Header Ads


Selamat 'Hilang' Tahun PMII ke-60

Galang Parenrengi (foto istimewa)

Penulis: Galang Parenrengi (Ketua Komisariat PMII UNG)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir dari sejarah yang hebat. Atribut- atribut yang dikenakan memiliki sejarah dan nilai tersendiri. Misalnya warna Biru, melambang kedalaman ilmu pengetahuan. Nilai ini tergambarkan pada setiap kader PMII. Warna kuning dalam organisasi besutan Kyai Mahbub Djunaidi ini melambangkan kebesaran dan semangat menuju masa depan. Sementara biru muda, melambangkan ketinggian budi pekerti dan ketaqwaan.

Nilai-nilai ini sepertinya telah hilang dari ruh PMII. Kini, PMII kehilangan nalar kritisnya. Ia terjebak pada pola politik praktis, baik di tingkat kampus, daerah maupun Nasional. Lemah berbuat sesuatu yang fundamental. Tak ada yang bisa dirasakan oleh para anggota dan arus bawah kaum miskin kota.

Ketika diperhadapkan dengan bagaimana mengelola sistim kaderisasi, PMII 'gagap' mengelolanya. Daya kritis 'melemah' ketika diperhadapkan dengan kuasa-politik. Apalangi dihadapkan dengan para senior 'bajingan' pencari untung. Terus mengkapitalisasi kader untuk kepentingan pribadi mereka. Alhasil, tak ada pula yang bisa diberi untuk organisasi dimana mereka berproses.

Anggota maupun kader 'gagap' menerjemahkan setiap produk-produk kebijakan, baik kebijakan kampus, maupun di luar kampus. Ketika ada banyak produk kebijakan yang tidak berpihak bagi kebanyakan orang, PMII terlihat 'hilang' momentum untuk mengkritisi semua itu.

Menjadi pertanyaan, ada apa dengan eksistensi PMII saat ini? Sebagai kader yang bermanhaj Ahlussunnah wal Jamaah An-nahdliyah, serta aplikatif nilai-nilai dasar pergerakan, sepertinya 'hilang' dan tak tentu arah.

Ibarat pesawat, PMII terlalu 'banyak pilot', namun miskin gagasan. Belum lagi  konflik internal yang tak kunjung ada habisnya. Sementara para senior, sibuk memperkuat tempat duduk untuk 'kebutuhan' jangka panjangnya. Bisa jadi, mereka sedang hilang ingatan tentang PMII.

Sebagai sebuah organisasi, PMII perlu fokus pada tiga hal. Pertama, kaderisasi berbasis lokal. Kedua, internalisasi ideologi dan di nilai-nilai. Ketiga, gerakan parstipatory yang benar-benar berorentasi kepada kemaslahatan ummat. Tiga komponen segera dikolaborasi dengan baik untuk tujuan yang lebih kreatif dan inovatif, baik di internal maupun eksternal organisasi.  Jika hal ini tidak segera dilakukan, maka PMII akan terus terjebak pada wilayah politik praktis.

Di era 4.0 (four point zero) seperti sekarang ini, kader PMII harus sadar bahwa tantangan dalam kaderisasi jauh lebih besar serta sulit dibandingkan sebelumnya. Kaderisasi seharusnya memfokuskan memperbaiki sektor-sektor yang terdapat pada kaderisasi itu sendiri. Seperti ideologisasi religiositas yang berpatokan pada Manhaj al-fikr PMII.

Selain itu, untuk membangun organisasi gerakan seperti sebesar PMII, yang nyata guna mengembangkan aplikatif dari ideologi-religius, kreatif dan inovatif, terutama di lingkungan sekitar seperti, kampus, fakultas, jurusan serta keluarga, terus dikembangkan guna keberlangsungan PMII kedepan. Kenyataan saat ini, ada banyak kader PMII 'sok 'pener'. Tapi abai merespon radikalisme, isu khilafah dan intoleransi.

Jika PMII terus saja seperti ini, tak ada lagi kader yang punya kapasitas mumpuni. Baik di level gagasan, maupun gerakan. PMII perlu cerdik pandai melihat potensi yang dimiliki setiap kader, lalu diterjemahkan dengan mudah. Sehingga, PMII jelas secara eksistensial dan kelak akan menghasilkan kader yang berpaham Aswaja Annahdliyah, berjiwa nasionalis, patuh pada nilai dasar pergerakan untuk dijadikan laku hidup sehari-sehari.

PMII segera melahirkan dan mencetak kader yang punya kapasitas intelektual dipelbagi sektor nonpolitik, dalam upaya kontribusi untuk kemajuan organisasi khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Tidak dapat dipungkiri, PMII sedang dalam fase krisis ideologi dan intelektual. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya kader yang telah beralih ideologi, paradigma, serta nilai dasar pergerakan. Padahal, dalam kaderisasi, PMII ditanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah. Namun hal tersebut tak lagi menjadi titik pijak PMII saat ini.

Sejatinya, PMII hari ini Hilang ruhnya. Hawa ke PMII an 'kurang' terasa didada dan pikiran. Ada banyak senior PMII, namun 'minim' kapasitas Intelektual. Kurang peka dan emosian. Sehingga untuk dijadikan panutanpun, tak pantas. Lalu apa yang perlu kita sandarkan kepada mereka.

Sepertinya, nilai-nilai PMII hilang dan hanya ada dalam ulasan-ulasan buku, produk-produk hukum PMII saja. Nilai-nilai itu tak mampu lagi diterjemahkan secara ideal, baik anggota, kader maupun mereka yang telah paripurna dalam PMII.

Olehnya, di hari yang bersejarah ini, saya hanya dapat mengucapakan 'Selamat 'Hilang' Tahun PMII ke-60', tahun ini kita diperhadapkan kenyataan bahwa masih banyak pekerjaan rumah. Dan mestinya PMII sadar akan tradisinya, lalu digerakkan  dan di bumikan kembali demi keberlangsungan hidup organisasi dan kader PMII (***)


No comments

Powered by Blogger.