“Islam Arab – Islam China” menyatunya jadi Islam Nusantara - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

“Islam Arab – Islam China” menyatunya jadi Islam Nusantara

Saturday, February 13, 2021

Istimewah


Oleh : Man Muhammad


Jika membaca buku-buku sejarah Nusantara, kita akan menemukan bahwa hampir semua sejarawan menerima fakta penyebaran Islam di Nusantara lewat jalur perdagangan. Tapi, apakah ini dibawa oleh pedagang muslim Arab, pedagang muslim India, atau bahkan muslim China? Memang masih menjadi perdebatan. 


Namun, terlepas dari perdebatan tersebut, masuknya Islam di Asia Tenggara atau Islamisasi Asia Tenggara –Indonesia khususnya, selalu menjadi topik menarik di kalangan sejarawan sejak abad ke 18. Islam Asia Tenggara memiliki kaitan erat dengan  kedatangan umat muslim yang berasal dari Champa. Yaitu sebuah daerah yang letaknya berada di Semananjung Indochina dan merupakan salah satu negara taklukan China sejak Dinasti Tang yang saat itu berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran Konfusian. 


Menariknya, meskipun pengaruh ajaran-ajaran Konfusianisme saat itu cukup kuat di kalangan Istana, tapi agama yang dianut oleh negara adalah Hindu. Namun, di tengah pengaruh Konfusian dan Hindu saat itu, terdapat dua nisan yang ditemukan beridentitas nama seorang muslim terletak di wilayah Phanrang, Champa Selatan. Hal ini tentunya memunculkan spekulasi tentang kehadiran sekelompok kecil pedagang Arab di Champa yang sangat kaya serta memiliki pengaruh atau, bisa jadi makam tersebut merupakan penduduk asli yang memeluk Islam kemudian mengganti namanya seperti nama seorang muslim.


Di sisi lain, jika kita menelisik lebih jauh ke berbagai hikayat dan tradisi lisan Jawa, itu membenarkan adanya keterkaitan antara Champa dan Istana Majapahitdi abad ke 14. Dalam hal ini disebutkan bahwa Raja Majapahit yang beragama Hindu menikahi seorang anak putri anak dari Raja Champa yang beragama Islam. Putri Raja yang dinikahi oleh Raja Majapahit ini memiliki ponakan bernama Muhammad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat yang ikut serta ke Tanah Jawa untuk mengenalkan Islam kepada orang-orang Ampel lalu mengislamkan mereka. Karena itu pula, Raden Rahmat atau Muhammad Ali Rahmatullah dikenal dengan nama Sunan Ampel. 


Genealogi ini kemudian dilanjutkan oleh anak Sunan Ampel yang bernama Maulana Makdum Ibrahim atau dikenal dengan nama Sunan Bonang dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Konon, julukan Sunan Bonang kepada Maulana Makdum Ibrahim –selain karena Bonang merupakan nama salah satu desa yang berada di Rembang yang menjadi tempat berdakwahnya— juga karena diduga berasal dari ‘nama Chinanya’ Bong Ang seperti nama lain dari Sunan Ampel yaitu Bong Swi Hoo. 


Selanjutnya, cucu perempuan Sunan Ampel dinikahi oleh muridnya, Raden Patah, yang juga merupakan pendiri Kesultanan Islam Demak Bintoro sekaligus menjadi Raja pertamanya. Di mana Raden Patah sendiri merupakan anak dari Brawijaya sebagai Raja terakhir kerajaan Majapahit dan selirnya yang berasal dari Tionghoa dengan nama Siu Ban Ci. Sebagai seorang blasteran Jawa-China, Raden Patah sama seperti Sunan Ampel dan Sunan Bonang yang memiliki ‘nama China’ Tang Eng Hwa dengan julukan Jin Bun atau ‘Orang Kuat’. 


Keterkaitan Kesultanan Islam Demak Bintoro dengan bangsa Tionghoa (China) ini dikuatkan oleh penelitian yang dilakukan Stephen Backshall dalam bukunya The Rough Guide To Indonesia yang menyatakan bahwa Kesultanan Demak didirikan oleh muslim Tionghoa yang bernama Cek Ko Po yang juga ‘nama lain’ dari Raden Patah.


Belum lagi berkaitan dengan sejarah Laksamana Cheng Ho, pemimpin armada perang China yang beragama Islam dan menyiarkan Islam selama kurang lebih 28 tahun perjalanannya menyusuri lautan dan sempat singgah di bumi Indonesia. Di mana hal tersebut dibuktikan dengan adanya Gedung Batu atau Kuil atau Klenteng Sam Poo Kong yang berada di Semarang yang dibangun oleh masyarakat Tionghoa sebagai bentuk penghormatan mengenang pendaratan pertama yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Ho yang saat itu sebagai pimpinan armada perang China dan beragama Islam.


Atau, semakin ke sini kita akan menemukan sosok Allah Yarham KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang telah mengukir sejarahnya lewat “sikap politik” sebagai seorang Kiai sekaligus seorang Presiden, dengan melakukan pembelaan atas hak-hak orang Tionghoa-Indonesia dengan pernyaataan tegas bahwa orang-orang Tionghoa-Indonesia memiliki hak yang sama sebagai warga negara untuk beribadah sesuai keyakinannya, di mana selama 32 tahun lamanya kebebasan mereka dibelenggu oleh kekuasaan Orde Baru. 


Alhasil, karena pembelaan Gus Dur dengan memberikan hak-hak beribadah dan merayakan hari-hari besar orang-orang Tionghoa sesuai adat istiadat yang mereka punya, Gus Dur didaulat oleh orang-orang China-Indonesia sebagai bapak Tionghoa Indonesia. Hal itu kemudian terbukti dengan bagaimana kita dapat menemukan di kawasan pecinan Semarang, keabadian penghormatan orang-orang Tionghoa terhadap Gus Dur  di setiap tahun baru China atau Imlek diwujudkan dalam bentuk sinci atau papan arwah yang ditempatkan di altar leluhur warga Tionghoa di Gedung Rasa Darma atau Boen Hian Tong dengan tulisan “Furuo Guoshi, Yinhua zhi fu” Bapak Bangsa Penolong yang Lemah, Bapak Tionghoa Indonesia. 


Menariknya, sejak ada sinci Gus Dur di altar para leluhur Tionghoa, sesajian di meja tempat penyembahan depan sinci yang biasanya  terdiri atas daging ayam, ikan, dan babi, diganti menjadi daging ayam, ikan, dan daging kambing. Alasannya, karena mereka menghormati Gus Dur sebagai seorang muslim. 


Terakhir, di Tahun Baru Imlek 2572 yang bertepatan dengan tanggal 12 Februari 2021, juga berdasarkan atas sejarah panjang masuknya Islam ke Indonesia dengan penuh kedamaian tanpa peperangan, saya sebenarnya hanya ingin mengatakan –meskipun harus diawali dengan uraian yang bertele-tele—, bahwa: Islam, Arab, China, di Indonesia, itulah Bhinneka Tunggal Ika. Yang menyatu dan disatukan dalam bingkai keberagaman dan keberagamaan, yang kita namakan Pancasila, dan tepat di posisi itulah “Islam Saya, Islam Kita, Islam Nusantara”.