Memahami Budaya Sufistik dari Perspektif Sejarah dan Peran Para Wali di Gorontalo (1) - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Memahami Budaya Sufistik dari Perspektif Sejarah dan Peran Para Wali di Gorontalo (1)

Friday, November 13, 2020

 

Ust. Fathan Boulu (Foto Istimewah)

Penulis : Fathan Boulu, Aktivis NU Gorontalo 


Membaca postingan Gus Ulil Abshar Abdalla di wall facebooknya beberapa waktu lalu yang memuat tulisan ringan namun menarik dengan judul “Manusia dan Sejarah”. Gus Ulil mengutip buku Sidney Hook berjudul The Hero in History (Pahlawan Dalam Sejarah) bahwa, manusia dalam hubungannya dengan sejarah terbagi menjadi dua jenis yaitu, manusia yang disebut eventful man (manusia peristiwa) dan manusia yang disebut event-making man (manusia pencipta peristiwa). “Manusia peristiwa” adalah orang-orang pada umumnya yang bekerja, melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan kompetensinya masing-masing. 


Mereka berperan sekadar untuk menjalankan sejarah dengan kapasitasnya masing-masing seperti guru, dosen, pejabat, politisi, pengusaha, advokat, polisi, dokter, petani, pedagang, ekonom, pekerja sosial, dan/atau seperti anggota DPR yang bekerja di lembaga parlemen. Kemampuan “manusia peristiwa” dalam mengubah dan membentuk sejarah memang tidak sebesar “manusia pencipta sejarah” (event-making man). Akan tetapi eksistensi dan peran mereka sangat berguna dalam menggerakkan sejarah. Ibarat mobil yang bisa berjalan jika digerakkan oleh driver, mereka inilah yang disebut “manusia peritiwa”.

Manusia jenis kedua adalah apa yang disebut event-making man, manusia pencipta peristiwa. Mereka disebut Hook “The Hero” (pahlawan). Orang-orang seperti KH. Hasyim Asy’ari, Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Nani Wartabone, Gus Dur, BJ. Habibie adalah sosok-sosok yang menciptakan sejarah (event-making man). Kita juga mengenal tokoh-tokoh besar dalam filsafat dan tasawuf seperti Ibnu Rusyd (Averous), Ibnu Sina (Avicena) Al-Gazali, Ibnu Athaillah Aqbdul Qadir Jailani, Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah, Hasan al-Basri dll. Dalam dunia pergerakan kita mengenal Mahatma Gandhi, Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Martin Luther, dan Che Geuvara. Mereka ini disebut “manusia pencipta peristiwa” yang namanya selalu diingat dalam sejarah dan, tentunya, sosok Nabi Muhammad Saw adalah “manusia pencipta sejarah”  yang tidak ada tandingannya.

Menurut Hook, seperti dikutip Gus Ulil, kehidupan tidak bisa berjalan hanya dengan satu jenis manusia. Sejarah tidak bisa berjalan hanya dengan eventful man saja, tetapi juga tidak bisa bertumpu pada event-making man semata. Ibarat dua sisi mata uang, nilai di satu sisi sama dengan nilai pada sisi yang lain dan keduanya tidak bisa dipisahkan.

Tulisan Gus Ulil tentang teori Hook di atas menginspirasikan satu hal dari tulisan ini, yaitu sebuah mindset tentang peradaban Islam di Gorontalo yang lokalistik memungkinkan terbentuknya elite community, yaitu manusia-manusia pencipta peristiwa (event-making man) dan perilaku tradisional manusia peristiwa (eventful man). Penulis mencoba mengkonstruksikan mindset tersebut dalam tiga permasalahan sejarah; Pertama, masalah kepercayaan kuno yang membentuk tradisi dan “kepercayaan baru” untuk mengukur taraf keberagamaan masyarakat Gorontalo yang---paling tidak---merupakan mata rantai yang saling berkait-kelindan satu dengan yang lain. 

Kedua, masalah sejarah tentang Islam di Gorontalo yang membentuk karakteristik budaya masyarakat. Ketiga, masalah eksistensi para wali (awliya) dan perannya dalam sejarah Gorontalo yang hingga kini masih sebatas ‘budaya tutur’ serta legenda-legenda rakyat yang sulit dicerna logika. Jatidiri para wali tersebut nyaris tak terungkap meski kemudian di sana-sini ditemukan jejak-jejak sejarah yang meniscayakan peran mereka sebagai event-making man, manusia yang membentuk peradaban Islam di Gorontalo. Akan tetapi, tulisan ini tidak mengkonstruksikan sebuah fakta baru tentang sejarah Gorontalo, melainkan sebatas geliat berpikir dan kerasaingintahuan (curiocites) yang tidak bisa dibendung. Sebagaimana ungkapan filsafat kuno Descartes, cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada), bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah eksistensi dan karena itu hidup manusia menjadi bermakna.

Antara Kapitayanisme dan Sufisme

Agus Sunyoto, dalam Atlas Wali Songo dan buku fenomenalnya berjudul Wali Songo, Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan menyebut kepercayaan masyarakat Nusantara dimasa lampau dengan “Tradisi Kapitayan”. Kapitayan adalah agama yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno pada lapisan awam dengan karakteristik yang dominan sebagai pemuja roh dan menyembah batu, pohon dan benda-benda alam lainnya. Suatu kepercayaan lama yang kemudian dalam perkembangannya mengalami proses ‘akulturasi’ dengan ajaran Hindu dari aliran tandrayana atau yang disebut bairawa tandra yang dianut kalangan bangsawan. (Sunyoto, 2011)

Sejalan dengan Sunyoto, beberapa penulis lokal tentang sejarah Gorontalo menyebut adanya kepercayaan etnis Gorontalo di masa lampau sebagai pemuja roh, batu, dan pohon yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Kepercayaan ini disebut animisme dan dinamisme; sebuah kepercayaan yang menyerupai Tradisi Kapitayan pada masyarakat Jawa Kuno. Tetapi sebutan kapitayan tentu kurang populer untuk menyebut kepercayaan kuno masyarakat Gorontalo, maka dalam tulisan ini dipakai istilah “kapitayanisme” karena adanya kemiripan pada esensi dan praktik ritualnya. Ada pula yang menyebut secara spekulatif tentang kebiasaan masyarakat Gorontalo di masa lampau yang gemar memakan binatang liar berupa babi yang melukiskan sebuah kebiasaan lazim dalam tradisi agama Nasrani. Namun pendapat ini sulit dikonfirmasi karena tidak adanya situs dan artefak-artefak Kristenisasi seperti manuskrip, prasasti, makam pendeta, gereja atau tokoh penyebar agama Nasrani di bumi Gorontalo. 

Sangat disayangkan saat ini belum ada satupun referensi yang otentik untuk mengungkap fakta kehidupan masa lampau tentang kepercayaan lama masyarakat tradisional Gorontalo. Satu-satunya petunjuk adalah masih kuatnya tradisi ritual yang identik dengan kepercayaan animisme/dinamisme seperti tradisi alifuru sebagai sebuah kebiasaan yang terus berlaku pada komunitas pedalaman Gorontalo hingga kini. Hal ini memperkuat dugaan tentang adanya ajaran “kapitayanisme” dalam kehidupan masyarakat Gorontalo di masa lampau bahwa tradisi alifuru adalah sebuah tarian ritual yang disebut dayango sebagai bentuk pemujaan pada roh-roh gaib yang menempati alam semesta seperti gunung, lautan, pohon, batu, tanah, dan sebagainya. 

Dalam Praktiknya, ritual dayango diselenggarakan dengan maksud tertentu, misalnya untuk mensyukuri hasil pertanian, mengusir kesialan dalam usaha, mengobati orang yang sedang sakit, dan atau tujuan-tujuan tertentu lainnya. Pada tataran ini ritual dayango menyerupai praktik animisme seperti yang berlaku pada masyarakat Jawa Kuno yang hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Gorontalo.

Sebagai contoh ritual Mopo’a Huta (memberi makan pada tanah), sebuah paktek ritual yang tidak pernah dilewatkan oleh masyarakat pedalaman Gorontalo ketika musim kemarau tiba, terutama bagi masyarakat yang hidupnya bergantung pada hasil pertanian. Dengan melaksanakan ritual Mopo’a Huta, diyakini hujan akan turun yang membawa kesuburan serta kemakmuran bagi masyarakat. Sejak ratusan tahun yang silam kegiatan ritual semacam ini sudah dilakukan oleh leluhur-leluhur di tanah Gorontalo yang dewasa ini mulai ditentang oleh kaum agamawan karena dianggap bertentangan dengan syariat Islam. Dalam praktiknya, ritual Mopo’a Huta digelar dengan tarian dayango yang diiringi tabuhan gendang (towohu) selama beberapa malam. Puncak ritual digelar sesajian yang terdiri dari bahan-bahan tertentu untuk dipersembahkan kepada makhluk gaib penguasa alam.

Menyikapi fenomena tersebut para sejarawan Gorontalo menolak asumsi bahwa masyarakat Gorontalo pada masa lampau adalah penganut animisme dan dinamisme. Wantogia, seperti dikutip Sirajudin Ismail, menyatakan bahwa orang Gorontalo tidak pernah menyembah batu, gunung, pohon, atau air karena sejak semula mereka percaya terhadap Tuhan Yang Esa. Menurutnya, orang Gorontalo hanya sebatas percaya pada roh halus yang bersemayam dalam benda-benda alam tertentu tetapi tidak untuk disembah. Bukti yang ditunjukkan Wantogia adalah adanya falsafah yang secara verbal bergambar dalam pos tulat berbahasa Suwawa-Gorontalo: Taquwata to mita niya eya tuwawu loqu tuwawu liyo: Tuhan Maha Esa Sebenar-benarnya Esa (Olha S. Niode: 2014).

Pendapat Wantogia tersebut kemudian dikuatkan dengan analisis semantik oleh para pakar bahasa bahwa, kata “eya” dalam bahasa Gorontalo mempunyai kesamaan morfologis dengan “esa” yang berarti “tunggal” dalam bahasa Sansekerta. Kata ini menunjuk pada arti keesaan Tuhan, meskipun kata “eya” secara etimologis sejatinya bermakna penghormatan berupa “tuan” atau “raja”. Seperti tergambar dalam kalimat : Huta, huta lo ito eya (tanah, adalah tanah kepunyaan tuanku/raja); Taluhu, taluhu lo ito eya (air, adalah air kepunyaan tuanku/raja); Duputo, duputo lo ito eya (angin, adalah angin kepunyaan tuanku/raja); Tawu, tawu lo ito eya (manusia, adalah manusia kepunyaan tuanku/raja). Kata “eya” dalam kalimat tersebut diartikan “tuan” atau “raja”. Kata “eya” juga memiliki kesamaan morfologis dengan lafaz Arab “iyyaahu” (hanya kepada-Nya); menggambarkan adanya korelasi antara budaya linguistik Gorontalo dengan term Islam (Sofyan AP. Kau, dkk, 2015)

Namun demikian, pandangan di atas memiliki kelemahan teoritis secara sosiologi-antropologi bahwa, identitas agama dan bahasa komunitas etnik tertentu tidak mesti dilihat pengaruhnya secara kausatif pada kurun waktu bersamaan. Karena bahasa merupakan instrumen budaya yang berfungsi sebagai alat komunikasi sejak manusia hidup bersekutu dalam satu institusi sosial yang brsifat tradisional, bahkan bahasa akan muncul seiring dengan munculnya tradisi-tradisi dalam institusi sosialnya. Diantara manusia masa lampau yang hidup bersama akan membangun sistem interaksi baik dengan alam maupun lingkungan sosialnya dengan isyarat-isyarat verbal maupun nonverbal sebagai alat komunikasi. 

Dari sini kemudian timbul belive, kepercayaan pada roh-roh gaib yang terdapat pada alam semesta. Maka, boleh jadi apa yang disebut “eya” lebih berorientasi pada realitas kegaiban (roh-roh) atau energi alam yang dipercayai memiliki pengaruh baik dan buruk terhadap kehidupannya. Sehingga kemudian timbul rasa penghormatan, pemujaan, serta penyucian bahkan penyembahan sebagai Tuhan. Seiring waktu, kata “eya” akan bergeser dari kepercayaan terhadap roh gaib kepada keprcayaan terhadap Tuhan dalam arti yang sesungguhnya, yakni “Tuhan Yang Esa”. Dugaan penulis, kepercayaan ini mulai terbentuk ketika masyarakat Gorontalo menjadi penganut agama Islam terutama ketika Sultan Amai bersedia menerima Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1525 M.

Teori ini mendukung adanya fakta dalam kamus-kamus bahasa yang secara morfologis terdapat banyak kosakata sebagai hasil transformasi dari luar Islam. Sebagai contoh kata “sembahyang” yang terbentuk dari kosakata sembah yang berarti tunduk/hormat dan hyang yang berarti sesuatu yang dipuja sebagai Tuhan (dewa/dewi). Menurut tradisi Jawa Kuno, kata hyang digunakan untuk menyebut nama Tuhan yang kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Hindu ke budaya Islam. Sebuah proses akulturasi (bahasa) antara tradisi Kapitayan, Hindu dengan ajaran Islam terutama penggunaan kosakata dalam wacana sastera suluk yang bernafaskan Islam. Suluk dalam Islam sebagai “jalan mistik” (sufisme) yang menitik beratkan pada ajaran teologi dan humanisme (ajaran spiritual Islam) sebagaimana Brahman dalam ajaran Hindu. Dalam konteks ini, sastra suluk merupakan pilihan media Wali Songo dalam proses dakwah pengislaman masyarakat Nusantara (baca: Jawa).

Berangkat dari teori diatas maka hubungan antara kepercayaan dan bahasa dalam komunitas kuno etnis Gorontalo, pada kurun waktu tertentu mengalami transformasi dan akulturasi yang sangat signifikan dari realitas budaya lokal ke dalam budaya Islam, terutama melalui jalan mistik (sufisme). Kebanyakan kalangan sosiolog berpendapat bahwa proses islamisasi di Nusantara pada umumnya diperoleh melalui ajaran tentang mistisisme Islam (tasawuf) ketimbang ajaran tentang akidah dan syariah (fiqih)

Akar teori ini diperoleh dari filsafat tradisional Jawa yang mengadopsi filsafat alam idea Platonisme bahwa, rakyat yang disebut sebagai “manusia bawah” (jelata) merupakan reinkarnasi dari “manusia atas” (bangsawan/raja). Faham ini diperbuat oleh beberapa ajaran tasawuf yang berkembang di tengah masyarakat Jawa seperti Ittihad (Ibnu Arabi), Wahdat al-Wujud (al-Bustami), dan Hulul (al-Hallaj) yang dibawa oleh ulama Nusantara dari era Walisongo hingga ulama modern seperti Hamzah Fansuri, Nur ad-Din Ar-Raniri, Syekh Ahmad Khatib, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Kholil Bangkalan dll. Profesor MC Ricklefs, seorang sejarahwan Australia yang memiliki otoritas dalam sejarah Jawa, dalam bukunya Mystic Synthesis in Java mengungkapkan, bahwa corak Islam di Nusantara memuat perpaduan antara mistik dan Islam yang disebut mistical sintesis. Ia meyakini relevansi corak Islam yang ada di Nusantara pada awalnya adalah sufisme, lalu berkembang ke masalah-masalah akidah dan fiqh (Merle Calvin Ricklefs, 2013).

Bersambung....