Awas, virus desakralisasi Pancasila 'Catatan bagi para Pembencinya' - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyyin Gorontalo

Top Ads


 

More News

logoblog

Awas, virus desakralisasi Pancasila 'Catatan bagi para Pembencinya'

Thursday, March 4, 2021

 

Eka Putra B Santoso, Akademisi IAIN Sulatan Amai Gorontalo



Oleh : Eka Putra B Santoso


Pada hari lahir Pancasila kita akan melihat tiga tipe manusia Indonesia. Yang pertama mereka yang mensyukuri nikmat Pancasila dalam bentuk perbaikan tingkah laku hidup, kedua, mereka yang hanya terjebak pada acara ceremonialistik dan yang ketiga mereka para Pembenci Pancasila. 



Untuk fase relfeksi tulisan singkat ini saya akan mencoba membahas khusus pada tipe yang ketiga tersebut. Yah, mereka para ideolog asing yang kini bertransformasi sebagai pengkritik Pancasila ini selalu memainkan narasi sesat untuk meng- Vis a Vis kan Pancasila dengan Agama dalam hal ini Islam. Mereka selalu mempropagandakan isi teks Al Qur'an seenak kepala mereka sehingga lepas dari metode penafsirannya.



Baik, untuk mendobrak kesesatan berfikir mereka atas Pancasila alangkah baiknya kita melihat pembedahan secara etimologi tentang apa itu Sakral. Dalam KBBI Sakral diartikan dengan suci atau keramat dan Desakraliasi tentu kebalikannya. Yang menjadi pertanyaan apakah Sakral tidak bisa diperdebatkan?. Sependek pengetahuan saya yang cetek ini, kesakralan itu bisa diperdebatkan dalam ruang keilmuan demi mendapat sebuah konsensus tetapi ingat, perdebatan itu tidak bisa keluar dari tendensi keilmuan yang konsisten. Saya akan berangkat dari kesakralan karena secara historis dan filosofis Pancasila tidak layak disebut dengan desakraliasi karena jalan panjang penciptaan nya tidak hanya buah pikiran seorang Bung Karno tetapi hasil dari renungan nya atas elemen perjuangan bangsa ini yang penuh titik darah dan kobaran tangis air mata. Jadi, kalau ada yang berangkat dari desakraliasi saya yakin dia tak benar-benar mengilhami narasi perjuangan anak bangsa,bahkan mungkin hanya agen eceran ideolog asing yang kini ngetren.



Serakang, kita akan mulai membantah tuduhan keji atas desakraliasi Pancasila tersebut. Dalam membedahnya saya berangkat dari uraian kang Yudi Latif dalam negara Paripurna. Ia  mencoba untuk membagi tiga fase dalam perumusan Pancasila. Fase awal "Pembuahan" diambilnya dari dinamika pergerakan sosial Di Indonesia dan Belanda. Dimulai dari pembentukan Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda yang mempunyai empat prinsip utama sebagai flatfom politik saat itu,yakni : persatuan nasional yang merupakan wajah ideologi indische partij, non kooperasi dari landasan gerakan komunisme, Kemandirian, merupakan tema Sarekat Islam, hingga solidaritas yg merupakan ikatan dari ketiganya. 



Hal lain juga yang menguatkan empat prinsip tadi ialah buku yang dituliskan Tan Malaka dengan judul Naar de republike Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Menurutnya, kedaulatan dan prinsip demokrasi telah hadir dalam tradisi dan budaya masyarakat Indonesia,sama halnya dengan pendapat Hatta yang menekankan bahwa kedaulatan rakyat harus lahir dari rasa gotong royong dan musyawarah mufakat yang digali dalam kebiasaan -kebiasaan adat nusantara. Bukan seperti konsepsi Rousseau yang bersifat individualistik. 



Fase kedua adalah "Perumusan". Tahap ini menekankan bahwa semua golongan mewakili atas lahir nya pancasila dari pidato bung karno pada 1 Juni 1945. Tentu fase perumusan ini dibicarakan pada awal sidang BPUPK hingga PPKI,dimana elemen agamis dan kebanggsaan mendapat jalan tengah dari apa yang menurut bung Karno digali dari jiwa masyarakat Indonesia.Jiwa itu adalah ketertindasan atas penjajahan kolonialisme yang begitu lama. Sebagai Philosofische gronsdlag ( dasar filsafat) dan weltanschauung ( pandangan hidup) Pancasila saat itu hadir sebagai semangat baru bangsa Indonesia.



Fase ketiga adalah " Pengesahan " fase ini dimulai dari tgl 18 agustus 1945 yang mengikat secara konsitusional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 


kurang lebih itulah fase -fase dimana perjalanan Pancasila telah terpatri rapi dalam fondasi kita dalam berbangsa. Tetapi memang kondisi yang terjadi pasca kemerdekaan hingga kini telah membuat Pancasila belum digunakan secara ideal, bahkan menurut Buya Syafi'i Maarif Pancasila telah menjadi yatim piatu dalam spirit berbangsa. "Dinamika politik telah mendegradasi Pancasila sebagai landasan moral bangsa." 



Tetapi bukan berarti Pancasila kehilangan kesakralannya, produk ini menurut Buya adalah sumbangan Bung Karno yang luar biasa,bahkan Pancasila adalah ideologi besar yang bisa dikatakan paling sempurna sepanjang jaman. Persoalan implementasi  yang belum optimal itu juga terjadi di berbagai negara dunia, bahkan Amerika yang mengkalim negara demokrasi terbesar yang  mengedepankan HAM universal juga melakukan praktek rasisme, baik pada agama tertentu maupun suku-suka yang ada. Pertanyaannya, apakah semangat Declaration Of Independennya Thomas Jefferson telah terlaksana dengan baik?  saya rasa belum. 


Amerika, yang peradaban nya telah lama maju dari kitapun masih belum mampu mengaplikasikan fondasi negaranya secara kolektif apalagi kita yang baru menjadi negara selama 72 tahun lebih. Jadi pendapat implementasi saya kira tidak masuk akal.


kemudian ada pertanyaan terkait UUD yang telah mengalami amandemen sebanyak 4 kali, hal ini bagi orang2 yang anti terhadap Pancasila mengatakan hal tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa dikatakan sakral karena mengalami perubahan. Argumen mereka tidak salah, tapi tidak bisa dikatakan benar secara keseluruhan.



Oleh karena sejarahnya,UUD memang disusun dalam keadaan yang genting,tidak seperti Pancasila yang punya sedikit ruang untuk di susun dan di bahas. jikalau melihat kilas balik disusunnya UUD yang saat itu terjadi pada kondisi yang tidak stabil, bahkan menurut bung karno adalah UUD kilat (revolutie grondwet ). UUD ini bisa saja berubah setelah dibentuk MPR melalui pemilu 1946 yang tidak terlaksana sampai turunnya dekrit tahun 1959. Dinamika UUD inipun selama perundingan dngn Belanda mengalami perubahan pada 1949 menjdi konsitusi RIS Karena konsekwensi KMB dan pada 1950 menjadi UUD sementra. 



Ketika Konsituante berhasil dibuat pun yg terdiri dari 543 anggota yg 29 nya perwakilan dari kaum minoritas Cina, Arab, dan Indo Belanda tidak sampai berhasil merumuskan UUD yang ideal, sebenarnya 8 bulan yang tersisa masih cukup untuk menghasilkan paket UUD yg ideal tetapi sayang bung Karno mengeluarkan dekrit yang isinya  membubarkan konsituante dan mengangkatnya sebagai presiden seumur hidup. Menurut Ni'matul huda, Bung Karno gagal keluar dari pilihan dilematisnya antara  mengembangkan demokrasi lewat sistem multipartai dengan keinginannya untuk menguasai seluruh partai dalam rangka mempertahankan kekusaannya. 



Di era Presiden Soeharto pun demikian, atas nama kekuasaan dia tidak memberi ruang atas penyempurnaan UUD yang dalam sejarahnya memang harus disempurnakan.  Hal itu baru terlaksana ketika gelombang reformasi menyapu otoritarianisme orde baru. beberapa tahapan perubahan pun dilakukan, salah satunya pada  Bab 3 tentang kekuasaan pemerintahan negara pasal 7 yang membatasi periode masa jabatan Presiden.



Jadi, perihal UUD memang menjadi keharusan untuk selalu disesuaikan dengan kebutuhan bangsa kedepan, tetapi hal yang penting ditekankan bahwa pasal per pasal dalam UUD memang telah banyak berubah,tetapi dalam pembukaan UUD tidak dapat diubah karena mengandung cita -cita luhur bangsa Indonesia  serta dipandang sudah final. Fakta ini tidak bisa melegitimasi pendapat para orang/ormas yang semangatnya anti terhadap UUD dengan istilah desakralisasi biner.



Selanjutnya NKRI, seorang yang anti pada dasar negara yang satu ini meragukan eksistensi dari wilayah kedaulatan negara ini dengan memberi contoh salah satu teritori yang memisahkan diri dari Indonesia. Tim -Tim misalnya, mereka lupa dan tidak membaca secara sadar bahwa kasus Tim-Tim adalah kecelakaan politik yang terlanjur ditengarahi oleh kepentingan dunia Internasional untuk mendukung para aktifis kemerdekaan wilayah tersebut. Itu persoalan politik yang harus diletakkan pada kacamata sejarah bangsa ini. Apalagi wktu itu Indonesia disapu dengan badai krisis moneter yang cukup parah. Tidak ada keputusan yang baik selain melepaskan daerah tersebut, walaupun perdebatan caplokan wilayah jajahan hindia belanda waktu itu msih multiversi dari para ilmuwan. Yang jelas adalah, persoalan disintegrasi ini tidak hanya di Indonesia.  Jikalau dibanding negara seperti Yugoslavia, Uni Sovyet , dua negara semenanjung Korea,  bahkan keruntuhan keping -keping peradaban Ustmaniyah menjadi negara bangsa lebih parah. Jangan lupa, itu adalah disintegrasi terparah sepanjang sejarah. 



Eksistensi NKRI sebagai negara kesatuan pasca orde baru justru makin kuat karena mampu merumuskan amandemen UUD yang berupa jalan tengah atas usul negara yang berbentuk Federal, dengan desentralisasi yang didukung asas dekonsentrasi. Walaupun masih banyak kekurangan, tetapi perubahan ke arah yang baik terus dilakukan demi mencapai kesempurnaan.



Berikutnya, oleh sebagian orang yang anti terhadap dasar negara kita mengklaim bahwa seluruh paket KUHP adalah produk Belanda yang di copy paste untuk Indonesia, Di bidang kepidanaan memang benar, oleh karena merujuk pada latar belakang bangsa Indonesia yang lama dijajah oleh Belanda.  Tetapi bukan hanya itu, dibidang keperdataan seperti waris,  cerai,hingga perkawinan itu menggunakan hukum Islam. bahkan saat ini RKUHP yang baru tengah disiapkan produk hukum khususnya pidana yang akan lebih disesuaikan dengan ideologi bangsa kita. Walaupun banyak perdebatan tetapi langkah menuju kesana tengah dipersiapkan. Hal yang perlu ditekankan bahwa, jikalau sebuah produk hukum luar bahkan dari para penjajah itu baik dan sesuai dengan model dan objek kebutuhan masyarakat Indonesia,mengapa dipersoalkan. 



Kita, diwaktu itu wajib memerangi para penjajah karena apa yang dilakukan tetapi bukan berarti hari ini kita maju dan berteriak anti pada negara yang dulunya penjajah. Jelas ini pemikiran oposisi biner yang sesat. Mungkin banyak yang lupa bahwa berkat wacana politik etis kolonial banyak dari bapak bangsa kita berhasil menyerap ilmu pengetahuan Barat yang harus kita akui lebih maju dari kita. 


Olehnya penting untuk mewaraskan nalar dari Virus desakralisasi dasar negara kita oleh orang-orang yang sengaja anti dengan dalih mengkritik Pancasila dan turunannya secara ilmiah. Mereka selalu bersemangat mengakomodasi suara publik di dunia maya dengan provokasi yang menurut mereka ilmiah.  Padahal Agenda besar sungguh dibuat untuk memecah belah bangsa ini, terlebih dengan menggunakan Agama. 



tulisan ini sebenarnya sudah lama hanya kembali saya muat guna untuk menjawab para eks HT yang butuh penjelasan live saya di NUtizen Gorontalo sekaligus memberi warning pada para pecinta Pancasila supaya sadar dan terus melawan perang wacana ini. 

Tabik!!



Penulis adalah Dosen Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo/Alumnus Islamic Political Studies UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.