Header Ads


Ngaji Online di tengah Pandemi, PMII Bahas Tantangan Kaderisasi


Suasana Ngaji Online PMII dalam rangka Hari Lahir ke 60 tahun ditepian Danau Limboto (17 April 2020)

NUlondalo.Online, Kota Gorontalo - Pengurus Cabang PMII Kota Gorontalo tak kehilangan kreativitas dalam memperingati Hari Lahirnya saat Indonesia sedang hadapi pandemi corona virus (COVID-19). Gencarnya pemerintah melarang pertemuan dan kerumunan untuk mencegah penularan Covid-19, maka PMII mengelar Ngaji Online.

Refleksi Harlah PMII : Tantangan Kaderisasi di Tengah Pandemi COVID-19 adalah tema yang dikemas dengan melihat situasi, baik secara eksternal maupun internal organisasi yang dijuluki biru kuning ini.

Hadir sebagai narasumber, Sahabat Samsi Pomalingo (Ketua IKA PMII Provinsi Gorontalo) dan Abd Kadir Lawero selaku Mabincab PC PMII Kota Gorontalo

Pada diskusi tersebut, Samsi Pomalingo memaparkan bahwa masyarakat yang baik adalah masyarakat yang mampu memahami protokol kesehatan dalam menghadapi pandemi corona virus (covid-I9). Salah satu protokol kesehatan yang dimaksud, kata Samsi adalah penerapan Social Distancing  (pembatasan sosial) guna pencegahan  penularan Covid-I9.

“Hal ini berlaku kepada siapa saja, baik perempuan, juga laki-laki. Semua yang disebut manusia,” kata Samsi.

Dalam  refleksi dari 60 tahun berdirinya PMII, Samsi mengatakan bahwa momentum ini merupakan  energi bagi warga pergerakan untuk merefleksikan seperti apa peran dalam rangka mengawal kaderisasi di internal PMII.

Menurutnya, Kaderisasi sangat penting dalam setiap organisasi. Baik organisasi paguyuban dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Dalam organisasi  ada yang disebut dengan perbedaan usia yang menunjukan senior dan junior.

“Untuk berjalannya organisasi, maka kaderisasi itu penting,” ucap Samsi.

Lebih lanjut, Wakil Sekretaris PCNU Kabupaten Gorontalo ini mengatakan bahwa selaku aktivis, yang terus berkarya, PMII telah memasuki usia 60 tahun terus memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara, terutama masyarakat yang tengah mengalami kesulitan.


“Dalam refleksi tersebut, PMII harus mengevaluasi sistem kaderisasi dan program yang dijalankan, sehingga melahirkan kader yang qualified (berkualitas),” paparnya

Kualitas tersebut, kata Samsi tidak hanya dari segi keagamaannya, tetapi juga pengetahuan yang lain seperti sosial, politik, yang semua itu penting untuk dimiliki. Olehnya, di usia 60 tahun ini, harus merefleksi kaderisasi selama ini yang dilakukan. Apa saja sumbangsih PMII dengan kaderisasi selama ini?

“Kita tidak perlu banyak kader PMII, yang penting adalah kualitas. Ini yang jarang kita lihat,” tegasnya.

Sistim kaderisasi mestinya dibangun pada penguatan intelektual, ideologi dan Nilai Dasar Pergerakan. Para kader PMII harus memilih dan menentukan arah paradigma gerakan.

“Saat ini PMII diperhadapkan dengan ujian besar, yakni wakil presiden adalah orang NU. Apakah PMII berani mengkritik jika ada kebijakan yang tidak pro rakyat? atau ada kritisisme yang tinggi sehingga sekalipun orang NU-PMII tetap kritis dengan sistem kaderisasi yang ketat," paparnya

Sementara  Abdul Kadir Lawero selaku narasumber kedua mangatakan, usia 60 tahun PMII ini diibaratkan manusia, usianya sudah tua. Dari sisi materi, PMII mestinya telah menyadari usianya yang telah lanjut untuk melakukan perbaikan-perbaikan secara internal. Namun belakangan, PMII masih terjebak konfik internal. Sehingga terkesan sulit untuk menghindar.

“PMII hari ini, secara lokal, belum mampu melakukan apa-apa. Ia hanya terus berharap sehingga belum mampu secara mandiri", katanya

Menurutnya, kaderisasi di PMII kehilangan landasan filosofis yakni memaknai yang ia sebut sebagai khasanah pergerakan, khasanah kemahasiswaan, keislaman dan ke Indonesiaan.

Selaku Mabincab, Kadir berharap, momentum ini  menjadi dasar evaluas untu melihat sejauh mana \ dilakukan anggota maupun kader PMII di akar rumput, tentang tema-tema penguatan gerakan pemikiran, spirit keislaman dan ke Indonesiaan.

Menurutnya, perlu disadari dan dievaluasi  PMII bahwa ia lahir dari rahim NU (Nahdlatul Ulama). Selama ini, PMII tidak pernah bergerak berlandaskan pada spektrum pengetahuan bahwa, PMII itu sebagai santri. Sudah selayaknya PMII itu mengikuti para ulama NU.

"Saat ini PMII sangat jauh dari Ulama. Tak ada program yang diarahkan oleh PMII untuk bisa lebih dekat dengan Ulama Gorontalo. Karena hal tersebut merupakan bagian dari nilai keislaman yang dimiliki PMII,"kata pengajar di Ponpes Al Khairaat Kota Gorontalo ini

“Dari Mahbub Djunaidi, Khalid Mawardi semua adalah orang yang pernah mondok,” tambah kadir

Lebih lanjut,  kata Wakil Ketua Lakpesdam NU Kota Gorontalo ini menegaskan, PMII bukanlah organisasi politik. Dalam PMII ada tiga landasan paradigma : Paradigma arus balik masyarakat pinggiran, Kritis transformatif dan menggiring arus berbasis realita. Kelemahan di PMII saat ini belum memahami ketiga paradigma itu.

Kadir berharap dalam rangka momentum harlah ini,  PMII mampu memperkuat solidaritas dari para anggota maupun kader.

Diskusi yang digelar ditepian Danau Limboto itu di tonton oleh ribuan orang secara Live Straeaming di Fanpage PMII Kota Gorontalo, Jumat (I7 April 2020). (FH-Redaksi)



No comments

Powered by Blogger.