Header Ads


Tentang Gorontalo: Kemunculan Islam Awal (Bag. I)

Foto : (hipwee.com)


Oleh : Tarmizi Abbas
Pengurus LAKPESDAM PCNU Kota Gorontalo, CRCS UGM

Saya kira desas-desus kedatangan Ustaz Firanda Andirja di Gorontalo 27 Juli 2019 sudah selesai. Tapi ternyata dugaan itu keliru. Diskursus ini terus bergelinding laiknya bola salju: membesar seiring waktu dan proses-proses kausal di sekitarnya. Untuk itu saya perlu bersyukur, banyak orang mempertanyakan identitas [keislaman] mereka di saat era gila yang penuh keterbukaan ini muncul dan menghantam-hantam.

Sayangnya, kebanyakan argumentasi yang timbul dari publik ini tidak terjadi begitu sehat. Tentu saya tidak mengharapkan apakah asumsi itu harus ilmiah atau menggunakan pembacaan yang ketat. Itu tugas para cendekiawan. Hanya saja, perlu diketahui bahwa kita sedang berdiri di tengah-tengah lingkungan di mana masyarakat memiliki akses untuk mengucap dan menghakimi siapa saja—bahkan dengan tutur yang kasar dan tercerabut dari prinsip-prinsip berbudaya.

Saya melihat caci maki dan hasut menyebar di kolom-kolom komentar tanpa kontrol. Dan anehnya, cara-cara seperti ini tidak hanya dilakukan pada pengguna fb yang dengan cepat terbakar amarah. Melainkan juga hinggap di kepala masyarakat kelas menengah terdidik. Tetapi jauh dari itu, saya kira, atmosfir seperti ini tetap layak untuk diapresiasi. Orang-orang menjadi lebih kritis untuk mempertanyakan realitas keislaman yang mereka genggam saat ini. Sesuatu yang menurut saya langka dijumpai.

Tolok tarik wacana keislaman di Gorontalo memang sedang memperlihatkan evolusinya yang begitu memikat—meski, harus saya akui, lebih banyak mengguncang-guncang. Mungkin lantaran narasi Islam tradisionalis ala NU dan Islam berkemajuan ala Muhammadiyah sedang diperhadapkan dengan fundamentalisme keagamaan ala Wahabisme. Dan meski masih pada tataran offering discourse (tawaran wacana), kita telah melihat kebangkitan fundamentalisme keagamaan yang ditawarkan Wahabisme berpengaruh cukup kuat—saya menyitir mengapa hal ini terjadi dalam dua tulisan saya sebelumnya.

Tentu keinginan saya menyitir diskursus ini lantaran ada semacam puzzle yang hilang dalam pembacaan realitas keislaman ala Wahabisme. Mereka memiliki pandangan bahwa Islam itu diikat oleh nilai-nilai normatif (al-Quran dan Hadist). Syahdan, tidak ada keraguan di sini. Namun di sisi lain, ada semacam ruang kosong yang tak diisi; sebuah upaya untuk menafikkan bahwa Islam adalah agama yang menyejarah. Artinya, salah satu “kehilangan” itu adalah pengakuan atas nilai-nilai keislaman yang terus-menerus berinteraksi dengan kebudayaan, bahasa, kebiasaan, dan aturan-aturan di dalam masyarakat.

Gorontalo juga merupakan satu dari banyaknya peradaban yang saya maksud; di mana pertautan antar adat istiadat dan Islam itu terjalin harmonis. Saya akan membagi tulisan ini menjadi tiga bagian penting. Tulisan yang tersaji dihadapan Anda saat ini adalah bagian awal: meneroka kemunculan Islam awal di Gorontalo. Upaya ini saya lakukan untuk menjelaskan secara detil bagaimana Islam di Gorontalo muncul dan memperoleh bentuknya hingga saat ini. Tetapi sebelum itu, izinkanlah saya untuk memberitahu Anda soal identitas kita, tau lo hulonthalo.

1971 dalam Ingatan Kita

Hampir setengah abad yang lalu di Limboto, Gorontalo, seminar adat besar nun menakjubkan pernah dihelat. 18-21 September 1971 adalah tiga hari bersejarah yang telah merangkul kembali ingatan masyarakat Gorontalo tentang jati diri mereka sendiri. Di dalam forum yang penuh keagungan itu, identitas ke-“Gorontalo”-an didedah. Antusiasme menggema di tempat itu. Tak ada satu orang pun yang bicara ketika kata “Gorontalo” sebagai sebuah peradaban itu dituturkan dengan penuh khidmat.

Syahdan, para cendekiawan Gorontalo yang berkonsentrasi dalam bidang agama, tradisi dan sejarah berkumpul untuk merayakan ingatan masa lalu. Nama-nama pembesar Islam di Gorontalo disebut satu-persatu. Guratan senyum seketika terpancar dari bibir tamu undangan saat nama-nama seperti Ilahudu, Polamolo, Amai, Matolodulakiki, Eato, Botutihe, Podungge dan sederet lainnya diucapkan dalam pembacaan naskah sejarah Gorontalo. Mereka merasa punya ikatan batin dengan nama orang-orang itu. Sebuah ikatan yang dijaga lalu diwariskan turun-temurun sampai saat ini.

Dan ketika penggalan kalimat “Adati hula-hula to syara’, syara hula-hula to Kuru’ani” dibacakan, seketika forum yang sebelumnya pekak dengan perdebatan terhenti (Niode & El Nino, 2003). Untuk beberapa waktu, kalimat itu seperti membuat pengaruh kosmik di tempat itu tak berfungsi. Seisi ruangan bungkam. Tak ada cecap dan getar. Kalimat itu semacam memiliki daya magis: membuat seluruh peserta seminar menutup mata sejenak dan membuat keadaan seketika hening.

Adati hula-hula to syara’, syara hula-hula to Kuru’ani sebagai sebuah falsafah adat daerah Gorontalo itu tidak pernah tertulis! Kalimat itu adalah tuntutan yang wajib ditaati sebagai fatwa para leluhur yang telah disempurnakan agama Islam!” Bak petir menggelegar di siang bolong, suara itu tiba-tiba memecah kebuntuan. Peserta seminar kaget bukan kepalang. Mereka, yang saat itu sedang tenggelam dalam sejarah dan mata rantai nasab para leluhur, dengan cepat diarak kembali menemui kenyataan: masa lampau telah usai. Mata forum tertuju pada Kuno Kaluku, seorang mantan Kepala Jawatan Penerangan Gorontalo yang membuka diskusi secara langsung. Dengan suaranya yang lantang, Kaluku menyatakan bahwa identitas masyarakat Gorontalo itu sejak lama tidak pernah tertulis, melainkan telah mendarah dan tertanam dalam daging masyarakat Gorontalo (Amin, 2012)

Di antara para baate, masyarakat, dan para elit pemerintah yang hadir, Kaluku memaparkan argumentasinya dengan begitu rinci, jernih dan sistematis. Tapi di saat bersamaan, Kaluku sebenarnya menyiratkan kecemasan. Dahinya berkerut. Matanya berkaca-kaca. Ia, hampir setengah abad yang lalu, merasa seakan prinsip ini telah tercerabut dari dalam jati diri masyarakat Gorontalo disebabkan penjajahan. “Kolonialisme,” kata Kaluku diakhir-akhir kesimpulan pembahasannya “menjadi salah satu faktor penting yang yang merombak tatanan adat ini!”

Suara Kaluku lalu diteruskan begawan Prof. Ibrahim Polontalo. Beliau mengungkapkan bahwa perubahan adat dan zaman itu pasti terjadi. Polontalo mencoba menggambarkan dinamisasi ini dalam satu bait tuja’i Gorontalo “Butaiyo modaa, pembango lumalilo” ternyata dapat diparalelkan dengan salah satu pepatah Minangkabau, “sakali aia gadang, sakali tapia berubah” (kalau sungai banjir, tebing berpindah). Sejurus dengan itu, pernyataan Kaluku juga diperkaya oleh Agiorno H Dungga, SH. Ia menerangkan nilai filosofis yang melekat pada pada prinsip adat masyarakat Gorontalo dengan menyitir “alam semesta” yang termanifestasikan ke dalam empat anasir “api, air, angin, tanah” sebagai elemen yang menyempurnakan budi pekerti, kemauan dan spirit hidup masyarakat Gorontalo (Amin, 2012).

Apa yang dipaparkan oleh keseluruhan panelis dalam seminar ini tentu saja berarti, namun hampir bisa dipastikan, tidak ada yang bisa menampik pernyataan-pernyataan Kuno Kaluku yang mengguncang-guncang itu. Peristiwa ini terekam dengan cermat dalam disertasi S.R Nur “Beberapa Aspek Hukum Adat Tata Negara Kerajaan Gorontalo pada Masa Eato (1967-1969)”. Dengan begitu rapi, maha guru hukum adat ini menulis “ketetapan ini [identitas ke-Gorontalo-an] adalah dasar falsafah dari kehidupan masyarakat Gorontalo yang “tidak bisa dirubah-rubah”.

Akhir dari seminar itu tidak hanya menghasilkan sebuah dokumen historis setebal 300 halaman (Amin, 2012). “Di dalamnya,” ujar Basri Amin “pernah menjadi saksi salah satu tonggak literasi dan pencapaian peradaban Gorontalo”. Itu sebabnya, seusai acara, komisi-komisi perumus hasil akhir dibentuk dengan harapan bahwa penelitian lebih lanjut dapat dilakukan—termasuk masa depan identitas kultural kita. Seminar itu bisa jadi adalah pembuktian. Namun di dalamnya, menurut saya, terselip cita-cita yang jauh lebih besar untuk menjaga dengan sepenuh hati identitas masyarakat Gorontalo yang menyejarah itu.

Mengapa demikian? Saya melihat bahwa identitas adalah satu-satunya yang tersisa dari era yang serba “melampaui” ini. Ketika dunia kita dihantarkan menuju sebuah tatanan yang meruntuhkan segenap “tanda pengenal” menuju “masyarakat global” tanpa sekat dan batas, identitas adalah hal sebuah anugerah. Ada perasaan bangga ketika Anda berucap “watiya tau lo hulondalo” kepada orang lain. Sebab di dalamnya tidak hanya ada ingatan teritorial tempat di mana Anda tumbuh dan berkembang. Identitas, agaknya lebih dari itu. Ia menyimpan sejarah, kisah hidup, centang perenang, tingkah laku, aturan-aturan dan kebudayaan yang memberi kekayaan individual dan spirit kolektif.

Kemunculan Islam Awal: Amai dan Strategi Islamisasi

Sekarang, jika Anda adalah masyarakat Gorontalo, bayangkan saat ini Anda sedang berada di tengah-tengah situasi abad pertengahan. Ketika membuka mata saat fajar menyingsing, terbentang jutaan tajuk pohon, danau, sungai, dan kicau burung. Ketika membuka pintu rumah, Anda menyaksikan ada puluhan rumah adat yang berdiri di atas tanah Hulonthalo. Di masa itu, Anda sedang mendapati masyarakat yang ramah dan berpakaian sederhana, begitu bermartabat dan menjunjung tinggi persaudaraan.

Di sekitar tahun 1503, Anda bukanlah warga negara Indonesia, melainkan sebuah masyarakat federasi di bawah komando seorang raja. Hidup Anda tidak diikat oleh spirit modernisme yang lepas kendali, melainkan dibalut oleh ikatan kesukuan yang begitu kuat. Amai adalah pemimpin tertinggi saat itu. Ia adalah nasab keturunan Olongia to Tilayo (Raja Hulu), Detu, yang memerintah kerajaan Gorontalo pada tahun 1490 (Niode & El Nino, 2003).

Sebagai keturunan ningrat, Amai tentu tahu bahwa tahun-tahun sebelum dirinya dinobatkan sebagai seorang raja, Gorontalo tengah berada dalam perang yang berkecamuk. Sebuah perang yang membikin hubungan antar Kerajaan Limboto dan Kerajaan Gorontalo tidak lagi harmonis. Konon, kronik ini terjadi berkat tuduhan dan penghinaan yang dilancarkan pada Polamolo, seorang raja (Olongia Mobalanga) yang diberi mandat memerintah kedua teritori ini dalam rentang waktu 11 tahun (1470-1481).

Namun demikian, tidak ada waktu bagi Amai untuk merintih di bawah tekanan nostalgia. Semua bayangan masa lalu dihempaskannya. Sabab baginya, tanggung jawab sebagai seorang pemimpin untuk keadilan dan martabat masyarakat Gorontalo jauh lebih besar. Maka dimulailah ekspansi besar-besaran. Armada perang disiapkan. Eksodus dilakukan. Alhasil, sebagian besar wilayah Teluk Tomini resmi menjadi milik Kerajaan Gorontalo (Amin, 2012).

Tetapi barangkali Amai tidak hanya berhasil meneggemakan kekuasaannya ke Tomini. Ia, Amai, juga menemukan cinta. Adalah Owutango, seorang putri Kerajaan Palasa yang membuatnya jatuh cinta waktu itu. Keanggunan Owutango memaksa Amai untuk datang ke Palasa. Bak pujangga, Amai dituntun cintanya sendiri, melepaskan segala keruwetan-keruwetan yang membakar pikirannya pasca peperangan di Teluk Tomini. Kedatangan Amai ke kediaman Owutango tak sia-sia. Pinangannya diterima. Namun dengan satu syarat: anak keturunan dan seluruh masyarakat Gorontalo harus bersyahadat atas nama Islam—mengagungkan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Satu dan Muhammad adalah utusan Allah.

Syahdan, Amai menerima seluruh syarat yang ditentukan Owutango. Di tahun 1525, ia lalu membawa Owutango ke Gorontalo. Mereka berdua menyusuri alam Gorontalo yang dipenuhi ragam keindahan. Bersama Amai, Owutango juga mengenal lingkup masyarakat yang diikat nilai adat di setiap sendi hidupnya. Di dalam perjalanan itu, didampingi oleh raja-raja kecil dari Palasa dan Gorontalo, Amai dan Owutango singgah di Hunto (Biawu, Kota Gorontalo. Di tempat ini mereka membangun mesjid pertama di Gorontalo, Mesjid Hunto (Niode & El Nino, 2003)

Tapi apakah Anda, yang sedari tadi membayangkan kisah ini, merasa bahwa kedatangan Islam serta merta mengganti kebudayaan Gorontalo? Jika iya, tentu Anda kolot sekali! Cinta menuntun Amai menemukan Islam. Maka dengan cintalah juga syiar Islam digemakan pertama kali di Gorontalo. Tanpa kekerasan, tanpa pertumpahan darah, Amai mulai mendakwahkan Islam ke seluruh kehidupan masyarakat Gorontalo. Amai mempertemukan Islam dengan aturan dan etika masyarakat setempat yang berbudaya. Lembaga-lembaga pendidikan, hukum keluarga, seni dan budaya dimanfaatkannya dengan serius untuk mensosialisasikan Islam (Amin, 2012).

Di kalangan generasi muda, Islam diperkenalkan lewat tarian, antara lain tidi lo polopalo yang mengandung ajaran bahwa manusia sama derajatnya di hadapan Tuhan Yang Maha Esa—tak kenal ras, bangsa, golongan, kaum jelata atau bangsawan. Dengan Islam dan akar kebudayaan Gorontalo yang kuat, sebuah keteguhan menghampiri Amai untuk menyatakan dengan lantang: yang membedakan manusia hanya pada keluhuran akhlak! (Niode & Elnino, 2003).

Namun, salah satu proyek terbesar yang pernah dilakukan Amai adalah membuka ruang dialogis seluas-luasnya antara Islam dan adat istiadat setempat (Nur, 1979). Dikumpulkanlah para cendekiawan, raja-raja kecil, ketua-ketua adat (Baate) dalam forum agung itu. Perdebatan terjadi cukup panjang. Gagasan saling silang. Tetapi kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi. Di masa ini, sebuah pencapaian luar biasa terjadi. “Saraa topa-topango to adati” (Syarak yang bertumpu pada adat) adalah sintesis kultural yang pertama kali dirumuskan—sebuah batu pertama pertautan antara Islam dan kebudayaan Gorontalo (Nur, 1979). Sejurus dengan itu, Amai juga mengesahkan sebanyak 185 aturan adat (Giu, 1971). Prinsip-prinsip adat itu kemudian menjadi pegangan utama dalam menjalankan pemerintahan kerajaan serta hubungannya dengan masyarakat yang berpola kehidupan islami (Hasanuddin & Amin, 2012). Alhasil, Islam diterima oleh hampir seluruh masyarakat Gorontalo.

Pelajaran Penting

Sejarah panjang perjalanan dan pencarian identitas Islam masyarakat Gorontalo tampil  dengan kerekatan-kerekatan itu. Perjumpaan antara Islam dan kebudayaan tidak terjadi dalam pola yang akulturatif, dalam arti menindih satu variabel di atas variabel yang lain. Di bawah kekuasaan Amai, Islam sebagai agama baru tidak termarjinalkan. Begitu pula dengan kebudayaan asli masyarakat Gorontalo yang tidak serta merta ditinggalkan ketika Islam coba diperkenalkan ke dalam realitas sosiologis mereka.

Anda bisa membaca ragam sejarah tentang masuknya Islam ke wilayah-wilayah Eropa, misalnya penaklukan Andalusia oleh Islam lewat Thariq bin Ziad (711H) dan Bizantium Romawi yang dilakukan dengan operasi militer. Namun dengan membaca Islam di Gorontalo, Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda sama sekali. Cinta membawa Islam tumbuh dan berkembang di Gorontalo. Politik lalu meneguhkannya, membuat kanal-kalan dialog untuk memperjumpakan kebudayaan dan nilai-nilai keislaman.

Inilah yang saya maksud—dalam studi Islam—bahwa Islam tidak hanya dapat dilihat dalam pendekatan normatif, melainkan juga secara historis (Abdullah, 1998). Di dalam ruang-ruang sejarah, Anda bisa melihat Islam justru hidup berdamping dengan cara pandang dan kebudayaan setempat yang, pada akhirnya menciptakan sebuah ekspresi keberagamaan yang kental dengan budaya.

Kebudayaan yang sedang Anda saksikan saat ini, sebenarnya adalah ungkapan filosofis terhadap Islam lewat tarianmi’raji, tuja’i—yang keseluruhannya memuat ungkapan pada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT dan Nabi Muhammad. Di dalamnya juga ada ingatan, yang bisa jadi akan menghubungkan Anda dengan nasab silam Anda yang bahu membahu merumuskan falsafah adat Gorontalo—sebagaimana pernah dilakukan generasi 70-an dengan hening dan begitu khusyuk dalam seminar adat di tahun 1971.

Namun sayang, fundamentalisme keagamaan yang datang hari ini begitu teguh ingin menghapuskannya. Padahal, kita cukup tahu bahwa identitas adalah satu-satunya barang berharga yang tersisa saat ini. Di antara kebudayaan Islam dan Islam (sebagai norma yang disusun atas al-Quran dan Hadist) memang memiliki semacam titik singgung.

Namun demikian, kita terlalu menyempitkan pandangan bahwa keduanya tidak bisa melanggeng bersama. Oleh karenanya, meminjam Nurcholis Madjid, diperlukan semacam ruang dilektika di antara keduanya untuk dapat saling bersinergi.

Kita telah menyaksikan ruang itu dilakukan Amai, bahkan sebelum Nurcholis Madjid membahasnya. Itu berarti, modal sejarah yang kita genggam cukup kuat dalam memberi contoh bahwa Islam dan kebudayaan sebenarnya dapat tumbuh dan hidup, serta memperkuat realitas sosial masyarakat Gorontalo. Saya membawa kita semua menyusuri kisah-kisah ini agar dapat memetik pelajaran bahwa semua dapat diselesaikan dengan dialog. Ini juga sebuah pembuktian bahwa politik itu tidak selamanya kotor. Dengan cinta, politik justru menghasilkan tata nilai rabbaniyah yang dengannya identitas masyarakat terbentuk dan diwarisi turun temurun.

Dan, jika Anda adalah orang yang berbangga dengan itu semua, maka sejenak gunakanlah waktu Anda untuk merenung. Dalam keheningan, masukilah ruang-ruang sejarah itu dengan khidmat. Temukanlah bahwa diri Anda, secara utuh, adalah bagian dari mozaik sejarah Gorontalo yang indah, di mana Islam dan kebudayaan pernah satu dan tidak terberai.[***]





No comments

Powered by Blogger.