujangga lama—ingin mengomentari artikelmu tentang Mr Firanda Andirja dengan judul : Yang Hinggap di Kepala Kita Ketika Mendengar Sosok Ustaz Firanda Andirja.

Secara sadar dan insyaf, daku menuliskan ini tidak dalam keadaan pengaruh alkohol, obat-obatan terlarang, apalagi nafsu menggebu-gebu membasmi wahabi dan pengagum berat Khiafah (khilaf bil ta marbuta). Sebagai seorang yang pernah “hampir” menjadi teroris, daku melihat dek Tarmizi alias Arif, terlalu ngilmiah menanggapi wahabong sekelas Mr Firanda. Saya mahfum akan hal ini, mungkin dikau sedang dilanda akademik-holic, “lapar”, atau lingkunganmu yang kian hari makin puritan.

Jika tujuanmu ingin menyusupi pikiran para pengagum Mr Firanda—jika saya tidak dosa menyebutnya sebagai kaum literasi setengah hati— maka, dalam UFO Sebagai Anak Buah Dajjal (Al Baygoni, 2019) bisa difastikan itu merupkan salah satu tanda-tanda Dajjal semakin dekat. Sebab, dari pengalamanku (nda maksud ba generalkan, biasa juu), ada susunan logika—yang terseret dalam lubang buaya peristiwa 65/66—yang menyebabkan bahasan ngilmiah dan hermeneutik merupakan bualan kosong bagi mereka.

Sama seperti katamu Rif, bagi wahabong (Wahabi Bodong)—karena lebih serem ketimbang wahabi aseli di tempat asalnya—, sejarah dan dinamika dalam proses islamisasi itu merupakan bentuk TBC (Tahayul, Bid’ah. Churafat). Selain, karena doktrin yang dibangun memang sangat beraroma Sapiens di masa awal agrikultur, juga daya kritis yang terlampau dipakai hanya pada urusan politik praktis—tidak pada masalah agama-sosial-sejarah.

Seharusnya, santailah sedikit menanggapi kedatangan Mr Firanda ini!. Gunakanlah adagium “buanglah tenagamu di tempat sampah, maka itu lebih baik ketimbang menanggapi hal yang out of the sense”. Kita bisa menanggapinya dengan berbagai macam cara, misalnya sambut beliau di bandara dengan cara, pagelaran musik, Qasidahan, atau di jemput Miss Waria (Bakusedu).

Daku merasa hal ini mungkin bisa mengobati rasa penasaran para wahabong, bagaimana meriahnya Qasidahan dan menikmati puji-pujian kepada Baginda Rasulullah S.A.W. ketimbang telaah ngilmiah yang ujung-ujungnya hanya akan dilabeli sebagai super bid’ah. Apalagi kalau dibaca dengan sekuat hati, artikelmu memuat dialog Islam dan tradisi yang dilakukan oleh Sultan Amai sehingga muncul adagiaum “Sara Topa-Topanga to Adati” artinya Syariat Bertumpu pada Adat, bisa dibayangkan mungkin kosa kata tahayul, bid’ah & churafat tidak cukup lagi menjembatani para wahabong untuk berkomentar tentang ini, yang melampaui bahasa tersebut.

Di paragraf terakhir ini Abang hanya ingin berpesan kepadamu, kuliah baik-baik di CRCS (biar ini jurasan kata beberapa orang di lingkungamu sebagai pendukung paham setan), biarlah para Banser (menunggu perintah Kyai). Dek Arif, abang ini fans berat Tahlilan yang ada tili aya dan nasi kuning garis keras. Biarlah, Mr Firanda akan diselesaikan secara adat saja, bisa via doti-doti dan atau via huhemo

Akhirul kalam, untuk menanggapi Mr Firanda dkk, Abang coba kasih sepenggal pantun :

Po ame-ame belalang kupu-kupu
datang jangan dulu terburu-buru
Cigulu-cigulu jangan dulu ba rusu

Dek Arif, dalam tulisan ini abang cuma baku sedu

No comments

Powered by Blogger.