Mewartakan Perubahan Iklim di Jalan yang Benar, Sebuah ikhtiar di tahun pandemi - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Mewartakan Perubahan Iklim di Jalan yang Benar, Sebuah ikhtiar di tahun pandemi

Friday, November 27, 2020
Foto ilustrasi dampak perubahan iklim disuatu kota


Oleh : Aljunaid Bakari


Perubahan Iklim pada dasarnya merupakan pengetahuan dasar dari sederet problem serius bagi masa depan dunia, sampai dengan saat ini kita terkesan masih gagap menghadapi problem ini, faktanya lebih banyak muncul masalah baru daripada terobosan dan jalan keluar yang solutif, lebih banyak tercipta seremoni, disatu sisi harmoni untuk kompak bersama menghadapi problem ini belum terwujud, terasa ada yang kurang tepat dari berbagai pendekatan yang selama ini dilakukan. Berdasar wawasan ini Climate Institute sejak pertama kali berdiri tahun 2015 bersama Friedrich Nauman Foundation Indonesia (FNF) terus melakukan edukasi, penelitian dan terlibat langsung untuk mengidentifikasi masalah lingkungan dengan berbagai implementasi program yang menyentuh masyarakat hingga level terkecil. Ikhtiar ini dilakukan sebagai upaya mengisi ruang-ruang yang tak terjangkau oleh berbagai lembaga lain yang juga konsern terhadap isu yang sama.


Karenanya Climate Institute yang di dukung oleh FNF Indonesia merasa penting untuk mengambil segmentasi tersendiri dalam konteks ini, baik dari segi perspektif, metode, maupun strategi penerapannya. Segmentasi yang diambil adalah gerakan “ubah perilaku” pada level anak muda, berdasarkan anggapan bahwa anak muda menempati sebuah semesta budaya yang sangat kompleks, juga memiliki ragam ekspresi pada tataran pengalaman dan perilaku hidup yang pada gilirannya akan menentukan pilihan-pilihan geraknya dimasa depan. Dalam pada itu, Climate Institute merasa segementasi ini adalah salah satu “jalan yang benar” dalam mewartakan krisis perubahan iklim dibanding pola-pola pewartaan krisis perubahan iklim selama ini yang cenderung menggunakan pendekatan pewartaan Doom And Gloom, yang justru cenderung menghadirkan pesimisme dan apatisme, tentu hal ini tidak bisa dibiarkan menjadi tabiat anak muda.


Anak muda harus dipandang secara kritis berdasarkan bagaimana pengalaman mereka di tampilkan sebagai sebuah jaringan kepentingan politik perubahan iklim dimasa depan. untuk itu, Climate Institute dan Juga FNF Indonesia telah melaksanakan berbagai workshop untuk anak muda yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia untuk menjadi sumber daya yang unggul dan sebagai modal jejaring yang kuat, pada giliranya jejaring ini dapat menjadi role model laku hidup ramah lingkungan yang prospektif.


Beberapa ikhtiar pewartaan krisis iklim yang telah dilakukan Climate Institute dan juga FNF Indonesia di tahun pandemi ini, antara lain, Pilihan Cerdas: Perubahan Perilaku dan hak atas Lingkungan yang sehat di tengah pandemi Covid-19 (Kamis 28 Mei 2020), Pentingnya Penerapan gaya Hidup Rendah Carbon Dalam Memenuhi Hak Atas Lingkungan Hidup Paska Pandemi (Selasa 30 Juni 2020), Hak Memperoleh Lingkungan Hidup Yang Lestari (Selasa 7 Juli 2020), Perencanaan Arsitektur Kota Berkelanjutan (Selasa 28 Juli 2020), Climate Jurnalism Menyuarakan Keadilan Iklim Melalui Tulisan Populer (Rabu 19 Agustus 2020), serta Pemuda Menulis Untuk Keadilan Iklim (23-25 September 2020). Dari 6 enam kegiatan diatas paling tidak terdapat 3(tiga) simpulan dari ikhtiar pewartaan krisis iklim di tahun pandemi ini.


Laku Hidup Rendah Carbon Solusi Pemenuhan Hak Atas Lingkungan Hidup yang lestari.


Menurut Direktur Komite Penghapusan Bensin Timbal Ahmad Safrudin, kualitas udara Jakarta di masa pandemi tercatat terbaik selama 28 tahun terakhir, Efek jangka pendek seperti ini tentu merupakan hal positif di tengah musibah yang melanda dunia. Secara teori, jika kita menjaga lingkungan dengan cara PSBB dan aktivitas lockdown secara menyeluruh sepanjang 2020, maka kita dapat mengurangi emisi CO2 secara global sampai dengan 7.6% per tahun sampai dengan 2030 Namun tentu saja, strategi ini akan menempatkan posisi ekonomi negara terpuruk, sehingga tidak tepat diterapkan dalam jangka panjang. Meski demikian, fenomena ini telah memberikan perspektif baru yang dapat ditempuh untuk benar-benar secara menyeluruh mengatasi isu perubahan iklim.


Pandemi covid-19 dan juga krisis perubahan iklim merupakan jenis bencana yang berbeda secara kategori namun keduanya merupakan konsekuensi langsung dari modernitas. Kedua krisis ini adalah bagian dari Risk Society atas modernitas/industri (beck 1992), sehingga adalah mitos bahwa Pandemi Covid-19 adalah solusi bagi kirisis perubahan iklim, keduanya adalah problem yang berbeda namun berasal dari sumber yang sama, yaitu akumulasi dari resiko-resiko yang diciptakan oleh masyarakat industri/modern.


Karenanya ubah perilaku adalah satusatunya cara kita untuk memenuhi hak hidup di lingkungan hidup yang sehat sebagai refleksi atas industrialiasi yang berlebihan, atas eksploitasi alam yang luar biasa merusak, atas perilaku konsumtif yang ujung-ujungnya menjadi sampah, serta atas kegagalan institusi-institusi mengontrol resiko-resiko yang diciptanya. Dan dalam tahun pandemi ini kita “dipaksa” untuk mengambil pilihan tersebut melakukan perubahan perilaku yang tidak biasa untuk dianggap sebagai sebuah kenormalan yang baru.


Pandemi ini telah memberikan gambaran yang cukup jelas bahwa perubahan perilaku dalam skala yang besar memiliki efek yang besar pula, Iklim telah berubah, maka lazimnya penggunaan energi juga harus berubah, menjadi penting memperluas perspektif new normal tidak hanya dalam perspektif kesehatan tetapi juga melalui pendekatan lingkungan dengan mulai berkomitmen menerapkan gaya hidup rendah karbon sebagai habitus laku.


Perencanaan arsitektur kota berkelanjutan harapan masa depan lingkungan hidup yang lestari


Kota adalah tempat dimana harapan masa depan lingkungan hidup yang sehat digantungkan, karena rupa-rupa manusia dari berbagai latar belakang dipertemukan di wilayah ini, kota juga menjadi penyumbang terbesar emisi karbon karna semua aktifitas penghasil emisi dilakukan di kota. Kota pula menjadi tempat produksi tren gaya hidup, maka sejatinya kota harus menjadi ruang edukasi hidup sehat, trend laku hidup rendah karbon harus diwabahkan dan dimulai dari kota. Hal ini hanya dapat terwujud bilamana didukung oleh desain tata arsitetur/ruang kota yang sustainable.


Tidak bisa dipungkiri edukasi tentang ruang hidup yang sehat kita relatif masih rendah. Hal ini terjadi utamanya di wilayah perkotaan, sampah harian, perilaku di ruang publik, kesehatan lingkungan, estetika fisik dan lanskap kita masih terasa jauh panggang dari api, etos memelihara apalagi, faktanya kita mudah membangun dan semudah itu pula rusak berantakan dalam setahun (cermati taman-taman kota dan sarana publik kita). 


Karenanya kota tidak boleh dikelola dengan “mindset” yang penting banyak gedung dan ramai, kepungan beton bangunan hanya akan memundukkan imajinasi “kepemilikan” kita pada sebuah kota. Pada titik ini edukasi masyarakat terutama anak muda adalah faktor kunci untuk membangun kota cerdas dan berkelanjutan, melalui anak muda potensi kreativitas yang variatif, terikat oleh kemajuan serta visi sejarah yang otentik bisa menjadi modal besar. Jika itu berhasil diserap dan dimaknai maka bersamaan dengan itupula segala hambatan akan tunduk sedemikian rupa oleh identitas dan cita-cita luhur ini.


Mewartakan Solusi dan Keberhasilan Strategi Mengabarkan Krisis Iklim


Fenomena Krisis Perubahan Iklim (Climate Change) mulai menjadi problem yang cukup serius dikampanyekan terutama pasca KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, sejak saat itu mulai bermunculan lembaga yang konsern mengkampanyekan isu perubahan iklim baik berbasis pemerintah maupun NGO. Namun sampai dengan saat ini pendekatan kampanye krisis perubahan iklim yang di tempuh selama ini nampaknya belum memberi dampak yang cukup signifikan, ditandai dengan semakin banyak deretan masalah baru akibat krisis ini.


Menurut hasil penelitian dari Climate Access, sebuah kelompok riset nirlaba yang berfokus kepada solusi perubahan iklim menyatakan bahwa pendekatan kampanye/jurnalisme krisis perubahan iklim yang selama ini di tempuh dengan mengabarkan “pesan-pesan yang berisi ancaman masa depan akibat perubahan iklim” adalah pendekatan yang kurang tepat, hal ini memang mampu menangkap perhatian publik, namun cara ini bukan motivator yang efektif untuk mendorong publik melakukan Tindakan yang nyata dan merubah perilaku.


Krisis iklim harus diwartakan lebih soft, tidak hanya melaporkan permasalahan perubahan iklim itu sendiri namun juga mengabarkan dan menunjukkan solusi-solusi apa saja yang berhasil dicapai berdasarkan bukti-bukti konkret, memberikan contoh bagaimana orang bisa membuat perbedaan. cerita-cerita tentang konsumsi panganan lokal dan dampak kesehatannya atau beralih kepada kendaraan listrik untuk menghemat biaya bensin. Model ini dianggap dapat menjadi alternatif pemberitaan yang dapat meningkatkan minat public terhadap subjek dari krisis perubahan iklim. Climate Institute memulai ikhtiar ini dengan melatih anak muda di berbagai penjuru indonesia sebagai garda terdepan komunikator krisis perubahan iklim, untuk aksi kolektif mempopulerkan gaya hidup rendah karbon.



Daftar Bacaan

Beck, U., Lash, S., & Wynne, B. (1992). Risk society: Towards a new modernity (Vol. 17). sage.

Ring Wendy (2015), Inspire Hope, Not Fear: Communicating Effectively About Climate Change and Health. Annals of Global Health, VOL. 81, NO. 3, 2015. Published by Elsevier Inc. di unduh dari situs https://climateaccess.org/resource/inspire-hope-not-fear-communicating-effectively-about-climate-change-and-health

Iwan Prijanto (2020) Sustainable Architecture in Relation with Basic Human Rights from GBC Indonesia Perspectives. makalah dipresentasikan Webinar Climate Institute July 28, 2020

Vissia Ita Yulianto (2020) Pandemi Covid-19 dan Risk Society makalah dipresentasikan Webinar Climate Institute July 28, 2020