Webinar Kepemudaan : Ustaz Samsi Nilai Pemuda Abai Terhadap Kemungkaran - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Webinar Kepemudaan : Ustaz Samsi Nilai Pemuda Abai Terhadap Kemungkaran

Friday, October 30, 2020

Suasana Dialog Virtual Komunitas Pelajar Mahasiswa Mananggu, Kamis (29/10) zoom meeting
 


NUlondalo.Online, Gorontalo - Pertama kalinya Komunitas Pelajar Mahasiswa Mananggu (KPMM) menggelar webinar kepemudaan bertajuk “Peran Pemuda dalam Pandangan Politik, Agama & Akademik”, Kamis (29/10/2020).


Dalam Dialog virtual menghadirkan dua narasumber diantarnya, Ketua IKA PMII Gorontalo Ust. Samsi Pomalingo, MA dan Presiden BEM UNG Aldy Ibura.


Dalam pemaparannya, Ust Samsi mengatakan pemuda saat ini sangat jauh berbeda, jika dilihat dari pengalamannya sebagai aktivis. Ia katakan, mahasiswa tahun 90-an rajin membaca buku. Kini, tak ada lagi semangat itu. Semangat membaca buku dikalangan anak muda mulai redup.


“Mahasiswa zaman dulu itu rajin membaca buku, tapi mahasiswa sekarang sudah redup semangat membaca buku. Jangankan baca buku, melihat buku saja Ia tidak mau. Bisa dilihat sekarang, Mahasiswa dari pagi sampai malam lebih banyak buka Heand phone (HP) dari pada buka buku”, paparnya


Menurutnya, HP  memang penting jika digunakan untuk melihat perkembangan dunia, bukan digunakan seharian penuh. Selain itu, Ia juga menyinggung gerakan mahasiswa  saat menolak Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibuslaw. Bahwa UU Ciptaker tersebut bisa saja belum dibaca mahasiswa.


“Ikut demo tentang penolakan UU Cipta Kerja, bisa jadi tidak Undang-Undangnya, sebab generasi saat ini malas membaca. Jika begini generasinya, apa yang bisa kita harapkan? Padahal kita sering di sebut generasi muda, dituntut menjadi penerus bangsa ”,  papar Ketua IKA PMII Gorontalo ini


Ia juga mengatakan, saat ini mahasiswa cenderung elitis. Kecenderungan elitis ini jika diamati, hadir disemua organisasi, baik organisasi kepemudaan maupun mahasiswa. Namun disisi lain menurutnya, kecenderungan ini bukanlah masalah.  


“Saya jarang melihat kritisisme di kalangan anak muda sekarang, terutama di dalam kampus. Saya tidak tahu apa yang mempengaruhi hilangnya daya kritisnya, sehingga tidak lagi mampu melihat kemungkaran dan kebiadaban di sekitar kita, jangan –jangan, daya kritis kita sudah tertutup dengan sikap elitisasi gaya pejabat itu”, tutupnya


Sementara itu, Presiden Mahsiswa UNG Aldi Ibura selaku narasumber dalam webinar tersebut mengungkapkan, mahasiswa saat ini alergi membaca buku. Padahal dengan membaca buku kata Aldi, dapat membentuk karakter dan cara berpikir individu.  


“Ada satu hal yang harus kita pikirkan saat ini, ketika kondisi mahasiswa masih sama dengan apa yang di sampaikan Ust. Samsi tadi, maka ini menjadi PR bagi kita bersama. Harus ada kesadaran diri untuk memahami hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita sebagai mahasiswa atau pemuda”, paparnya


Menurut Aldi, jika saat ini ada mahasiswa yang terus berkoar-koar menentang kebijakan pemerintah, namun dibalik itu ada ‘permainan’, maka hal tersebut merupakan kultur yang ia lihat dari pengalaman-pengalaman terdahulu. Praktik-praktik itu ada.


Olehnya, kultur seperti ini perlu diantisipasi agar tidak terjadi dimasa yang akan datang. Untuk antisipasi hal itu, kata Aldi,  kita harus membangun nilai integritas dan punya karateristik, yakni membaca buku.  


“Kita akan bisa memposisikan diri untuk menjadi harapan bangsa, jika ada hal-hal besar yang ingin kita capai, maka perlu kerjasama dan komunikasi yang baik”, tutup Aldi


Diskusi berjalan dengan baik, meski melalui daring itu puluhan partisapan sangat antusias dalam menerima pemaparan dari kedua narasumber(***)


Rodney Neu