Header Ads


Refleksi 52 Tahun Haul Guru Tua (Catatan Abna’ Alkhariaat)

Foto Istimewa (sulawesi.com)


Oleh : Man Muhammad

Habib Idrus bin Salim Aljufri, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Tua, pendiri Pondok Pesantren Alkhairaat,  dari jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada Abna’ Alkhairaat dalam gubahan syairnya;

“Manusia berbeda-beda dan watak mereka pun beragam
sekalipun yang rendah budi meninggalkan Alkhairaat
segelintir orang telah menyusu (menimbah ilmu) dari Alkhairaat
lalu menyatakan permusuhan sesudah memperoleh ilmunya
celakalah bagi mereka yang mengubah langkah-langkahnya dalam perjalanan
dan menukarkan agama dengan dunia, sungguh mereka melampaui batas
apakah mereka berdalih inilah kecintaan
tidak, mereka sungguh telah berbohong tentang apa yang mereka katakan
tidak mengherankan maka sejarahlah yang mengingatkan kepada kita
sesungguhnya orang yang jahat bila dihormati,
mereka malah mengkhianati”

Sebagai orang yang selalu meneguk air kehidupan di Alkhairaat, ‘manhaj Alkhairaat’ tentunya tidak akan pernah lepas dan sangat berpengaruh di setiap lika-liku dan cara pandang saya –Abna’ Alkhairaat secara umum— terhadap pelbagai permasalahan (agama). Perihal akidah, menjadikan Asya’irah sebagai pilihan. Masalah fikih, madzhab Syafi’I menjadi rujukan utama –tanpa menafikkan tiga madzhab yang lainnya—, dan pilihan thariqah berkiblat kepada thariqah alawiyyah. Tiga hal ini –akidah, madzhab, dan thariqah—yang kemudian jadi hal paling utama dan pondasi paling dasar bagi setiap kita yang mengaku pecinta Habib Idrus. Pecinta Alkhairaat.

Bertolak dari tiga hal itu –akidah, madzhab, dan thariqah—, Habib Idrus pun menjadikan arah perjuangan Pondok Pesantren Alkhairaat yang didirikannya pada bulan Muharram 1930 M, fokus terhadap dunia pendidikan sebagai jalan dakwahnya. Sebab menurut habib Idrus, tuntutan pendidikan dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang luas –ilmu pengetahuan agama, khususnya— dapat menampilkan ajaran Islam secara rasional. Yang sesuai dengan zaman, dengan kemanusiaan. Artinya, dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang luas, kita dapat menampilkan ajaran Islam dengan citranya sebagaimana Islam diturunkan. Yang shalih fi kulli zaman wa makan.

Pandangan-pandangan keagamaan yang berlandaskan pengetahuan berbasis agama seperti ini, atau yang kita sebut dengan fikih Islam menurut Dr. Faruq Abu Zaid, tidak lain merupakan sebuah refleksi dari perkembangan kehidupan sosial yang terjadi dalam masyarakat kita. Perkembangan ini dalam pandangan fikih bisa berubah, berkembang, dan berganti, sejalan dengan situasi zaman dan konteks sosialnya masing-masing. 

Dalam hal ini kemudian para ulama fikih bersepakat bahwa, hukum-hukum yang berdiri di atas landasan yang berubah dan berkembang, niscaya akan berubah dan berkembang juga sesuai dengan perkembangan zaman di saat itu. Yang dengan itu melahirkan sebuah kaidah hukum “La yunkaru taghayyur al ahkam bi taghayyur al azminah wal amkinah wal ahwal” (perubahan hukum terjadi karena perubahan zaman, lokalitas, dan situasi sosial). Simpelnya, kita kenal bahwa dalam madzhab Syafi’I ada Qaul Qadim (saat Imam Syafi’I bermukim di Irak) dan ada Qaul Jadid (ketika Imam Syafi’I berpindah ke Mesir).

Sebagaimana Pondok Pesantren dalam jejak historisnya merupakan jenis pendidikan murni berwatak pribumi dan bernuansa agamis yang bercorak asli Indonesia, maka begitu pula dengan Pondok Pesantren Alkhairaat yang memiliki lokus di dunia pendidikan sebagai jalan juang mendakwahkan Islam. Tentu tidak melepaskan diri dari perkembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan perubahan zaman. Baik itu prubahan dan perkembangan yang bernuansa internasional, nasional, bahkan lokal. Dari sejak masa penentangan terhadap penjajahan dan perebutan kemerdekaan Indonesia, sampai hari ini di mana saatnya mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan NKRI, Alkhairaat selalu ikut serta.

Hari Kamis kemarin, tepatnya tanggal 12 Syawal 1441 H – 4 Juni 2020 M, adalah Haul Habib Idrus bin Salim Aljufri yang ke-52. Biasanya dua-tiga hari menjelang acara Haul Habib Idrus, para Abna Alkhairaat sudah menuju ke Palu. Ribuan orang akan kita dapati memadati pelataran masjid Alkhairaat untuk sama-sama melantunkan tahlil dan mendengarkan pembacaan manaqib (biografi perjuangan kebajikan) Habib Idrus bin Salim Aljufri.

Tetapi, di tahun ini semuanya berbeda. Di tengah wabah pandemi yang menyerang hampir di seantero penjuru Dunia –termasuk Indonesia—, Ketua Utama Alkhairaat, Habib Saqqaf bin Muhammad bin Idrus bin Salim Aljufri, mengultimatumkan kepada seluruh Keluarga Besar Alkhairaat untuk menyelenggarakan Haul Habib Idrus di kediaman masing-masing. Hal ini tentunya sebagai upaya dan kontribusi Alkhairaat untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Bagi Abna Alkhairaat, sudah pasti ada kesedihan tersendiri dengan ditiadakannya Haul Habib Idrus secara berjama’ah di tahun ini. Tetapi, hal itu kemudian sedikit terobati dengan adanya tausyiah dan nasihat-nasihat agama sekaligus pengisahan kembali jejak perjuangan Habib Idrus semasa hidup oleh Habib Saqqaf yang ditayangkan secara online di media-media sosial.

Ada beberapa poin penting yang tercatat oleh saya dalam tausiyah serta amanat yang disampaikan oleh Habib Saqqaf kemarin yang berkaitan dengan Habib Idrus dan pendidikan di  Alkhairaat pada masa-masa awal pendiriannya hingga wafatnya Habib Idrus di tahun 1969 M.

Pertama, Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, banyak sekali organisasi-organisasi yang muncul di bumi pertiwi ini yang ikut melibatkan diri dalam percaturan politik bangsa Indonesia. Salah satunya adalah Negara Islam Indonesia (NII) atau lebih dikenal dengan sebutan DI/TII. Didirikan oleh seorang politisi muslim, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Tasikmalaya, Jawa Barat. Tujuan organisasi ini adalah pembentukan negara Islam di Indonesia. Pemberontakan-pemberontakan mereka terjadi di mana-mana, dan lambat laun menyebar luas hingga ke pulau Sulawesi, khususnya di Palu, Sulawesi Tengah, di mana Alkhairaat berpusat.

Selain NII atau DI/TII, ada juga Perdjuangan Rakjat Semesta (Permesta) yang didirikan oleh Letkol Ventje Sumual, tanggal 2 Maret tahun 1957 M, berpusat di Makassar yang waktu itu menjadi ibu kota Sulawesi. Sama halnya dengan NII atau DI/TII, tujuan politis dari Permesta lebih menitikberatkan terhadap kuota pembagian kekuatan politik skala regional yang kemudian berefek terjadinya konflik disertai pemberontak bersenjata oleh Permesta karena menyoal tuntutan untuk memisahkan diri dari negara Indonesia.

Pada masa-masa ini –menurut penuturan Habib Saqqaf— Alkhairaat menentang keberadaan dua organisasi ini. Sebab menurut Habib Idrus kehadiran DI/TII dan Permesta mencoba menciptakan kekacauan atas kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung. Suatu ketika, perwakilan dari dua kelompok ini mendatangi Habib Idrus –tentunya kedatangan mereka dengan waktu yang berbeda— dan meminta persetujuan Habib Idrus atas gerakan mereka. Di waktu yang lain, Habib Idrus juga pernah didatangi dua orang perwakilan dari masyarakat. Satu mewakili golongan tua, dan yang satunya lagi mewakili golongan muda. Perwakilan dari masyarakat ini datang untuk meminta fatwa kepada Habib Idrus karena semangat keagamaan dan kerakyatan di kalangan masyarakat yang telah ‘terhipnotis’ oleh orasi-orasi yang dihadirkan oleh DI/TII dan Permesta.

Habib Idrus tidak banyak berkomentar, beliau hanya menyatakan dengan penuh ketegasan; “Ingin selamat, ikut Soekarno! Ingin selamat, jangan keluar (berpisah) dari Indonesia! Ingin selamat, jangan buat kacau di Indonesia!

Penegasan dari Habib Idrus ini kemudian terekam jelas dalam syairnya yang sampai hari ini masih menjadi pegangan Abna Alkhairaat;

“Tiap bangsa memiliki lambang kemuliaan
dan lambang kemulian kita (Indonesia) adalah Sang Merah Putih

Wahai Soekarno! Jadikan hidup kami bahagia
dengan obatmu hilang sudah sakit kami

Wahai Presiden yang penuh berkah untuk kami
engkau hari ini laksana kimia bagi rakyat Indonesia

Bergandengan tangalah menuju ke depan untuk kemuliaan
tujuh puluh juta jiwa dan para pemimpin akan bersamamu
pasti engkau jumpai kepercayaan dari rakyat

Makmurkanlah! Untuk negara Indonesia
pembangunan spritual dan material
buktikan kepada rakyat bahwa kamu mampu

Semoga Allah membantu kekuasaanmu
dan mencegahmu dari tiap kejahatan
yang direncanakan oleh para musuh”

Kedua, perihal masalah pendidikan di Alkhairaat yang menjadi sorotan Habib Saqqaf  dalam tausiyahnya kemarin, 4 Juni 2020. Alkhairaat sebagai Pondok Pesantren yang memiliki 1500 cabang yang tersebar di Indonesia Timur, hari ini seakan ‘alpa’ dalam memperhatikan Alkhairaat. Banyak sekali yang termasuk bagian dari Alkhairaat tetapi ‘telah keluar’ dari metode pembelajaran yang diajarkan oleh Habib Idrus. Perubahan-perubahan itu perlu sesuai dengan perkembangan zaman. Tetapi bukan berarti meninggalkan apa yang sudah menjadi pondasi dasar di Alkhairaat. 

Sebagaimana kata kaidah “al Muhafadzatu alal qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah” mempertahankan/menjaga yang ada yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.
Pola pengajaran Habib Idrus, selain mengajarkan tentang kitab-kitab para ulama terdahulu, juga mengajarkan tentang kesenian. Karena menurut Habib Idrus, mengajarkan anak didik jangan menciptakan kebosanan terhadap mereka. Jangan hanya belajar kitab terus menerus. Penting juga pembelajaran itu diselingi dengan pelajaran yang lain. Dalam kesenian bela diri, misalnya, Habib Idrus sendiri yang menjadi pelatihnya.

Dalam kesenian yang lain, Habib Idrus mengajarkan cara menabuh gendang, dan menyanyi melantunkan nasyid-nasyid. Syair-syair yang dilantunkan adalah ciptaan Habib Idrus sendiri. Dulu di Alkhairaat ada pelajaran “Al An-Gam” (menyanyi). Sayangnya, dari ribuan syair yang diciptakan oleh Habib Idrus banyak di antara para Abna Alkhairaat yang ada saat ini tidak lagi hapal syair-syair itu. Bahkan di sebagian cabang Alkhairaat, sudah meniadakan pelajaran ‘Al an-Gam.’

Padahal, dalam syair-syair gubahan Habib ‘Idrus adalah lagu-lagu tentang semangat mencari ilmu, berjuang di jalan dakwah, dan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua itu bertujuan agar Abna’ Alkhairaat selain memahami ilmu pengetahuan, ada pengetahuan lain yang berbasis keterampilan. Dengan demikian, Habib Saqqaf sebagai Ketua Utama Alkhairaat sekaligus cucu Habib Idrus, mengamanahkan kepada seluruh Abna Alkhairaat hari ini, untuk kembali mempelajari bagaimana Habib Idrus mengelola pendidikan Alkhairaat.

Belum lagi perihal tanah yang diwakafkan untuk pengembangan dan penunjang pendidikan di Alkhairaat. Mungkin dalam hal ini Alkhairaat perlu belajar dari Muhammadiyah bagaimana mengelola wakaf dengan sangat luar biasa. Biasanya, kalau orang Muhammadiyah yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau harta, maka sekolah dan organisasi Muhammadiyah di tempat tersebut tumbuh dengan baik dan mendapatkan perhatian yang cukup besar. Mereka memanfaatkan potensi pribadi dan harta yang mereka miliki untuk memaksimalkan perkembangan organisasinya, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.

Juga kita perlu belajar dari orang-orang NU yang bangga dengan ke-NU-an mereka. Orang Muhammadiyah yang bangga dengan ke-Muhammadiyah-annya. Lalu mengapa kader Alkhairaat, Abna’ Alkhairaat (seakan) tidak bangga dengan ke-Alkhairaat-an yang mereka punya? Bahkan, tidak sedikit yang “membelot” dan berpaling dari membesarkan Alkhairaat.

Terakhir, sebagai refleksi Haul Habib Idrus bin Salim Aljufri yang ke-52 (Nafa’anallahu bihi wa bi ulumi fid daaraini. Aamin) saya menutup dengan sebuah nasihat, pesan, dan amanah, yang saya dengar langsung dari Habib Saqqaf, ketika duduk di hadapan beliau: “Silahkan Abna’ Alkhairaat aktif di mana saja. Tetapi, di mana pun Abna’ Alkhairaat berada, seharusnya membawa warna Alkhairaat ke dalamnya, tidak untuk diwarnai, apalagi setelah diwarnai lalu datang mewarnai warna yang sudah ada di Alkhairaat. Silahkan kalian aktif di mana saja, tetapi ketika kembali ke Alkhairaat, kalian adalah Abna Alkhairaat, lahir dari rahim Alkhairaat.

Penulis adalah Abna’ Alkhairaat di Kabupaten Boalemo-Gorontalo

No comments

Powered by Blogger.