-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ideologi Khilafah Yang Utopia

Wednesday, March 3, 2021 | March 03, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-03-22T18:49:53Z



Eka Putra B Santoso (Foto Istimewa) 


Oleh : Eka Putra B Santoso



Ketika mengisi dialog di NUtizen Gorontalo saya mencoba menjelaskan Tema “ Khilafah “ yang banyak dikampanyekan oleh organisasi terlarang Hizbuz Tahrir Indonesia (HTI). Nampaknya selepas itu “Mantan kader atau masih kader, Saya tak peduli” ramai-ramai membantah dan menolak ide tentang tema tersebut. tentunya ini bukan hal yang baru. Diskusi yang cukup panjang telah saya geluti bersama mereka mulai dari saya mengambil kuliah S2 di UIN Jogja, silang pendapat antara saya kelompok itu terus saja menghiasi dinding media sosial. 



Untuk kali ini, mantan kader mereka mencoba membuat tulisan yang salah satunya mengkritik tentang penamaan Ideologi Khilafah yang saya angkat. sebenarnya saya tidak akan menanggapi karena menurut mereka ideologi itu adalah Islam bukan Khilafah. Tapi karena tak hanya dia yang menanyakan hal itu, ada juga kader-kader dari organisasi lain, saya pada akhirnya akan membuat tulisan sederhana ini. Tentu bukan untuk membuat mereka percaya. Karena bagi mereka semisal air laut itu rasanya asin pasti Khilafah mampu merubahnya menjadi manis.



“Baik, jadi begini”, mengapa saya lebih tertarik mengatakan bahwa Khilafah itu adalah ideologi. Oleh karena Khilafah itu adalah keyakinan yang kemudian berubah menjadi cita-cita, sementara Islam adalah agama wahyu yang sifatnya transcendental yang turun secara ekslusif pada Nabi Muhammad SAW untuk kemudian disebarkan secara inklusif bagi seluruh penghuni Bumi ini. Dari penjelaskan sederhana tersebut Islam juga adalah Agama yang menjaga Jaman. 



Ia (Islam) Tak lekang oleh waktu karena semua ajaran yang terkandung punya maksud yang telah banyak ditafsirkan oleh Nabi, Para sahabat serta ulama-ulama penerusnya. Memang, Islam mempunyai aturan atau hukum-hukum yang mengatur polarisasi hubungan Tuhan dan Manusia, sesama Manusia serta Manusia dan Alam. Tetapi dalam konstruksi itu  Islam juga  meyakini yang namanya Hadist, Qiyas dan Ijtihad. Begitu kompleks Ajaran Islam sehingga saya kira menganalogikan ajaran yang baik ini dengan Ideologi yang sifatnya adalah buatan manusia, dan pada dasarnya memaksa adalah mengecilkan peran Islam sebagai agama yang punya peran menjaga Jaman.



Oleh karena itu Ideologi lebih pantas disandangkan pada kata “Khilafah” sebagai buatan manusia. Istilah Khilafah adalah mempunyai renungan romantisme masa lampau yang sangat problematic, beragam dan abstrak. Istilah ini memang ada pasca kepemimpinan Nabi Muhammad atau dikenal dengan al- khulafah al Rasyidin yang menurut Azumardy Azra sifatnya terletak pada keunggulan kwalitas pribadi mereka. Setelahnya entitas politik itu berakhir karena diganti dengan dinasti Umaiyah, Abbasiyah , dan Ustmaniyah yang  persekutuannya  sangat oligarkis. 



Dari konstuksi itu sebagian pemikir politik Islam sempat pula mempopulerkan kejayaan Khilafah pada abad 19 oleh Jamaludin Al Afghani dengan Pan Islamisme, Maududi yang akhirnya mendirikan partai Jamaat Islami di Pakistan serta dedengkot HT Taqyudin Ah Nahbani. Tetapi semuanya punya konsep yang masing-masing berbeda alias Abstrak. Ditambah lagi dengan radikalisme organisasi terror ISIS yang ikut mengkampamyekan ideologi Khilafah tersebut. 



Dari pemahaman ini saya kembali melihat sebenarnya konservatisme atas varian agama tidak hanya terjadi pada sebagian Umat Islam, di Agama lain pun terjadi. Tetapi anehnya hanya Islam yang namanya sering dicatut pada sebutan ideologi. Kita tau negara-negara eropa yang partai politik nya punya pemahaman kanan tidak pernah menyebut agama mereka sebagai ideologi, karena itu bentuk dari menyelamatkan nama agama dari upaya pengkerdilan dari kelompok yang ingin menggeneralisasi nama agama untuk kepentingan politik mereka. Satu hal juga yang menarik dari bantahan mereka adalah pola berfikir yang kuno ketika masih berupaya menggunakan doktrin Eropa dan Islam. 



Hal ini bukan hanya cacat secara definisi yang umum tetapi juga rapuh memahami makna teritori dan ajaran agama wahyu yang transenden. Hal ini menjadi contoh ke dua bahwa memang pengkerdilan Islam sebagai agama dilakukan guna untuk memasukkan doktrin politik yang tak jelas konsep dan logika geneologinya. 



Dan yang terakhir adalah kesepakatan negara bangsa menurut mereka adalah hal yang sepele karena bisa diubah atau direvisi. Ini model pemikiran yang tak menempatkan bangsa ini dan pendahulunya sebagai pahlawan yang rela mengorbankan darah,air mata dan nyawanya. Bagi mereka perubahan itu sederhana dengan menyodorkan doktrin politik yang tak teruji bahkan ditolak di negara-negara yang punya penduduk Islam mayoritas.



Dari bantahan-bantahan ini saya tak sama sekali menginginkan mereka untuk menyepekatinya. Ini adalah refleksi singkat yang saya buat ditengah kesibukan saya untuk menghargai sesama umat manusia yang terus bernyanyi menuntut penjelasan hingga saya tak menyangka “ Begitu Pentingnya Saya” heheheheh..



Penulis adalah Dosen Politik IAIN Sultan Amai Gorontalo.



×
Berita Terbaru Update