Kritik Saya atas ‘Saya’ yang Mendaku Nahdhiyyah - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Mobile Menu

Top Ads

 


More News

logoblog

Kritik Saya atas ‘Saya’ yang Mendaku Nahdhiyyah

Tuesday, February 2, 2021

 

Foto Istimewah


Oleh : Man Muhammad


Kemarin, 31 Januari 2021 kita baru saja merayakan Hari Lahir Nahdhatul Ulama dengan penuh suka cita. Berawal dari 1926 sebelum bangsa ini merdeka hingga sekarang di mana kata merdeka menjadi hak segala bangsa. Yang berarti, 95 tahun sudah kiprah NU –secara kelembagaan— untuk Indonesia.


Perihal NU, saya pertama kali mendengarnya saat menguping pembicaraan almarhum Aba saya dengan almarhum KH. Abdul Ghofir Nawawi, Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Gorontalo, yang waktu itu datang berkunjung ke rumah. Aba dengan kiai Ghofir memang berkarib. Berapa kali dalam perjalanan ke luar kota mereka sering bepergian bersama. Saat kunjungan kiai Ghofir ke rumah kala itu, saya lupa kejadian persisnya tahun berapa, yang jelas, saya masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat Tilamuta, Gorontalo. 


Sependek yang saya ingat ketika mendengarkan pembicaraan mereka, almarhum Kiai Ghofir menawarkan Aba untuk ikut bersama beliau dalam struktur Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama Gorontalo. Sayangnya, Aba menolak. Sambil mengangkat kedua tangannya Aba mengatakan begini, “Saya takut, ustadz. Karena semua dari apa yang saya pelajari itu hanya dari Alkhairaat, dan saat ini saya diamanahi untuk mengembangkan Alkhairaat Tilamuta. Jadi, untuk dakwah, biarlah saya dengan jalur Alkhairaat, dan ustadz dengan jalur NU. Doakan saja, Insya Allah ada anak saya yang juga akan belajar dari NU.” 


Saya memang tidak paham sedikit pun dari jawaban yang Aba berikan kepada karibnya, Kiai Ghofir. Yang saya tahu, Alkhairaat ya NU, NU itu ya Alkhairaat. Alasan saya sederhana, karena dua-duanya tahlilan, qunutan, shalawatan, juga ziarah ke kuburan. 


Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai sedikit memahami apa itu Alkhairaat, apa itu Nahdhatul Ulama. Terlebih, saat membaca tulisan almarhum KH. Abdul Karim Djaelani (salah seorang murid Habib Idrus bin Salim Aljufri, pendiri Pondok Pesantren Alkhairaat) yang menceritakan tentang sepakterjang perjalannya selama di Alkhairaat. 


Dalam tulisannya tersebut, ustadz Abdul Karim pernah datang berkunjung ke kantor PBNU untuk bertemu dengan KH. Idham Khalid yang saat itu menjabat sebagai ketua. Kedatangannya tidak lain ingin membicarakan perihal NU yang sementara memperluas basisnya dengan membuka madrasah-madrasah sebagai lembaga pendidikan di kawasan Indonesia Timur, di Kota Palu khususnya, yang di mana telah berdiri Alkahiraat sebagai lembaga pendidikan. PDi tulisannya tersebut ustadz Abdul Karim mengakatan;


 “Kami bukan tidak setuju dengan NU membuka lembaga semacam pendidikan madrasah yang sama dengan pihak Alkhairaat di kawasan Indonesia Timur, tetapi nampaknya hal ini agak mubazir. Sebab, baik Alkhairaat maupun NU sama-sama bermadzhab Ahlussunnah wal Jama’ah. Kenapa kita tidak membagi wilayah yang mungkin NU sangat pantas melakukan operasi kegiatan pendidikan mereka seperti di Kalimantan Barat, sebagian pulau Jawa dan Sumatera yang kami yakini daerah itu masih memerlukan peranan NU di bidang pendidikan. Apalagi wilayah itu penduduknya jauh lebih padat dari wilayah yang ada di Indonesia Timur. KH. Idham Khalid yang saat itu menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama berkomentar, “memang antum-antum, orang Pesantren Alkhairaat ini lebih genius daripada kami, dan Insya Allah dalam perjuangan kita boleh berpisah di Hulu, tapi bakal bertemu di teluk.”


Ya, di titik ini pemahaman saya perihal Alkhairaat dan NU mulai bertambah sedikit –paling  tidak, saya mendapatkan jawaban atas jawabannya Aba ke kiai Ghofir. Singkatnya, secara manhaj dan madzhab mereka seirama, mereka ahlussunnah wal jama’ah yang berakidah asya’irah, dan juga berthariqah –dalam hal ini sesuai amanah Habib Idrus bahwa Abna’ Alkhairaat berthariqah Alawiyyah)—, dengan kultur yang sama hanya saja berbeda dalam masalah struktur. Dan itu bukan jadi soal untuk menghidupkan agama, berdakwah dengan jalan hikmah wa mauidzatil hasanah. Nuansa ini yang kemudian terbangun –khususnya di Gorontalo— di mana ada Alkhairaat pasti di situ ada NU, dan di mana ada NU pasti di dalamnya ada Alkhairaat.


Jika Alkhairaat berdiri di Palu tahun 1930 M dengan Pondok Pesantren Alkhairaat Tilamuta yang menjadi Pondok Pesantren Alkhairaat pertama di Gorontalo yang peletakan batu pertamanya dilakukan langsung oleh Habib Idrus sebagai pendiri Alkhairaat, tetapi untuk NU saya pribadi belum mengetahui kapan persisnya ada di Gorontalo. Yang terlacak hanya ada nama-nama para Ulama Rabbani yang mengawal masa-masa awal NU di Gorontalo, di antaranya: KH.  Abbas Rauf, KH. Adam Zakaria, KH. Abdul Ghofir Nawawi, KH. Abdul Rasyid Kamaru, H. D.K Usman, dan H. Yusuf Mopangga.


Meskipun demikian, tahlilan, shalawatan, ziarah kuburan, yang mengakar kuat di kalangan NU –begitu pula Alkhairaat—merupakan tradisi yang telah lama dipraktikkan oleh orang-orang tua Gorontalo. Sebab, bersatu manunggalnya adat dan syariat di Gorontalo adalah kombinasi yang saling menopang satu sama lain dan tidak bertabrakan dalam mengakomodir kebutuhan masyarakat atas agama dan adat di Gorontalo. 


Falsafah adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula to kitabullah (adat bersendikan syariat dan syariat berlandaskan Alquran dan Hadis) yang dicetuskan dua abad silam di zaman Raja Eyato menjadi bukti nyata bahwa keharmonisan antara adat dan agama telah berlangsung sejak lama.  Itulah mengapa, kehadiran NU –maupun Alkhairaaat—secara kelembagaan dapat diterima oleh masyarakat Gorontalo.


Namun, seiring dengan perkembangan zaman di Gorontalo dan populisme beragama yang ditandai dengan kecenderungan masyarakat untuk belajar agama lebih mendalam serta masuknya organisasi-organisasi ‘trans nasional’ yang ‘tidak ramah’ terhadap adat dan tradisi yang telah berlangsung lama di Gorontalo, menjadi tantangan sendiri bagi warga nahdhiyyin dan Abna’ Alkhairaat. 


Di sisi ini, kecenderungan belajar agama lebih mendalam menjadi nilai positif tetapi, karena tidak mengindahkan kaidah “al muhafadzatu ala al qadimi as shalih wal akhdzu bil jadid al ashlah (mempertahankan yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik) akhirnya menyebabkan benturan baru. Sebab, kecenderungan positif ini tidak dibarengi dengan mempelajari atau paling tidak menghargai adat istiadat dan tradisi masyarakat Gorontalo yang telah berlangsung lama. Alhasil, tanpa bisa dinafikan, yang nampak di permukaan adalah budaya takfiri dan saling menghakimi satu dan lainnya. Lalu, bagaimana dan di mana posisi NU –juga Alkhairaat—dalam menyikapi realitas ini?


Jawabannya jelas, bahwa bagaimana dan di mana posisi NU –juga Alkhairaat— yaitu dalam dakwahnya tetap berpegang teguh sesuai yang diperintahkan dalam Alquran dengan mengajak orang ke jalan Tuhan dengan hikmah/kebijaksanaan yang dibarengi dengan laku hidup/akhlak yang baik sebagai contoh. Hal ini sudah dilakukan oleh para ulama, kiai, dan dai di Gorontalo yang terafiliasi sebagai warga nahdhiyyin, baik itu secara kultur atau pun struktur. Tetapi, menjadi soal yang baru saat penyikapan ini dihadirkan kepada sebagian generasi milenial nahdhiyyah sekaligus PR buat kita bersama, dan saya pribadi khususnya.


Ya, saya memang secara sadar dan sengaja menyoal realitas dengan lebih menyasar ke arah generasi milenial nahdiyyin Gorontalo. Sebab, dalam pandangan subjektif saya, menjadi NU itu, bukan sekadar merayakan ritual tahunan di tanggal 31 Januari. Tetapi, menanamkan ritual keyakinan dalam tingkah dan laku hingga nafas berhenti dihembuskan, sembari menanti hari kebangkitan. 


Menjadi NU itu; menghidupkan dzikirnya, shalawatannya, tasamuhnya, tawazunnya, juga tawasuthnya. Bukan menjadikan semua itu batu loncatan untuk sekadar mencari kehidupan apalagi ketenaran. Karena, menjadi NU itu; tidak menjadikannya sebagai tujuan, melainkan jalan terang sebuah pengharapan atas syafaat dari Sang Junjungan, agar mendapatkan rahmat dan keridhaan Tuhan Yangpenyayang.


Secara singkat, bisa dikatakan kita generasi milenial nahdiyyah Gorontalo hari ini –semoga— telah menjadi NU yang kaffah. Namun, jika dilihat secara mendalam ada beberapa hal yang penting dan menggelitik terutama bagaimana sikap generasi milenial nahdiyyin merespon kehadiran organisasi-organisasi ‘garis kanan’ yang senang membudidayakan bid’ah atau takfiri terhadap golongan yang berbeda pandang dengan kita, terutama dalam masalah yang berkaitan dengan adat dan tradisi masyarakat. 


Di sini saya tidak akan menyoal perihal intelektualisme, karena dengan kekaffahannya menjadi NU, serta menjaga keberlangsungan adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to kitabullah sebagai falsafah masyarakat Gorontalo, itu dapat mengatasi setiap perbantahan dan perdebatan yang berkaitan perihal adat dan syariat dengan alasan-alasan rasional yang ilmiah dan dapat diterima baik di kalangan akademisi atau pun masyarakat luas. 


Namun, akan berbanding terbalik jika telah masuk ke ranah ibadah. Dalam hal ini kita generasi milenial NU banyak kecolongan. Memang, masalah ibadah adalah hubungan individu dengan Tuhannya, bukan tugas kita berurusan dengan itu. Tetapi, satu hal yang sangat penting untuk disadari, bahwa kebanyakan masyarakat kita selalu melihat dari tampilan luarnya, dan organisasi ‘garis kanan’ berhasil masuk lewat celah ini. 


Mereka hidupkan masjid-masjid di setiap waktu shalat. Sedang kita leha-leha ongka kaki dengan sebatang rokok diapit dua jari tangan sambil tertawa cekikikan tanpa peduli kumandang panggilan. Kita berdebat perihal shalawatan, tetapi ketika ada shalawatan yang diadakan oleh mereka yang masih peduli dengan tradisi NU, kita tidak pernah kelihatan. Kita mati-matian membela tahlilan, namun saat ada kedukaan kita tidak pernah hadir dengan beragam alasan. 


Beruntung, di tengah ‘ketidakpedulian’ kita atas realitas hari ini yang telah menggerogoti sebagaian generasi milenial NU serta menjadi fenomena dan pemandangan ironis di tubuh NU, kita masih memiliki generasi muda NU progresif, yang mau serta berhasil menghidupkan kembali dakwah dengan bentuk pengajian dan diskusi mingguan, mengkaji kitab-kitab kuning yang ditulis oleh para ulama terdahulu, juga ceramah-ceramah agama yang disiarkan secara online dan disebarkan di media-media sosial. 


Di mana semua itu merupakan usaha yang dilakukan oleh generasi muda NU progresif yang tidak hanya sebatas penguatan pemahaman kita atas ahlussunnah wal jama’ah tetapi juga sebagai upaya untuk mencegah agar tidak bertambah lagi generasi milenial yang terpapar pemahaman organisasi yang suka membid’ahkan, suka memaksakan kebenaran sendiri, bahkan suka mengkafirkan sesama umat Islam.


Terakhir, apakah hanya akan berhenti sampai di sini? Tentu tidak! Sebab, masih banyak masjid-masjid kosong tanpa jama’ah, di mana yang terdengar hanya suara sumbang kumandang adzan dari seorang kakek tua yang tengah merindu sendirian. Yang berharap kemegahan Islam tidak hanya terlihat dari bangunan masjidnya, tetapi juga kehadiran kita di sana yang turut meramaikan dan menghiasinya lewat kumandang merdu lantunan shalawatan, dzikiran, dan semaan Alquran.


Bukankah selama ini, meskipun secara kultural kita selalu mendaku bahwa kita seorang NU?