Generasi Baru: NU Muda Gorontalo Progresif - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyin Gorontalo

Top Ads


 

More News

logoblog

Generasi Baru: NU Muda Gorontalo Progresif

Monday, February 1, 2021

 

Foto Istimewah

Oleh Faisal Suwara

Kordinator GUSDURian Boalemo. Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


Kepada Anda sekalian, saya yang penuh dosa ini mula-mula meminta maaf. Di momen kebahagian hari lahir Nahdatul Ulama, saya justru membagikan kebodohan ini kepada Anda. Saya sungguh kurangajar, memang. Maafkan hamba.


Tulisan ini, tidak sama sekali mengevaluasi NU secara keselurhan. Selain literatur dan pengalaman saya sangat terbatas ketika melihat NU pada umumnya, saya sadar, apalah daya saya bukanlah siapa-siapa yang bahkan baru kemarin sore mengenal organisasi Islam terbesar di dunia ini. 


Tidak lain, tulisan ini, berniat sedikit membagikan pengetahuan terbatas saya soal kerja-kerja anak muda NU di Gorontalo, khususnya dalam rangka pengawalan hak-hak sipil di Gorontalo.  Saya berusaha serapi mungkin menjelaskan peran anak muda NU Gorontalo dari yang awalnya – menurut saya – tidak kelihatan, sampai akhirnya begitu semangat dan progreif. Dan tulisan ini juga bersungguh-sungguh  mengapresiasi kerja-kerja anak muda NU Gorontalo belakangan ini. Patut diacungi jempol. Hormat.


Supaya terarah, saya membagikan dua hal yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini. pertama: Anak muda NU Gorontalo. Dan kedua; Anak muda NU Gorontalo Progresif. Pembagian dua hal itu semata-mata, sekali lagi, agar saya dan Anda juga bisa melihat, ada perbedaan yang signifikan terjadi, yang itu menuju kebangkitan NU Gorontalo. Tentu masih dengan tujuan yang sama, menyoal kerja-kerja pengawalan hak sipil di Gorontalo.


Anak Muda NU Gorontalo


Jika tidak keberatan, saya harus mengakui, bahwa kerja-kerja anak muda NU di Gorontalo sebelumnya kerap diklaim sebagai pekerja  “aktor politik pragtis” dan turut terlibat dalam ranah kekuasaan yang tidak sehat, begitu kompromistis, bahkan sebagian orang lainnya menganggap, NU Gorontalo kerap dimanfaatkan oleh anak-anak muda ini untuk menjernihkan karir kekuasaan mereka – atau hanya sekedar pasang badan untuk memuluskan jalan orang lain demi kepentingan individu atau kelompok tertentu.


Klaim itu begitu lama bertebaran, dari orang ke orang, mengakar, menjadi rahasia di setiap percakapan. Klaim itu diperkuat lagi dengan adanya hegemoni anak muda NU Gorontalo yang begitu berapi-api jika ada hajatan yang berbau politik pragtis. Sebaliknya, saya tidak melihat adanya semangat yang sama  oleh anak muda NU Gorontalo jika mengurusi hal-hal yang bersifat ke bawah. Dalam artian, tidak ada ruang untuk anak muda NU Grontalo mengurusi kebijakan kekuasan yang berefek pada masyarakat. 


Anak muda NU Gorontalo  tidak jernih lagi melihat persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Asbab, keterlibatan anak muda NU Gorontalo dalam politik begitu kuat dan tak ada lagi keberpihakan kepada masyarakat. Keberpihakan yang saya maksud, adalah pengawalan anak muda NU Gorontalo kepada masyarakat yang terancam kebebasannya, terancam kehidupannya, dan terancam lingkungannya. 


Senada dengan Gus Ulil, ia mengatakan,  sebaiknya sikap politik itu harus “berjarak”. Agar ada suara lain yang tidak semata-mata mengamini apapun yang menjadi kebijakan pemerintah/penguasa.Harapannya berjarak, Anak muda NU Gorontalo – sebelum lahirnya anak muda NU Gorontalo yang progress – justru menempel, rapat, ketat bersama penguasa.


Selanjutnya, anggapan saya, anak muda NU Gorontalo itu memilih menjalankan amanat elit yang, secara hitungan pragmatisnya, lebih menguntungkan mereka. Kelalaian anak muda NU Gorontalo dalam melihat realitas masyarakat lokal telah gagal. Dalam konteks pengawalan hak sipil, misalnya. Ada banyak sekali pelanggaran masyarakat sipil yang dilakukan oeh penguasa di Gorontalo namun enggan disuarakan, atau dikawal langsung oleh anak muda NU Gorontalo. Justru, pelanggaran ke masyarakat sipil ini cenderung dipelihara oleh anak muda NU Gorontalo. 


Perisisnya, Tahun 2020 kemarin, di sela-sela masyarakat dan sebagian organisasi yang bergerak di lingkungan begitu kuat menyuarakan keras pelarangan pembabatan mangrove dan alih fungsi wisata Pantai Ratu, anak muda NU Gorontalo, melalui lembaga pendidikannya, Universitas Nahdatul Ulama Gorontalo (UNUGO)  justru mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan wisata pantai ratu, yang mulanya adalah rimbunan pohon mangrove. 


Dukungan itu terlihat dalam penandatanganan nota kesepahaman antara Pemerintah Boalemo bersama UNU. Selanjutnya, Pulau Ratu itu akan menjadi lokasi Lab Alam untuk tiga program studi, yakni Program Studi konservasi hutan, Teknik Lingkungan, dan Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan.  


Tidak hanya itu. Awal Tahun 2019 kemarin, Gorontalo diramaikan dengan isu pelecehan seksual. Tepatnya, seorang oknum dosen yang melecehakan mahasiswinya sendiri. Pelecahan itu terjadi di Kampus Islam, IAIN Sultan Amai Gorontalo. 


Dalam proses investigasi, saya dan kawan-kawan menemukan beberapa fakta yang, sungguh mengecewakan. Di mana, oknum dosen tersebut berafiliasi di NU Gorontalo. Saya kecewa menemukan fakta itu. Beruntung, NU Gorontalo segera mengambil tindakan untuk memecat oknum dosen ini dari ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Namun bukan itu poin saya, Saya ingin bilang bahwa, anak muda NU tidak mampu mengawal korban pelecehan seksual di Gorontalo. Sampai saat ini, tak dipungkiri, kasus 2019 silam, sampai dengan sekarang belum juga mendapat titik terang. 


Anak muda NU Gorontalo harus mengawal ini.


Selanjutnya,tidak adanya keterlibatan anak muda NU Gorontalo dalam mengawal tingkah penguasa yang lalim kepada masyarakat. Tidak adanya kebebasan berpendapat, pengambilan paksa tanah warga, persekusi mahasiswa, dan pengerusakan lingkungan, lalai disuarakan oleh anak muda NU Gorontalo.


Anak Muda NU Gorontalo Progresif


Saya bersyukur, belakangan ini, anak muda NU Gorontalo progresif – saya menyebutnya demikian agar kentara perbedaannya dengan Anak Muda NU Gorontalo – telah hadir sebagai alternatif  gerakan muda NU di Gorontalo. Klaim di atas  yang lengket di tubuh anak muda NU Gorontalo berusaha dibantah oleh anak muda NU Gorontalo progresif.


Tanpa aba-aba, Anak Muda NU Gorontalo Progresif ini muncul dengan warna yang terang benderang. Setidaknya, saya pernah melihat langsung bagaimana perjuangan Anak Muda NU Gorontalo progresif  ini bangkit dan mulai membenah diri. Meskipun kenyataanya, ada semacam konflik kecil yang terjadi di internalnya, itu bukan berarti menyurutkan semangat Anak Muda NU Progresif.


Mulai dari kepekaan pendampingan mayarakat kurang mampu, pendistribusian bantuan pokok masyarakat, sampai dengan memastikan kesehatan masyarakat, dan kebutuhan masyarakat, telah dilakukan oleh Anak Muda NU Gorontalo Progresif . Pengawalan lain yang sungguh dilakukan oleh mereka adalah, membentuk posko pengaduan korban pelecehan seksual dan korban represi aparat pada saat gejolak penolakan gerakan masa terhada UU Cipta Kerja di pertengahan Tahun 2020 kemarin. 


Di sisi lain, Anak Muda NU Gorontalo Progresif  ini kembali ambil bagian dalam meluruskan banjirnya informasi yang tak terelakkan. Mereka paham, informasi merupakan titik paling fundamental di zaman ini. Kehadiran mereka, melawan narasi provokatif dan menjernihkan informasi publik. Pada hal lain, Anak Muda NU Gorontalo Progresif selalu mengkampanyekan kebebasan perpendapat, tolak pecehan seksual,  hak warga, dan segala yang menyangkut hidup orang banyak.


Melalui NUlondalo Multimedia Grup, NU Gorontalo semakin terpelihara rasa ingin mencerdasakan masyarakat Gorontalo. Ngaji kitab, diskusi mingguan, kampanye keberagaman, penolakan pelanggaran sipil, selalu ditampilkan di masyarakat. Anak Muda NU Gorontalo Progres menjadi lebih awas dengan hal-hal yang berhubungan dengan politik pragtis. Bagi saya, itulah yang menjadi alasan utama kenapa saya begitu kagum dengan gerakan mereka.


Kebangkitan mereka belum berjalan lama, ada banyak tanggung jawab yang perlu mereka tunaikan, terutama dalam pengawalan masyarakat sipil. Pelanggaran yang nyatanya dirasakan oleh masyarakat Gorontalo satu per satu perlu diseriusi oleh Anak Muda NU Gorontalo Progresif ini. Dan itu berat rasanya, karena pasti akan berbenturan dengan Anak Muda NU Gorontalo (yang belum progresif).


Yang pastinya, Anak Muda NU Gorontalo Progresif  jangan dulu merasa telah melakukan sesuatu di masyarakat. Ada banyak PR yang perlu dikerjakan. Selain mengawal masyarakat, Kebangkitan ini merupakan momentum untuk memperbaiki jarak di internal NU itu sendiri. Dan pastinya kebangkitan ini butuh nafas panjang, butuh tenaga yang banyak, butuh mental yang masak. 


Terakhir, sekali lagi, maafkan saya.

begitu.