Membiarkan Berbeda: Belajar dari Tradisi Ulama - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Membiarkan Berbeda: Belajar dari Tradisi Ulama

Monday, November 2, 2020


Ulama-ulama Nusantara (foto istimewah)


Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)


Dalam kalender Hijriah, saat ini, kita tengah berada di bulan Rabiul Awal. Bulan di mana Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan. Telah jamak diketahui, Nabi Muhammad SAW lahir, Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah, atau 22 April 571 M.


Biasanya, dalam bulan Rabiul Awal ini, muslim di nusantara dan di belahan dunia lainnya semarak merayakan kelahiran manusia agung tersebut.


Namun, beberapa waktu terakhir ini, di Indonesia mulai muncul kelompok yang anti terhadap peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.


Alasannya, maulid tidak pernah dilaksanakan Nabi SAW, para sahabat dan ulama-ulama salaf. Karenanya, menurut kelompok ini, merayakan Maulid Nabi SAW akan membuat orang terjatuh pada hal-hal bidah.


Perbedaan pendapat di tubuh umat Islam, adalah hal lumrah. Dalam soal maulid, misalnya, ketika ada yang membolehkan, maka ada pula yang membidahkan. Saat ada yang menganjurkan, ada juga yang melarangnya.


Sejatinya, hal itu biasa saja. Jauh sebelumnya, dalam dunia Islam telah terjadi berbagai perbedaan pendapat, bahkan ketika Nabi SAW masih hidup. Persoalannya adalah bagaimana kita mengelola perbedaan tersebut di publik, agar melahirkan rahmat, bukan menghadirkan mudarat.


Berkenaan hal itu, saya akan menceritakan kisah dua ulama yang berbeda pendapat, tetapi hasilnya bukan saling menyerang dan meninggalkan rasa sakit hati.


Sebaliknya,  perbedaan kedua ulama itu menunjukkan lukisan yang menawan tentang “berbeda itu rahmat.”


Kisah ini terkait dengan dua ulama terkemuka: KH. Hasyim Asy’ari dan KH Faqih Maskumambang.


KH. Hasyim Asy’ari dan KH Faqih Maskumambang, adalah dua ulama terkemuka di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya sahabat kental sejak menjadi santri Syekh Kholil Bangkalan. Keduanya pula ulama-ulama besar pendiri NU pada 31 Januari 1926.


Lazimnya sebagai dua sahabat, mereka seiring, seiras, dan seirama. Tetapi tidak berarti mereka tidak punya perbedaan pandangan. Kerap kali keduanya berbeda pendapat dalam memahami persoalan keagamaan.


Bunyi Kentongan


Tersebutlah pada 1916 terjadi perbedaan pandangan antara Kiai Hasyim dan Kiai Fakih. Perbedaan tersebut bermula dari respons kedua ulama ini terhadap hukum menggunakan kentongan untuk menandakan masuknya waktu salat dan memanggil orang salat.


Mengenai hal itu, Kiai Hasyim menolak menggunakan kentongan. Menurutnya, tidak ada dalil jelas yang bisa dijadikan dasar untuk membolehkan kentongan untuk memanggil orang salat. Pandangannya ini kemudian dituliskan dalam satu risalah berjudul al-Jasus fi Bayani Hukm Naqus.


Tidak berselang beberapa lama, Kiai Faqih membantah argumen Kiai Hasyim. Menurutnya, menggunakan kentongan sebagai penanda masuknya salat boleh saja.


Hal itu bisa dikiaskan dengan pemakaian beduk, yang memang sudah lazim dan tidak dipersoalkan pula oleh Kiai Hasyim. Bantahan Kiai Faqih ditulis dalam satu risalah berjudul Hazzur Ru’us fi Radd Jasus’an Tahrim Naqus.


Mengetahui bahwa ada pendapat lain dari kiai Faqih soal kentongan sebagai penanda masuknya waktu salat, Kiai Hasyim mengumpulkan santri dan masyarakat di pesantrennya di Jombang.


Sang Kiai menunjukkan dua risalah yang ditulisnya dan yang dikarang oleh Kiai Faqih. Lantas ia mempersilakan masyarakat dan santrinya untuk memilih di antara dua pendapat tersebut.


Kiai Hasyim tidak menyatakan, bahwa pendapat Kiai Faqih keliru apalagi membidahkan. Sebaliknya, ia  mempersilakan masyarakat memilih salah satu di antara dua pendapat tersebut.


Hanya saja, ia meminta khusus di masjid pesantrennya di Jombang, tidak akan menggunakan kentongan sebagai penanda masuknya waktu salat.


Pada suatu waktu, Kiai Hasyim berniat bertandang ke kampung kediaman Kiai Faqih. Ia ingin menyambangi sahabat karibnya tersebut. Mendengar Kiai Hasyim akan datang, Kiai Faqih memanggil santrinya.


Kiai Faqih memerintahkan: “Sebagai bentuk penghormatan pada pendapat Kiai Hasyim, seluruh kentongan di masjid yang ada di kampung harus diturunkan. Kentongan jangan dipasang dulu selama kunjungan Kiai Hasyim di kampung tersebut.”


Pertama membaca kisah di atas, hati saya seketika menjadi basah. Ada haru yang membuncah.  Dua ulama, seperti pada kisah tadi, ternyata bisa menunjukkan, bahwa perbedaan itu sungguh-sungguh adalah rahmat.


Perbedaan yang dilandasi dari niat tulus dan tanpa pretensi apa-apa, tidak akan menimbulkan ujaran kebencian pada seseorang, dan sakit hati pada orang lain yang berbeda.


Lantas, bagaimana saat ini berbagai kelompok dalam Islam menyikapi perbedaan memahami ajaran Islam?


Bercermin dari kasus perayaan maulid, terang terlihat bahwa perbedaan pandangan saat ini disikapi dengan cara yang  tidak bijak. Sangat jauh dari apa yang dicontohkan oleh dua ulama besar tadi.


Bagi yang melaksanakan perayaan maulid, sebatas yang saya lihat dan ketahui, sejatinya tidak pernah mempermasalahkan bagi yang tidak mau merayakan maulid.


Sebaliknya, mereka yang menolak merayakan maulid dengan gamblang terus menerus menyerang kelompok yang merayakan maulid tersebut.


Kelompok yang menolak maulid, dalam beberapa tahun terakhir ini, memanfaatkan media sosial untuk terus menerus menyerukan anti maulid.


Tidak seperti halnya Kiai Hasyim Asyari yang dengan senang hati menunjukkan adanya pendapat lain yang berbeda dengan pendapatnya, kelompok anti maulid ini sebaliknya. Mereka hanya menunjukkan pendapat ulama yang selaras dengannya.


Mungkin ada yang mengatakan, bahwa bukankah meyakini satu pandangan sah-sah saja? Sebatas itu memang tidak ada persoalan. Tetapi, jika seseorang atau kelompok tertentu meyakini satu pendapat, lalu menjatuhkan pendapat lain, maka sejatinya ia tidak siap untuk berbeda.


Beberapa kelompok anti maulid, tidak sekadar berbeda pandangan, tetapi juga sudah mengorganisir sedemikian rupa pandangan tersebut untuk memarginalisasi dan mendiskriminasi kalangan yang setuju dengan perayaan maulid.


SKHB Indonesia


Melalui media sosial, kelompok anti maulid ini terus menerus menggelorakan semangat anti maulid, atau maulid itu bidah.


Istilah bidah itu sendiri bukan semata-mata hanya menunjukkan, bahwa mereka yang merayakan maulid melakukan sesuatu yang baru.


Lebih dari itu. Istilah tersebut mengandung makna bahwa mereka yang melaksanakan maulid telah terjatuh pada kesesatan.


Dalam bulan Rabiul Awal ini, gerakan anti maulid itu terlihat begitu masif di media sosial. Jelas gerakan tersebut tidak siap untuk berbeda. Sebab, ada beberapa yang mencoba mengukuhkan pendapatnya dengan memelintir pendapat Kiai Hasyim Asyari.


Dalam satu meme yang disebar atas nama SKHB Indonesia, misalnya, disebutkan: Bid’ah Maulid.


Lalu, di bawahnya ada tulisan kecil, yang menyebutkan; KH Muhammad Hasyim Asyary dalam kitabnya yang berjudul at-Tanbihatul al-Wajibat Liman Yash’naul Maulid bil Munkar menyebutkan, bahwa maulid itu bidah.


Jelas sekali meme itu serangan terhadap warga NU, yang merupakan salah satu kelompok Islam yang senang merayakan maulid Nabi SAW.


Seperti kita mafhum, Kiai Hasyim adalah pendiri NU. Dan, sejauh pemahaman warga NU, ia tidak pernah melarang perayaan maulid.


Meme itu langsung mendapat tanggapan dari para nahdiyin. Salah satu sahabat, Ustaz Mubarak Idrus, yang juga pengajar di Pesantren Al-Fakhriyah, kebetulan pernah mengaji kitab at-Tanbihatul Wajibat.


Begitu melihat meme tersebut, sontak ia memberi tanggapan dengan bersemangat: “Ini jelas berbohong. Isi kitab itu tidak demikian,” begitu katanya.


Lalu, ia mengirim isi kitab itu dalam bentuk foto-foto ke grup dengan beberapa penjelasan sesuai yang ia dapatkan dari ‘ngaji’ kitab tersebut.


Kitab itu memang membahas tentang peringatan penting bagi perayaan maulid yang bisa dianggap mungkar, tetapi bukan perayaannya maulidnya sendiri yang mungkar.


Kiai Hasyim dalam kitab itu justru menyoroti perayaan maulid pada zamannya, yang dibarengi dengan pertunjukkan boxing (adu tinju), adu panco, sandiwara kuno, sambil tertawa-tawa tanpa adab.


Sementara perayaan maulid dengan membaca Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi, membaca sejarah nabi (misalnya membaca barzanji), makan bersama, dan sebagian makanannya dibawa pulang, bahkan juga jika ada yang menggelar hadrah sepanjang menjaga adab, maka Maulid Nabi SAW tidak ada masalah untuk dirayakan.


Meme itu dengan hanya menyebutkan, bahwa Kiai Hasyim Asyari menyatakan maulid adalah bid’ah. Terang sekali ini memelintir pendapat sang Kiai.


Cara-cara berbeda pendapat seperti ini, jelas sekali tidak menginginkan adanya pendapat lain yang membolehkan maulid. Mereka mengorganisir sedemikian rupa pendapatnya untuk “memaksa” masyarakat menerima satu pendapat saja. Pendapat yang anti maulid.


Yang timbul kemudian dari cara berbeda pendapat semacam ini, adalah kekisruhan dan bahkan perselisihan.


Di media sosial sudah mulai muncul perdebatan yang mengarah pada saling mencaci. Perbedaan pendapat semacam ini tentu tidak mendatangkan manfaat, tetapi sebaliknya, melahirkan mudarat.


Tidak mudah memang kita berbeda pendapat. Tanpa sikap tulus dan kerelaan untuk membiarkan munculnya pendapat lain, maka kita hanya akan berusaha untuk terus menerus menyudutkan orang yang berbeda dengan kita.


Karena itu, agar bisa menerima perbedaan pendapat, maka mari kembali belajar pada para ulama-ulama terdahulu yang legowo dalam perbedaan. (*)


Source:https://blamakassar.co.id/2020/10/28/membiarkan-berbeda-belajar-dari-tradisi-ulama/