Terkait situasi Prancis dan boikot produk, Ini penjelasan Intelektual Muda NU - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Terkait situasi Prancis dan boikot produk, Ini penjelasan Intelektual Muda NU

Friday, November 6, 2020




NUlondalo.Online - Situasi Prancis menjadi perhatian dunia Muslim, termasuk di Indonesia yang mayoritas Islam terbesar. Reaksi atas pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Marcon yang menghina Nabi Muhammad Saw mengundang kemarahan umat islam di berbagai belahan dunia.


Respon belebihan yang tengah digulirkan sebagian kalangan di Indonesia terkait situasi Prancis dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw datang dari Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Gus Ulil Abshar Abdallah.


Menurutnya Gus Ulil, wacana terkait orang yang menghina Nabi Muhammad Saw telah menjadi perbincangan dunia. Olehnya, perlu pendalam dalam melihat masalah ini. 


“Seringkali orang bereaksi terhadap masalah tanpa pengetahuan mendalam soal situasi yang terjadi”, katanya saat menjadi nasumber webinar Talk Show Peci dan Kopi dengan tema “Islam and Blasphemy”, Selasa (03/11)


Ia mengurai, bahwa beberapa ulama fikih berpendapat mengenai hukuman orang yang menghina Nabi Muhammad Saw harus di bunuh. Namun hal terbut ia katakan, bahwa hukum tersebut hanya berlaku pada orang Islam.  


“Kalau kita melihat pendapat para ulama membahas hukum orang yang menghina kanjeng Nabi, bahwa  hukum orang yang menghina kanjeng Nabi itu harus di bunuh. Tapi ini hanya berlaku kalau yang melakukan orang islam. Jadi ini hukum hanya berlaku kepada orang islam. Tapi kalau dia bukan orang islam, tidak bisa dikenai dengan hukum ini”, paparnya.


Selain itu, hukum penistaan agama (blasphemy) kata Gus Ulil, akhir-akhir ini mulai dipersoalkan dalam dunia internasional. Karena menurutnya, hukum ini seringkali disalahgunakan untuk melakukan persekusi kepada minoritas yang punya posisi teologis berbeda.


Gus Ulil mencontohkan, bahwa hukum penistaan agama tersebut pernah berlaku di Pakistan. Dimana hukum tersebut memakan korban begitu banyak kelompok minoritas.


“Faktanya hukum blasphemy korbanya banyak kaum minoritas orang Kristen, orang Ahmadiyah dan Hindu, ya. Dan kadang-kadang definisi menghina itu kita tidak bisa kita tetapkan. Jadi menghina itu maksdunya bagaimana. Kadang-kadang penerpan hukum menghina itu sewenang-wenang. Itu menjadi soal sekarang. Blasfhemy menjadi perbincangan di dunia saat karena memang korbannya kebanyakan minoritas,” katanya


Terkait dengan orang Islam yang hidup di barat, pada umumnya seperti kita, yaitu orang islam moderat yang tidak marah-marah. Sebagian besar orang Islam sebetulnya mereaksinya tidak seperti di Indonesia. 


“Orang yang merespon hal seperti ini yang marah-marah hanya segelintir orang saja. Tetapi ada orang-orang yang seperti di kisahkan mashaltum, ada orang yang suka memobilisasi hal seperti ini sehingga menjadi masalah”, tutupnya. 


MUI Imbau boikot produk Prancis, Intelektual Muda NU: Apa untungnya bagi Umat Islam di Gorontalo?


Seruan boikot produk Prancis bergulir seperti yang disuarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas. MUI menghimbau umat Islam Indonesia melakukan boikot produk Prancis.


Hal tersebut disuarakan guna memberikan efek jera kepada Presiden Prancis, Emmanuel Marco, agar segera minta maaf.


“Menghimbau umat Islam sedunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis,” kata Anwar dalam keterangan resmi, kemarin, Jumat (30/10). 


Menyikapi hal itu, Intelektual Muda Nahdlatul Ulama Gorontalo Ust. Samsi Pomalingo mengatakan, bahwa  penghinaan yang dilakukan Presiden Prancis Emmanuel Marco terhadap Nabi Muhammad Saw tidak dapat dibenarkan. 


Karena menurutnya, hal tersebut menyangkut keyakinan satu agama tertentu. Sebab, Nabi Muhammad Saw adalah orang suci.


Tapi disisi lain, kata Wakil Ketua PCNU Kabupaten Gorontalo ini mengatakan, bahwa respon terhadap penghinaan Nabi Muhammad Saw tidak bisa dilawan dengan memboikot produk Prancis yang ada di Indonesia. Menurutnya, ada banyak produk Prancis di Indonesia sangat dibutuhkan masyarakat kita. 


“Penghinaan Presiden Prancis terhadap Nabi Muhammad Saw tidak bisa diterima. Karna ini menyangkut pribadi manusia yang sakral, yakni Nabi Muhammad Saw. Tapi ini tidak bisa dilawan dengan memboikot produk-produk Prancis. Karena banyak produk Prancis yang dibutuhkan masyarakat ketimbang produk Indonesia”, katanya saat dihubungi awak media nulondalo.online, Kamis (5/11)


Boikot produk Prancis menurutnya, bukan tindakan yang dapat menyelesaikan masalah. Dari segi sertifikasi kehalalan, produk Prancis bersertifikasi halal.


Ia katakan, mestinya MUI menjadi penyeimbang dalam polemik ini. Bukan turut ikut dalam aksi boikot produk Prancis. 


Selain itu, jika ada seruan aksi boikot produk Prancis di Gorontalo terjadi, maka menurutnya hal tersebut tidak menguntukan umat Islam di Gorontalo.


“Jika diboikot apalagi oleh MUI, maka ini sebuah tindakan yang tidak dapat menyelesaikan masalah. Pertama, dari segi kehalalan produk, kenapa sekarang di boikot. Kedua, harusnya MUI jadi penyeimbang dalam masalah ini, jika produk Prancis di Boikot. Ketiga, Jika produk-produk Prancis di boikot,  apa untungnya bagi umat Islam di Gorontalo?”, tutupnya. 


Dilansir dari berbagai sumber, ini daftar produk Prancis di Indonesia

 

1. Danone

Danone merupakan salah satu produsen makanan dan minuman terbesar di dunia yang berpusat di Prancis. Danone mengembangkan 4 kategori utama dalam bisnisnya, yaitu produk susu segar (fresh dairy product), nutrisi awal kehidupan (early life nutrition), air (water), dan gizi bedis (medical nutrician). Produk Danone terbagi dalam beberapa kategori, seperti essential dairy and plant based products yang meliputi Actimel, Activia, Danonino, Oikos, Silk; minuman seperti Evian, Aqua, Mizone; serta specialized nutrition seperti Nutricia dan Sarihusada Generasi Mahardhika.


2. Total

Total adalah perusahaan penghasil dan penyedia energi global terpadu yang bermarkas di Paris. Perusahaan minyak dan gas multinasional yang juga perusahaan operator tenaga matahari terbesar di dunia yang bekerja sama dengan SunPower dan Total Solar tersebut memiliki sejumlah SPBU dan juga menawarkan sejumlah produk seperti pelumas kendaraan.


3. Carrefour

Carrefour ialah sebuah kelompok supermarket internasional, berkantor pusat di Prancis. Carrefour adalah kelompok ritel kedua terbesar setelah Wal-Mart. Gerai Carrefour pertama dibuka pada 3 Juni 1957 di Annecy di dekat sebuah persimpangan. Kelompok ini didirikan oleh Marcel Fournier dan Louis Deforey. Di Indonesia, Carrefour menggandeng PT Trans Retail Indonesia dan memilki sejumlah industri ritel Indonesia melalui brand Carrefour, Transmart, dan Groserindo. 


4. BNP Paribas 

BNP Paribas merupakan sebuah bank utama di Eropa. Bank ini dibentuk melalui penggabungan Banque Nationale de Paris dan Paribas pada 2000 ini bermarkas di Boulevard des Italiens, Paris, Perancis. Selain layanan perbankan, BNP Paribas melalui BNP Paribas Asset Management juga menawarkan sejumlah produk reksadana, seperti BNP Paribas Rupiah Plus, BNP Paribas Prima USD kelas RK1, BNP Paribas Omega, hingga BNP Paribas Spektra.


5. Ibis

Ibis merupakan merek jaringan hotel yang dimiliki oleh grup perhotelan Prancis, Accor. Jaringan dari hotel ini paling banyak terdapat di Prancis, tapi banyak juga ditemukan tersebar di seluruh dunia. Pangsa pasar jaringan hotel ibis adalah ditujukan bagi para pengusaha atau pebisnis, dan pada umumnya merupakan hotel yang bertaraf internasional dengan bintang dua atau tiga. Di Indonesia terdapat 139 hotel dan 27.340 kamar jaringan hotel Ibis, seperti Raffles, Fairmont, Sofitel, Pullman, Swisssotel, Grand Mercure, dan Novotel.


6. L'Oréal Group 

L'Oréal Group merupakan sebuah perusahaan asal Prancis yang bergerak di sektor barang konsumsi dan industri kosmetik dengan fokus pada industri perawatan diri. 

L'Oréal Group sempat menempati peringkat ke-172 dalam daftar Global 2000, sebuah daftar perusahaan terbesar di dunia yang diperingkat oleh majalah bisnis Forbes, dengan total nilai pasar (market value) 98,7 juta dolar AS dan total aset sebesar 43,1 juta dolar AS. Beberapa produk L'Oréal Group, seperti Garnier dan Essie.


Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy, Perancis merupakan pengekspor obat-obatan terbesar kedua ke negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dengan 4,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 64 triliun pada 2018. Selain itu, Prancis juga pengekspor kosmetik terbesar ke blok OKI pada 2018 dan menjual sekitar 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 37 triliun.


Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy, Perancis merupakan pengekspor obat-obatan terbesar kedua ke negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dengan 4,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 64 triliun pada 2018. Selain itu, Prancis juga pengekspor kosmetik terbesar ke blok OKI pada 2018 dan menjual sekitar 2,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 37 triliun.


Prancis sendiri adalah mitra dagang terbesar kedelapan OKI. Sebagai sebuah blok, 57 negara anggota OKI membeli paling banyak dari China (2019; sekitar 319 miliar dolar AS), AS (sekitar 120 miliar dolar AS), dan India (sekitar 92 miliar dolar AS). dari China (2019; sekitar 319 miliar dolar AS), AS (sekitar 120 miliar dolar AS), dan India (sekitar 92 miliar dolar AS).


Anton Hamid