Apa Bisa, PMII Menjadi Poros dalam Membumikan Aswaja? - Nulondalo Online : Kabar Nahdliyin Gorontalo

Top Ads


 

More News

logoblog

Apa Bisa, PMII Menjadi Poros dalam Membumikan Aswaja?

Friday, April 9, 2021
Penulis Moh. Rivaldi Abdul, Eks Ketua PMII Rayon Dewantara IAIN Sultan Amai Gorontalo, dan sekarang Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Interdisciplinary Islamic Studies, Konsentrasi Islam Nusantara. (Foto: Istimewa)


Beberapa hari lagi, usia PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) bakal genap 61 tahun. Umur yang tidak lagi muda bagi ukuran manusia. Namun, bagi sebuah organisasi ini adalah masa-masa prima. 


Semakin tua usia organisasi adalah tanda bahwa sudah banyak bertahan dari berbagai badai yang datang silih berganti. Sebabnya, “tua” merupakan alamat suatu organisasi semakin teguh semangat dan langkah geraknya. Dan untuk terus bisa bertahan, hal yang terpenting adalah selalu memiliki angkatan baru. Sehingga harus ada regenerasi dalam keanggotaan dan kepengurusan PMII. Jika kaderisasi malah mandul itu tanda bahaya bagi kelangsungan hidup organisasi.


Sejak lahir pada 17 April 1960 M, PMII selalu menjadi organisasi mahasiswa yang bergerak di garda depan terhadap komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, yang sekarang lebih populer dengan term Islam Nusantara. Ya, meski Nusantara tidak hanya Indonesia, namun mencakup wilayah Asia Tenggara.


Semangat itu yang kemudian menjadi spirit dalam langkah gerak PMII. Hal ini jelas tergambar dalam Mukaddimah AD PMII: “...keutuhan komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan merupakan perwujudan kesadaran beragama dan berbangsa bagi setiap insan muslim Indonesia....” Ikhtiar terhadap komitmen ini yang menjadi salah satu dasar atas hadirnya PMII.


Dalam AD PMII, pada pasal 4, dijelaskan tujuan PMII: “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”


Pribadi muslim Indonesia menjadi out-put dari upaya kaderisasi PMII. Dan sebagai muslim Indonesia, warga pergerakan seharusnya punya komitmen tinggi dalam mengamalkan dan menyebarkan Islam Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) yang diyakini merupakan representasi dari Islam rahmat bagi seluruh alam, serta juga selalu teguh dalam semangat kebangsaan.


Salah satu konsep yang terkandung dalam ajaran Aswaja adalah: tawasuth, tasamuh, tawazun, dan amar ma’ruf nahi mungkar. Tawasuth adalah sikap beragama yang moderat. Ini berarti kalau Islam Aswaja itu bukan ekstrimis. Sehingga jika ada doktrin bom bunuh diri, fix itu bukan Aswaja.


Tasamuh artinya beragama dengan penuh rasa toleransi. Beragama di Indonesia adalah hidup dalam keragaman, bertetangga dengan nonmuslim dalam kedamaian, dan rukun dalam perbedaan. 


Tawazun bermakna seimbang. Keseimbangan dalam beragama dan bermasyarakat, artinya sebagai warga negara yang beragama mampu bersikap proporsional dalam bernegara.


Amar ma’ruf nahi mungkar berarti mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Hal ini adalah langkah gerak dalam menyebarkan Islam yang rahmat bagi seluruh alam.


Komitmen Aswaja yang demikian merupakan spirit pergerakan. Membumikan Aswaja adalah penting. Apalagi kampus juga sering menjadi target dari gerakan penyebaran paham-paham non-ramah yang mengatasnamakan Islam, maka upaya untuk meng-counter ajaran demikian urgen untuk dilakukan. Di sini, warga pergerakan harus mampu memainkan perannya, mengingat dasar semangat juang PMII sendiri adalah komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.


Sehingga adanya PMII di kampus diharapkan mampu menyebarkan ajaran Islam yang rahmat di kalangan mahasiswa, baik pada sesama warga pergerakan maupun mahasiswa umumnya. Dalam hal ini, PMII harus mampu menjadi poros dalam membumikan Aswaja di dunia kampus.


Jika mengingat kembali tema harla NU kemarin: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan, tidak berlebihan kalau berkata bahwa di dunia kampus harapan NU itu harus dipercayakan pada anaknya, PMII. Sebab PMII merupakan organisasi mahasiswa yang punya semangat besar dalam membumikan Aswaja serta menjalankan komitmen kebangsaan.


Yang perlu diingat oleh warga pergerakan adalah syarat untuk menjadi poros dalam membumikan Aswaja. Syaratnya apa? Ya, apalagi kalau bukan dengan produktif dalam gerakan. Banyak buat kegiatan sebagai upaya gerakan menyebarkan Islam yang ramah. Sayangnya, kebanyakan produktivitas hari ini hanya dalam masalah konflik internal yang hasilnya malah membuat langkah gerak semakin keropos.


Gerakan para pengusung marah-isme semakin masif. Sementara kita yang katanya ingin membumikan Islam yang ramah boro-boro kokoh dalam gerakan yang ada hanya sibuk dalam perkelahian memperebutkan kursi kekuasaan. Padahal persatuan adalah kunci agar langkah gerak PMII bisa semakin baik. Namun, apa mau dikata, saat nafsu ingin menjadi elite PMII malah menggerogoti komitmen ke-Islaman dan ke-Indonesiaan diri sendiri. Mau menyuarakan menjaga persatuan Indonesia, tapi dapur sendiri tercerai berai.


Akhir kata, cuma mau bilang, harla PMII tahun ini baiknya dijadikan momen untuk kembali merajut benang-benang persatuan yang putus, agar nantinya semakin produktif dalam gerak-gerak PMII. 


Salam Pergerakan!