Header Ads


Masih Tentang Firanda: Bagaimana Radikalisme Menyeruak Masuk ke dalam Pemerintahan?

Warga Kota Samarinda Tolak Wahabi dan Ustadnya, Firanda Andirja ( Foto:www.mudhiatulfata.net)


Oleh : Tarmizi Abbas
Pengurus LAKPESDAM PCNU Kota Gorontalo dan CRCS Student, UGM Yogyakarta.

Meski tulisan saya sebelumnya “Yang Hinggap di Kepala Kita Ketika Mendengar Sosok Ustaz Firanda Andirja” kemarin berakhir dengan tanggapan yang cukup kritis, tidak sedikit yang mencecar tulisan tersebut dengan cara yang spekulatif. Mereka bahkan menduga bahwa saya berada di antara pihak yang menolak kedatangan Ustaz Firanda. Namun demikian, saya akan tetap mengucapkan banyak terima kasih. Begitulah diskursus. Ia tidak berhenti pada satu bentuk utuh nun padu, melainkan laiknya bola es (snowball) yang menggelinding dan membesar seiring dengan waktu dan proses-proses kausal.

Hanya Ersyad Mamonto, yang saya kira, menuliskan kritikannya dengan jernih—meski ia coba membalutnya dengan jelagat satire. Lewat tulisannya, Ersyad mencoba membuat saya tenang dan tak perlu mempersoalkan kedatangan Ustaz Firanda dengan argumen-argumen yang serius. Tentu—dengan gaya satire-nya—saya terbahak. Ada benarnya Ersyad menyuruh saya agar tak terlalu cekatan menanggapi kedatangan Ustaz Firanda. Sebab untuk apa juga? Toh, pertama, saya sedang tidak berada di Gorontalo. Kedua, tidak ada pengaruhnya barangkali lantaran Gorontalo secara sosio-historis adalah daerah yang diikat oleh nilai adat dan Islam yang kuat.

Tapi semakin saya membaca tulisan Ersyad, saya berpikir untuk meneruskan niat saya untuk menulis. Apalagi setelah melihat fakta-fakta yang berserak seperti leafleat yang lengkap dengan logo pemerintah dan aparat kepolisian, saya kira, tulisan pertama saya belum selesai. Sehingga, ini perlu dilanjutkan. Pada tulisan kali ini, saya akan fokus untuk melihat sejauh mana radikalisme bergerak menyeruak ke dalam lini-lini pemerintahan kita. Namun untuk menuju itu, saya perlu menyitir sedikit definisi radikalisme sebagai proyek pemikiran terlebih dahulu.

Radikal Bukan Gerakan, Melainkan Pemikiran: Sebuah Percakapan

Pertengahan tahun 2018, jika tidak keliru, bersama seorang senior di Jogjakarta, saya pernah mendiskusikan sebuah tema yang cukup serius: radikalisme. Saya menanyakan hal itu padanya lantaran beliau adalah orang yang cukup aware soal filsafat, sejarah dan perkembangan ideologi dunia. Dengan hati-hati ia menyebut “radikalisme, sebelum ia menjadi sebuah gerakan, ia adalah pemikiran”. Saya tertegun dan tidak berbicara sepatah kata pun. Yang ada di dalam pikiran saya waktu itu hanya satu: menangkap kalimat demi kalimatnya dengan penuh konsentrasi.

“Radikalisme itu mulanya cara berpikir. Ia merupakan pisau bedah dalam filsafat. Bahkan semangat filsafat adalah semangat yang radikal, dalam artian membongkar objek apapun hingga pangkalnya, pada akar-akarnya (radix) selama ia masih bisa untuk dipikirkan”, ujar senior saya yang merupakan akademisi Hukum Tata Negara itu.

“Di kanan dan kiri aliran pemikiran dunia [maksud beliau adalah komunisme, otoritarianisme, fasisme, liberalisme, sekularisme, dll],” ujarnya, “radikalisme hinggap dan memperoleh bentuknya untuk mengokohkan pikiran-pikiran tersebut”. “Para filsuf, teknokrat, pemimpin keagamaan, para penggagas ideologi, saya, bahkan Anda pun boleh jadi radikal dalam berpikir”. Sejenak, ia berhenti. Lalu, dengan nada yang agak terbata-bata, beliau menyeru “Tapi barangkali Anda juga mesti takut dengan kata itu [radikal maksudnya],” pungkasnya.

Lagi-lagi kami diam. Namun kali ini tidak berlangsung lama. Sebuah pertanyaan lalu lepas dari mulut saya “loh, mengapa perlu takut terhadap sebuah proses berpikir radikal? Bukahkah radikal dalam berpikir justru dapat menghantarkan kita untuk meneroka sebuah persoalan dengan begitu dalam, begitu jernih?” Beliau tidak menjawab apapun. Ia diam saja. Di sela-sela itu, beliau lalu memberi tahu bahwa waktu tampak menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Kami menghentikan diskusi. Saya pamit pulang.

Apa yang membekas dari diskusi itu hanyalah pertanyaan yang mesti saya pecahkan sendiri. Memangnya, apa yang membuat “radikal” sebagai proses berpikir itu menakutkan? Ini menjadi pertanyaan yang rumit lantaran kata “radikal” sendiri coba didekati dengan kontradiksi. Dari sebuah proses “yang berani” menuju sesuatu “yang menakutkan”. Sesuatu, yang, boleh jadi saya tangkap dari ikhtisar senior saya, bahkan membuat orang-orang berpikir dua kali untuk mencobanya.

Tetapi, adakah sejarah yang membuktikan bahwa radikal sebagai sebuah pemikiran itu menakutkan? Jawabannya tentu saja ada. Amartya Sen, seorang ekonom mahsyur memberitakan itu dalam bukunya Konflik dan Identitas (2018). Sen memang tidak menggambarkan radikalisme lewat definisi. Ia justru mencoba melekatkannya pada satu diskursus identitas, yakni pecahnya konflik antar Islam dan Hindu pada tahun 1940an.

Dalam telaahnya, Sen menggambarkan bahwa pikiran radikal pernah menjadi api yang membakar umat Islam dan Hindu di India. Apa yang diyakini Sen tentang pikiran yang radikal—meski tidak menggambarkan itu secara detil—membuat orang-orang Hindu di India menjadi keras dan kaku.  Sikap radikal memberikan semacam kekuatan bagi masyarakat untuk menguatkan posisi Hindu sebagai satu-satunya identitas negara tanpa mempertimbangkan identitas lain seperti Islam yang juga muncul di India.

Alhasil, radikalisme yang tertanam di alam pikiran masyarakat Hindu di India justru memberi batas terhadap yang lain. Pemuka agama Hindu memberitahu bahwa satu-satunya dharma (aturan) yang benar hanya muncul dari agama mereka. Di titik inilah fanatisme agama bermunculan. Satu-persatu umat teracuni dan mulai memberi batas terhadap yang lain (umat Islam). Mereka menjadi keki ketika berjumpa dengan orang orang Islam. Ekstrimisme pun meletup dan seketika perang terjadi. Mengutip Sen: “Saya melihat bagaimana para pemimpin-pemimpin agama yang radikal menjadikan umat Islam dan Hindu yang pada bulan Januari saling berjabat dan melempar senyum, namun pada bulan Juni justru saling menumpas, membuat India penuh bersimbah darah.”

Radikalisme dalam Islam

Jika Anda berpikir bahwa radikalisme itu hanya tumbuh di dalam jiwa ideologi-ideologi dunia seperti komunisme, fasisme, atau otoritarianisme di dunia, maka Anda keliru. Radikalisme justru tumbuh dan berkembang di dalam tubuh agama-agama kita. Bahkan di abad 21, pemikir Islam seperti Fazlur Rahman dalam Islam (2017) melihat kemunculan paham radikal di dalam diri agama-agama akan semakin mengemuka. Saya telah menunjukkan bahwa radikalisme bisa hadir di dalam diri umat Hindu. Itu berarti, tidak menutup kemungkinan di dalam Islam sendiri cara pikir seperti ini mendapat tempat.

Kurang lebih sama, proses munculnya radikalisme dalam tubuh Islam juga diawali oleh perasaan bahwa ajaran mereka adalah satu-satunya yang benar. Tentu saja, secara teologis, ini bukan sebuah persoalan. Adalah sebuah kewajaran bagi setiap umat beragama tertentu untuk mengklaim ajaran agamanya paling benar. Seyyed Hosn Nasr membagi tipologi pemahaman keagamaan dalam Islam dalam empat katagori, yakni Muslim Modernis, Muslim Mesianis, Muslim Fundamentalis, dan Muslim Tradisionalis—yang keseluruhannya mengklaim diri sebagai satu-satunya kebenaran.

Dari ke empat model yang dinyatakan Nasr, Muslim Fundamentalislah yang berkembang pesat saat ini. Mereka mengusung tema radikal “kembali ke al-Quran dan Hadist” sebagai inti dari gerakan dakwah. Haidar Bagir dalam Islam Tuhan Islam Manusia (2017) menyatakan bahwa cara pandang Islam kaum fundamentalis bersifat keras, kaku dan eksklusif. Bagi mereka, takhayul, bid’ah dan churafat menjadi salah satu hal yang penting untuk diruntuhkan. Sabab, keseluruhannya bersifat baru, dan tidak pernah dilakukan di zaman nabi.

Bagi Aksin Wijaya (2018), kaum-kaum fundamental mengambil patron Imam Hambali (164-241H) sebagai rujukan madzhab dalam berfiqh. Karakteristik madzhab Hambali yang paling dikenal adalah mendahulukan nash dibanding akal dalam menyelesaikan persoalan keagamaan. Sehingga, jika terdapat sebuah kegiatan ibadah yang tidak ada contohnya berdasarkan riwayat kenabian (prophetic history), mereka akan menolak, bahkan mengkritik dan menyalahkan. Pendeknya, pemahaman keagamaan seperti ini cenderung tekstual dan ketat.

Di Indonesia sendiri, penyebaran gerakan Islam fundamental ini terbilang cukup pesat. Mereka bahkan bergerak secara organik dan masif. Di sisi lain, masyarakat juga menyambut da’i-da’i mereka dengan tangan terbuka. Slogan “kembali pada al-Quran dan Hadist” rupanya berhasil memikat pandangan keagamaan masyarakat kita, yang sebelumnya didominasi wacana tradisionalis (NU) dan berkemajuan (modernis) seperti Muhammadiyah. Salah satu da’i itu adalah Ustaz Firanda Andirja.

Anda bisa berteriak sepanjang malam untuk menyangkal pernyataan saya, namun benar, formasi Intelektual Ustaz Firanda, sampai kapanpun akan berbeda dari kyai atau ustaz-ustaz berlatar belakang Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Beliau lebih kaku, tekstual, dan eksklusif dalam memandang Islam. Ceramah-ceramah beliau bahkan secara tegas menyitir praktik-praktik kebudayaan Islam yang ada di kalangan umat Islam di Indonesia sebagai bid’ah dengan alasan itu semua tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad dan para sahabat nabi setelahnya.

Di titik ini terlihat bahwa corak pemikiran keislaman Ustaz Firanda itu radikal, dalam artian bukan hanya begitu dalam dan sampai pada posisi paling fundamental dalam Islam, melainkan juga memberi garis demarkasi untuk membedakan satu golongan dan golongan yang lain. Alhasil, Anda bisa melihat bagaimana dakwahnya justru tertolak di sebagian wilayah di Indonesia. Ini diakibatkan lantaran beliau sendiri kurang jeli melihat realitas keislaman masyarakat Indonesia yang melanggeng bersama kebudayaan setempat.

Pemaksaan satu model pandangan keislaman secara radikal laiknya apa yang disampaikan Ustaz Firanda bisa jadi sangat berbahaya dan, di titik tertentu, dapat melahirkan gesekan di antara umat seagama—sebagaimana itu hal ini pernah terjadi di India meski muncul dalam model yang berbeda. Kita telah melihat itu terjadi pada masyarakat Aceh yang berbondong-bondong menolak kedatangannya bulan lalu. Dan saat ini, riak-riak itu mulai mencari bentuknya di Gorontalo.

Sebuah Pertautan

Sebenarnya, dakwah-dakwah dengan para fundamentalis itu bukan sesuatu yang baru. Meminjam Fazlur Rahman dalam Islam (2017), mereka—yang kerap kali ditengarai sebagai Wahhabisme—justru lahir dari ketegangan dengan para kaum sufi di abad pertengahan. Ikhtisar keagamaan mereka juga tetap sama: menekankan aspek tekstual dalam Islam. Namun demikian, saat ini ia kemasan dakwah mereka hadir dengan corak yang baru. Dakwah-dakwah para fundamentalis dibungkus lewat kecanggihan teknologi dan informasi.

Meskipun kyai-kyai NU dan Muhammadiyah juga telah memanfaatkan media informasi sebagai alat untuk menyampaikan pesan, mereka masih ketinggalan beberapa langkah dengan para fundamentalis ini. Di beranda Facebook kita sejumlah cuplikan klip-klip mereka bertebaran. Youtube apalagi. Video-video mereka bahkan lebih banyak disubscribe dan ditonton jutaankali. Di Instagram, konten-konten Islam berhaluan fundamentalis juga lebih presisi. Dibandingkan NU dan Muhammadiyah yang kritis dan mengharuskan Anda menyaksikannya dengan penuh ketabahan, pesan-pesan Ustaz Firanda tepat mengena sampai di jantung pertahanan umat yang umumnya baru mengenal Islam, seperti keutamaan berhijrah, menikah usia muda, halal-haram dan apa-apa saja yang terkait dengan masalah kehidupan sehari-hari.

Selain itu, pergerakan mereka lebih tertata dan sistematik. Di level sekolah, rohis menang  saing dengan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Sedang di level perguruan tinggi, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) memenangi pertarungan wacana-wacana keislaman dibanding organisasi kemahasiswaan seperti Himpunan mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Semangat juang mereka juga tinggi. Para pembina tidak segan untuk menghubungi para siswa atau mahasiswa yang telah lama absen untuk didekati dan dibina kembali. Di Gorontalo, sungguh, jarang sekali saya simak cara-cara seperti ini muncul di dalam organisasi Islam Indonesia terbesar sekelas NU dan Muhammadiyah.

Di level pemerintahan, komunikasi antar lembaga organisasi mereka juga cukup kuat. Saya menyaksikan ekspansi mereka yang begitu baik. Grup-grup Whatsapp tidak berhenti menggema. Di dalamnya mereka membina silaturahmi, mengagendakan pertemuan rutin guna menyusun rencana-rencana besar. Asumsi saya, barangkali demikianlah cara agar pemerintah daerah Gorontalo didekati untuk mendukung tabligh akbar yang bakal dihadiri Ustaz Firanda tanggal 27 Juli 2019 nanti. Apalagi dalam leaflet itu, mereka juga berhasil menggaet aparat kepolisian untuk ikut bersama menyukseskan event itu.

Berebut Wacana

Sampai di sini, saya tidak sedang mempertanyakan eksistensi NU dan Muhammadiyah. Hanya saja saya mengira bahwa kedua organisasi ini, khususnya di Gorontalo, terlalu abai menyikapi kebangkitan fundamentalisme keagamaan dalam tubuh Islam. Seluruh tenaga diforsir untuk pertarungan politik. Sementara itu, realitas wacana keislaman di level masyarakat cenderung dibiarkan tanpa kontrol. Maka, jangan kaget saat ini wacana Islam tradisional dan Islam berkemajuan kurang lagi mendapat perhatian masyarakat kita. Sebagian dari golongan orang-orang tua saja yang mahfum dengan hal ini akan cenderung menolak, selebihnya, para milenial justru diambil masuk ke dalam pusaran para fundamentalis itu.

Dalam konteks lokal Gorontalo sendiri, jika kita lihat bersama, fundamentalisme keagamaan yang menyeruak akhir-akhir ini sebenarnya belum begitu padu. Mereka masih berusaha menggelontorkan wacana Islam yang kaku dan keras untuk dapat dipertukarkan dengan gagasan-gagasan Islam a la NU dan Muhammadiyah. Artinya, proses ini masih dalam tahapan tawar-menawar diskursus (offering discourse). Masih begitu mungkin NU membalasnya dengan narasi kontra (counter discourse). Dan akan sangat disayangkan jika tanggapan balik NU berhujung dengan pembubaran dan penolakan seperti di kota-kota lain.

Selain itu, dalam menyikapi hal serupa, Muhammadiyah juga secara kelembagaan memilih netral sembari berusaha menguatkan pondasi keagamaannya, dibanding secara terang-terangan melakukan kontra narasi layaknya NU. Bagi saya, ini juga menjadi salah satu pengaruh yang cukup kuat mengapa dakwah-dakwah beraliran salafi-wahabi bisa lolos di Gorontalo.

Selama ini, hanya GUSDURianlah yang saya kira, aktif menggelorakan narasi kritis dan terang untuk mendiskusikan kembali wacana-wacana Islam kontemporer. Tetapi tetap saja, ini tidak cukup. GUSDURian bukan komunitas yang bernaung di bawah koloni NU, melainkan ia didirikan sebagai sebuah gerakan yang menghimpun setiap orang yang meski berbeda identitas untuk duduk menyamakan persepsi dan membincang isu-isu hangat kedaerahan. Untuk itu, GUSDURian sendiri tidak memiliki kekuatan yang signifikan sebagaimana NU dan Muhammadiyah.

Barangkali, untuk kedua lembaga ini, pertama-tama harus melakukan kritik terhadap dirinya sendiri. Bahwa keduanya merupakan organisasi Islam terbesar yang tidak hanya muncul pada event-event politik, melainkan juga bertanggungjawab secara organik untuk mempertahankan identitas keislaman di Gorontalo. Kedua, penguatan kelembagaan antar NU dan Muhammadiyah juga harus ditinjau kembali; sejauh mana mereka terlibat aktif dalam pertarungan wacana-wacana kesilaman yang fundamental akhir-akhir ini. Ketiga, saya kira, komunikasi antar kedua lembaga ini juga harus intensif dan tidak lagi berkisar pada soal-soal khilafiyah, melainkan pada sebuah proses pemertahanan identitas keagamaan.

Akhirnya, kita butuh lebih dari sekadar eksistensi, melainkan juga pertanyaan-pertanyaan menohok soal pengaruh eksistensial. Keberadaan NU dan Muhammadiyah memang akan selalu ada. Namun pengaruh mereka suatu saat bisa saja dipertanyakan. Identitas Islam a la Gorontalo, sekali lagi bukan sesuatu yang hadir dalam ruang yang hampa. Sejarah panjang daerah Gorontalo adalah sebuah pertautan yang erat antara Islam dan pigmen-pigmen kebudayaan. Tentu akan sangat disayangkan jika kedatangan para fundamentalis justru menggerus nilai-nilai Islam kultural Gorontalo. Sabab, identitas bukan saja sesuatu yang membuat seseorang bertahan, namun juga memberi semacam tanda bahwa masyarakat Muslim Gorontalo diberi semacam privilese yang mengagumkan.(***)



No comments

Powered by Blogger.