Bone Pesisir Dalam Pendidikan & Ekowisata (Studi Kasus Riset UNU Gorontalo) - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Bone Pesisir Dalam Pendidikan & Ekowisata (Studi Kasus Riset UNU Gorontalo)

Thursday, January 21, 2021

Bone Pesisir. (Foto: pidii.info)












NUlondalo.Online - Bone Pesisir merupakan gabungan beberapa kecamatan yang ada di kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Kecamatan tersebut terdiri dari bone, bone pantai, bone raya, bulawa, dan kabila bone. Bone pesisir sangat strategis karena tepat berhadapan langsung dengan teluk tomini. 


Teluk ini memiliki kekayaan karang beserta hasil laut lainnya sehingga  menyebabkan biodiversitas di teluk ini cukup tinggi. Oleh karenannya  teluk ini juga di juluki sebagai kawasan segi tiga terumbu karang. Makanya  mantan  Presiden Republik Indonesia yang ke enam bernama bapak Susilo Bambang yudhoyono menjadikan "sail tomini" sebagai agenda tahunan untuk memancing para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Perlu diketahui bahwa teluk ini merupakan teluk terbesar yang ada di indonesia. 


Karena berada di daerah teluk, sehingga bone pesisir juga memiliki beberapa spot untuk dijadikan tempat wisata pantai. Kegiatan tersebut bermanfaat untuk memajukan ekonomi kreatif masyarakat sekitar pantai. Sebelumnya kegiatan riset yang digelar oleh Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo menujukan bahwa kecamatan yang memiliki spot pantai terbanyak yang memungkinkan untuk dijadikan spot pariwisata ialah Kabila Bone. Dalam peneilitan tersebut menujukan bahwa kecamatan Kabila Bone memiliki  10 spot pariwisata, adapun spot pariwisata tersebut diantaranya:


1. Air terjun taludaa

2. Taman laut olele

3. Bukit tangga bali

4. While shark Gorontalo

5. Pantai Botutonua

6. Pantai oluhuta

7. Pantai molotabu

8. Hiu paus botubarani

9. Pantai kurenai 

10. Water Sport bintalahe


Kesepuluh pariwisata itu kebanyakan terfokus pada kekayaan alam berupa pantai. Pantai yang akan memanjakan para wisatawan karena tepat berada di depan teluk tomini. Sehingga memberikan kekayaan spot alam nya yang begitu melimpah baik berupa bioderversiti maupun karang-karang alaminya. Selain dari pada itu, beberapa pantai yang berhadapan langsung dengan teluk tomini ini juga memiliki pasir putih yang indah dan eksotis. Sehingga potensial dijadikan sebagai area rekreasi maupun tempat refleksi fikiran dan batin. 


Selain spot wisata pantai tersebut, bone pesisir juga potensial untuk dijadikan sebagai areal edukasi. Seperti pada kawasan hiu paus botubarani. Dimana hiu paus yang ada di tempat ini jenis (Rhicondon typus) ditetapkan sebagai hewan yang dilindungi. Peraturan tersebut termuat melalui KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN Nomor 18 Tahun 2013. Dengan alasan tersebut sehingga upaya-upaya konservasi pun dilakukan oleh pemerintah pusat. Akan tetapi tak menutup kemungkinan agar dapat dijadikan sebagai bahan pendidikan,edukasi, dan informasi terkait hiu paus. 


Bahan pendidikan, edukasi, dan informasi tersebut bisa difokuskan kepada perkembangbiakan, interaksi, serta upaya-upaya penangan hiu paus. Salin itu, tak menutup  kemungkinan juga untuk dijadikan sebagai suatu penilitian yang baru. Sehingga dapat memajukan serta menambah pemahaman masyarakat terkait hiu paus. 


Itulah beberapa dari banyak kekayaan sumber daya alam yang berada di kawasan bone pesisir ini yang telah di gali dan di eksplorasi oleh Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo. 


Bagi penulis data informasi tersebut dapat dijadikan sebagai acuan untuk memajukan kawasan bone pesisir sebagai areal pariwisata dan pendidikan. Karena dengan adanya pariwisata sehingga memungkinkan untuk  dapat meningkatkan perekonomian baik masyarakat setempat maupun pemerintah daerah ataupun provinsi.

 

Selain itu juga dengan difokuskan pendidikan di daerah yang memang memiliki kawasan objek penelitian, maka hal tersebut juga berdampak terhadap kemajuan pendidikan dan informasi masyarakat sekitar. Sehingga perubahan sosial dari pendidikan dan ekonomi dapat terjadi dan menuju ke arah yang menguntungkan daerah tersebut. 


Penulis: Sabaruddin B. S. Hut., M. Hut, Dosen Konservasi Hutan Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo