Header Ads


Kopi - Sufi, Eropa dan Kita


Foto Ilustrasi (konfrontasi.com)

Oleh : Djemi Radji

Konon, biji kopi pertama kali ditemukan pada abad ke 9 dan hanya tumbuh di dataran tinggi ethiopia. Menurut kesaksian dari ilmuwan Islam Ibnu Sina, bahwa bangsa pertama kali menikmati dan membudidayakan minuman kopi adalah bangsa Arab, Yaman. Kopi atau al-qahwa yang berarti kekuatan. Kopi mengandung kafein yang membuat tubuh terasa lebih berenergi dan membuat otak dapat berpikir lebih jernih.

Tak jelas siapa nama penemu kopi sebenarnya. Wikipedia menyebut, penemu kopi adalah pengembala kambing bernama Khaldi di Kaffa, Etiopia, yang hidup sekitar abad ke 8 Masehi. Namun ada pula sejarawan Islam lain meyebut, seorang Ulama yang aktif di tareqat Syadjiliyah adalah penemu kopi pertama. 

Demikian juga literatur lain memperkuat, bahwa penemu kopi sebenarnya bernama Syekh Ali Abu Hasan Bin Umar As Syadzili, waliyullah asal Negeri Yaman. Dan konon, sejak penemuan tumbuhan kopi, Syekh Ali Hasan Bin Umar As Syadzili juga menjadikan rebusan kopi sebagai obat penyakit kulit dan obat penyakit lainnya.

Tradisi minum kopi bisa kita lacak pada sebuah komunitas Sufi di Yaman. Ritual minum kopi sambil diiringi baca’an ratib dengan menyebut “Ya qawi” (kumpulan doa rutin) sebanyak 116 kali. Kopi bagi para sufi dianggap sebagai sumber dari segala kekuatan spritual. Nasirul Haq (2014) mengutip sebuah kitab umudatus shofwah fi hukmil Qohwa, ada banyak tradisi minum kopi khas para Ulama-ulama Sufi.

Sebuah telusuran mendalam Nasirul Haq, pada sebuah kitab tersebut mengungkapkan, bahwa beberapa Ulama sufi juga turut memproduksi fatwa mengenai kegunaan minum kopi dan kebolehannya. Pada masa itu, menyeruput kopi merupakan salah satu ritual menghormati para penemu, yang tak lain adalah Syekh Ali Abu Hasan Bin Umar As Syadzili.

Nasirul Haq juga meyebutkan, beberapa Ulama sufi telah merumuskan tentang khasiat dan kebolehan minum kopi diantaranya; Syekh Zakaria Al-Anshori, Syekh Abdurrohman Bin Ziyad, Syekh Zarruq Al-Maliki Al-Magribi, Syekh Abu Bakar Bin Salim Attarimi dan Syekh Abdullah al-Haddad. 

Ada pula Ulama Sufi populer mengarang kitab tentang kopi, diantaranya; Syekh Muhammad  Al-Aidrus (Risalah Inusi as Shofwah bi Anfusi Al-Qohwa), Al-Imam Al-Faqih Syekh Bamakhromah (syair kopi).  Syair ini banyak mendapat dukungan para Ulama saat itu. Pun di Indonesia, Ulama-ulama seperti Al-Allamah Syekh Iksan Jampes berasal dari Kediri juga mengarang kitab (Irsyadul Ikhwan fi Syurbil Qohwa wa Addukhon),  dan Syekh Abdul Qodir Bin Syekh  mengarang (Shofwatu As Shofwah fi Bayan hukmil Qohwah).

Kopi bagi kaum Sufi merupakan minuman untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta, Allah Swt, Tuhan sekalian alam. Disamping itu, kopi berkhasiat baik untuk peningkatan spritual. Kopi teman berzikir para sufi semalam suntuk. Kopi bagi kaum sufi, adalah petunjuk mendekatkan diri kepada sang Rabb. 

Kini, kopi tidak hanya minuman para Sufi, siapa pun bisa menyeruputnya. Kopi adalah sahabat terbaik dikala sendiri.

Dalam sebuah kitab, Tarikh Ibnu Toyyib di sebutkan, "Qohwah (Kopi) adalah penghilang kegalauan kaum muda, senikmat-nimatnya keinginan bagi kalian yang sedang menimba ilmu. Kopi merupakan minuman orang yang dekat pada Allah (Tuhan) didalamnya ada kesembuhan bagi mereka pecari hikmah diantara kalian. Kopi di haramkan bagi orang "tidak tahu" dan mengatakan keharamannya dengan keras kepala".

Kopi di Eropa & Sejarah Perbudakan

Selain itu, kopi menyebar ke Eropa Utara, tepatnya di Negeri kincir angin, Belanda. Negara yang pernah menjajah Indonesia itu, menjadi pemimpin pasar utama kopi di dunia. Keberhasilan Belanda tak lain berkat negeri jajahan mereka, termasuk Indonesia. Tanah Indonesia subur dan cocok untuk pembudidayaan kopi. Awalnya, produsen kopi dunia adalah bangsa Arab-Yaman dan perlahan Belanda menggesernya.  

Kala itu, sejarah kopi bisa juga dikatakan sejarah perbudakan. Semakin banyak produksi, maka semakin banyak pula buruh kerja dibutuhkan. Terjadi perbudakan massal secara paksa. Pada puncaknya terjadi sebuah pengiriman jutaan para pekerja dari Afrika ke berbagai penjuru untuk memenuhi kebutuhan pasar kopi.

Kopi sangat identik dengan perbudakan saat itu. Seiring berjalannya waktu, kopi menjelma menjadi komoditi pasar dan banyak dicari manusia seantero dunia. Bahkan sampai detik ini, banyak dari kita-manusia mengkultuskan kopi sebagai kawan sepi maupun meningkatkan produktivitas.

Dikutip dari kopidewa.com, di dunia hanya mengenal dua jenis kopi. Yaitu jenis kopi arabika dan robusta. Kopi di dunia dibuat dengan bahan dasar dua jenis biji ini. Biji kopi arabika berasal dari Ethiopia, sedangkan biji kopi robusta berasal dari Kongo. 

Kedua jenis kopi berasal dari benua yang sama, Afrika. Kedua jenis kopi ini mempunyai keunggulan masing-masing. Bagi penikmat kopi yang membutuhkan kafein lebih tinggi dengan rasa pahit akan memilih robusta. Sedangkan penikmat kopi berkafein rendah dengan rasa asam akan memilih kopi arabika.

Eropa Menentang Kopi

Kopi khusunya di Indonesia ada sejak tahun 1696, ketika Belanda membawa kopi dari malabar, India ke Jawa. Belanda membudidayakan tanaman kopi di Kedawung, sebuah perkebunan terletak dekat Batavia (Jakarta saat ini). Budidaya kopi ini gagal disebabkan karena tanaman tersebut rusak akibat gempa bumi dan banjir.

Indonesia negara penghasil kopi terbaik dunia. Sejak itu, kopi dibawa ke Indonesia pada abad ke 17 oleh Belanda, yang saat itu tengah menjajah bangsa ini. Wajar, di Negeri Belanda, kopi sangat sulit dikembangkan karena faktor cuaca yang tak mendukung.

Jenis kopi yang pernah dikirim Gubernur Belanda di Malabar yakni jenis kopi Arabika yang berasal dari Yaman. Kopi tersebut dikirim untuk Gubernur Belanda di Batavia pada tahun 1696. Sayang, bibit itu gagal tumbuh akibat banjir melanda Batavia kala itu.

Kesuksesan budidaya kopi oleh Belanda barulah di tahun 1711, kopi berhasil ditanam dan diekspor dari pulau Jawa ke benua Eropa melalui perusahaan Belanda, VOC. Selama 10 tahun, budidaya kopi di Batavia semakin berkembang pesat dan sukses memberikan keuntungan besar bagi Belanda.

Setelah sukses di Batavia, nalar monopoli Belanda tak sampai disitu, hal ini  dibuktikan dengan perluasan-perluasan produksi kopi di beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari Sumatra Utara, Aceh, Bali, Prenger, Jawa Barat, Sulawesi, dan Papua. 

Hampir semua kopi di Indonesia ditanam di dataran tinggi dan tingkat kesuburan tanah serta cuaca yang baik. Inilah sebabnya, produksi kopi di Indonesia berhasil menciptakan berbagai jenis Kopi Indonesia berkualitas terbaik di dunia.

Kopi sampai ke benua eropa adalah hasil pengelana para pedagang Yaman, yang sekaligus melakukan perjalanan syiar. Pada abad 15, minuman kopi telah masuk dan diterima negeri Turki pada masa Kekhalifahan Ottoman. Di masa ini, dibangun kedai kopi pertama di dunia yang bernama Kiva Han pada tahun 1475 Masehi.

Saat memasuki negara-negara Eropa, kopi sempat ditentang karena dianggap sebagai 'minuman Islam', dan siapapun yang meminumnya akan berdosa. Sekira tahun 1600, pemuka Gereja mendatangi Paus Clement VIII untuk meminta fatwa haram kopi. Hal ini mengambarkan bahwa bangsa eropa saat itu belum mengenal dan tahu khasiat kopi.

Menurut Linda Civitello dalam Cuisine and culture: A History of Food and People, pada tahun 1679, sejumlah dokter di Prancis membuat catatan buruk tentang kopi. Kopi membuat orang tidak lagi suka Wine (Minuman beralkhol). Catatan buruk lain menyebutkan bahwa kopi meyebabkan penikmatnya bisa letih, tidak bergairah, menimbulkan hal buruk pada otak manusia, mengeregoti fungsi tubuh serta biang keladi impotensi.

DiJerman, popularitas kopi dianggap menganggu penguasa, Frederick the Great. Pada tahun 1777, sang penguasa mengeluarkan manifesto anti kopi dan mendukung minuman tradisional Jerman. Negeri ini dikenal dengan minum khas tradisonal, Bir. Frederick menyatakan bahwa kopi punya implikasi buruk terhdapa ekonomi Jerman. 

Menurutnya, dengan meningkatnya kuantitas kopi yang di konsumsi rakyatnya, akan banyak uang keluar dari Negeri-nya. Sementara di Inggirs, penguasa King George II memusuhi kopi lantaran orang-orang berkumpul di kedai-kedai kopi kerap mengolok-olok dirinya.

Namun perlahan, minuman kafein ini mulai diterima dan dikonsumsi oleh masyarakat eropa. Bahkan, tempat yang menjual kopi disebut sebagai "pusat pencerahan" karena minuman tersebut menjadi teman diskusi para politisi, filsuf, birokrat, dan lainnya. Kopi diyakini melahirkan banyak ide-ide brilian.

Kopi di Indonesia

Sejak tahu khasiat kopi dan nalar monopoli Eropa menguat, bangsa ini mulai menggeser dominasi bangsa Arab-Yaman dalam memproduksi kopi secara massal. Sejarah mencatat, memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Awalnya mereka mengembangkannya di tempatnya, namun iklim tidak cocok untuk tanaman kopi.

Kemudian mereka mencoba membudidayakan tanaman tersebut di daerah jajahannya, yang tersebar di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Dikutip dari Jurnal Bumi, bahwa salasatu pusat produksi kopi dunia ada di pulau jawa, yang dikembangkan bangsa Belanda. Pada masa itu, produksi kopi dari pula Jawa pernah mendominasi pasar kopi dunia. Ada istilah sangat populer dan barangkali kita pernah mendengar, sebuah istilah "Cup Java". Para sejarawan kopi mencatat, rasa dan kualitas kopi Jawa terbaik di dunia hingga abad ke 19. (***)

Penulis: Direktur  di nulondalodotonline

No comments

Powered by Blogger.