Ustad Safrudin: Ceramah Provokatif bukan Seruan Rasul - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Top Ads


 

More News

logoblog

Ustad Safrudin: Ceramah Provokatif bukan Seruan Rasul

Monday, November 30, 2020

 

Ustad Safrudin Mahmud, S.Pd.I, MM, Mubaliq Gorontalo dan
 Dewan Pembina GP Ansor Kota Gorontalo (Foto : Anton)


NUlondalo.Online, Kota Gorontalo - Tak hanya GP Ansor secara struktur dan para intelektual menanggapi ceramah bermuatan provokatif dan ujaran kebencian di negeri ini. Tanggapan kali ini, datang dari Ustad Safrudin Mahmud, S.Pd.I, MM, Mubaliq populer dikalangan grass root Gorontalo.


Dalam pandanganya, ia mengatakan, ceramah ataupun isi narasi yang dibangun oleh oknum-oknum penceramah dinilai sangat provokatif, penuh cacian dan makian. Model ceramah seperti ini, kata Ustad Safrudin, mencoreng agama Islam dan bukan seruan rasul


"Dakwah Rosulullah Saw itu menegakkan Amar Ma'ruf nahi Munkar, bukan isinya cacian dan makian. Bahasa provokatif dan adu domba adalah dakwah iblis lak'natullah", kata Dewan Pembina GP Ansor Kota Gorontalo ini.


"Sesungguhnya dakwah itu menyejukan dan penuh kedamaian", katanya. 


Ia katakan, bahwa mencegah kemungkaran itu tidak bisa dibalas dengan kemungkaran. Sebab kata Ustad Safrudin, hanya akan mendatangkan kemungkaran baru yang merugikan banyak pihak. 


"Jangan mencegah kemungkaran dengan kemungkaran, itu hanya akan mendatangkan kemungkaran yang baru, " tulis Ustad Safrudin via WhatsApp kepada kontributor nulondalo.online, Senin, (30/11/20).


Ia melanjutkan, bahwa ceramah itu idealnya menyerukan kebaikan, kedamaian dan kemaslahatan umat, bukan menyampaikan bahasa yang dapat membuat kegaduhan dan terpecah belah.


"Olehnya itu, saya mengajak sesama pendakwah, khususnya di Gorontalo, berdakwah dalam rangka mencegah kemungkaran dengan Ma'ruf, kebaikan atau berdakwah 'Bil Ihsan Wamau Izhotil Hasanah' ", papar murid langsung KH. Armin Otoluwa ini.


Meskipun gejala seperti ini belum ada tanda-tanda di Gorontalo, ia meminta kepada pemerintah, bahwa terkait menguatnya ceramah agama yang cenderung provokatif itu segera disikapi. 


"Pemerintah wajib bertindak tegas kepada oknum penceramah, yang hanya menimbulkan perpecahan di Masyarakat Gorontalo. Kedua, Pemerintah harus cepat tanggap menanggulangi adanya oknum penceramah yang mengatasnamakan agama, tapi provokatif"


"Terakhir, pemerintah harus menyatakan sikap penolakan terhadap oknum-oknum yang merusak ketentraman beragama yang mengatasnamakan agama," tutupnya.



Kontributor : Anton Al-Hamid