PMII Kota Gorontalo : Keliru Jika Aksi AKG Pecah Belah Persatuan - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

PMII Kota Gorontalo : Keliru Jika Aksi AKG Pecah Belah Persatuan

Saturday, December 5, 2020

 

Ketua cabang PMII Kota Gorontalo Apriyanto Rajak.


NUlondalo.Online, Kota Gorontalo - Ketua cabang Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo Apriyanto Rajak menilai, amat keliru jika Pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Gorontalo menyatakan di salah satu media online, bahwa aksi yang digelar oleh Aliansi Kebangsaan Gorontalo (AKG) di Bundaran Saronde, Jum’at (4/12/2020) tersebut tengah memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat Gorontalo.


Menurutnya, Aksi yang dilakukan Aliansi kebangsaan Gorontalo (AKG) sebagai bentuk penegasan bahwa Gorontalo tidak menerima penceramah yang dapat memecah bela persatuan umat. Aksi tersebut pun justru menjadi penegas bahwa masyarakat Gorontalo tidak suka dengan model ber-Islam marah-marah yang di tampilkan Rizeq Shibab.


Sebab akan datangnya Rizieq Sihab di Provinsi Gorontalo berpontensi merusak kedamaian yang selama ini telah terjaga. Mengapa demikian, karena Rizieq Sihab yang sejatinya merupakan seorang ulama justru tidak meneladankan sifat-sifat ulama.


“kita bisa lihat setiap isi ceramahnya selalu menghadirkan konten-konten provokatif serta mempropagandakan ujaran kebencian terhadap sesama. Termasuk kepada sesama ulama di Indonesia," ujar Aprie, sapaan akrabnya.


Lantas, ketika ia akan datang dengan ke Gorontalo membawa jargon “Revolusi Akhlak”, lalu Revolusi Akhlak yang seperti apa yang dimaksudkan? Seakan-akan Rizieq Sihab akan mengajari masyarkat Gorontalo dalam berakhlak. Sementara di satu sisi, masyarakat Gorontalo telah memiliki falsafah yang dijunjung tinggi yakni: Adat Bersendikan Sara’, Sara’ Bersendi Kitabullah”, yang sudah sejak lama akulturasi antara adat dan agama ini menjadi spirit hidup masyarakat Gorontalo.


Selain itu, dalam sejarahnya pun Islam yang datang di Indonesia tidak dengan peperangan, kasar dan marah-marah. Melainkan Islam terterima di Indonesia dengan damai, sejuk, serta tidak menghilangkan tradisi yang telah mengakar kuat di Nusantara. Alhasil, dengan metode dakwah seperti ini Islam terterima di Indonesia dan telah menjadi agama mayoritas.


Untuk itu kita sebagai generasi muda, terutama anak muda Gorontalo agar senantiasa terus mengampanyekan Islam yang damai, ramah dan toleran terhadap agama lain, seperti apa diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.


"Sehingga dengan demikaian, praktek beragama semacam ini akan terus memperkuat bangsa kita tercinta, yakni Indonesia," tutup Aprie


Kontributor : Anton Hamid