-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan bagi Pasien Covid-19

Thursday, April 15, 2021 | April 15, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-05-29T14:40:59Z

 

Foto Ilustrasi

NUlondalo.Online, Gorontalo - Masyarakat yang dikategorikan sebagai pasien Covid-19 secara medis, juga terkena kewajiban berpuasa. Pada saat yang sama, mereka juga memerlukan asupan gizi yang cukup dan teratur untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dan menjaga daya tahan tubuh agar memiliki ketahanan yang lebih baik. Oleh karena itu, pasien Covid-19 termasuk yang boleh membatalkan puasanya pada hari-hari Ramadhan.


Dalam pandangan fiqih, mereka termasuk orang yang diperbolehkan secara syar’i untuk berbuka puasa di hari-hari Ramadhan. Di Al-Qur’an (Surat Al-Baqarah ayat 185), orang yang diberikan keringanan untuk berbuka puasa adalah oranh sakit dan orang yang menempuh perjalanan. 


فالمرض والسفر مبيحان بالنص والاجماع وكذلك من غلبه الجوع والعطش فخاف الهلاك فله الفطر وإن كان مقيما صحيح البدن ثم شرط كون المرض مبيحا أن يجهده الصوم معه فيلحقه ضرر يشق احتماله على ما ذكرنا من وجوه المضار في التيمم


Artinya, “Sakit dan perjalanan sebab yang membolehkan pembatalan puasa berdasarkan nash dan ijma ulama. Demikian juga orang yang dilanda haus dan lapar sehingga ia khawatir binasa, maka ia diperbolehkan berbuka puasa meski ia mukim (tidak bepergian) dan sehat secara fisik. Kemudian, syarat kebolehan berbuka puasa karena sakit adalah kesulitan berpuasa yang dideritanya jika berpuasa sehingga ia dihinggapi mudharat yang berat ditanggung sebagaimana kami sebutkan berbbagai mudharat pada bab tayammum,” (Lihat Imam An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftin, [Beirut, Darul Fikr: 2005 M/1425-1426 H], juz II, halaman 253). Surat Al-Baqarah ayat 185 menyebutkan orang sakit termasuk yang dapat membatalkan puasa di siang hari Ramadhan. Orang sakit yang dikhawatirkan bertambahnya penyakit karena puasa boleh membatalkan puasanya juga.


وان لم يقدر علي الصوم لمرض يخاف زيادته ويرجي البرء لم يجب عليه الصوم للآية


Artinya, “Jika seseorang tidak mampu berpuasa karena penyakit yang dikhawatirkan akan bertambah parah dan masih diharapkan sembuh, maka ia tidak wajib berpuasa,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz VI, halaman 214). 


Mereka yang termasuk pasien Covid-19 dan pengidap penyakit lain disarankan oleh tenaga kesehatan untuk membatalkan puasanya. Secara syar’i diperbolehkan untuk tidak berpuasa tanpa harus menunggu kondisi fisik lemah tidak berdaya.


المريض العاجز عن الصوم لمرض يرجى زواله لا يلزمه الصوم في الحال ويلزمه القضاء لما ذكره المصنف هذا إذا لحقه مشقة ظاهرة بالصوم ولا يشترط أن ينتهي الي حالة لا يمكنه فيها الصوم بل قال اصحابنا: شرط اباحة الفطر ان يلحقه بالصوم مشقة يشق احتمالها 


Artinya, “Pasien yang tidak sanggup berpuasa karena sakit yang diharapkan kesembuhan penyakitnya, maka ia tidak wajib berpuasa saat itu dan wajib mengqadanya sebagaimana disebutkan penulis matan (As-Syairazi) ketika seseorang akan dilanda masyaqqah yang zahir karena puasa. (Hal itu) tidak disyaratkan menunggu hingga kondisi (memburuk) di mana seseorang tidak lagi mampu berpuasa, tetapi ulama kami mengatakan, syarat kebolehan berbuka adalah kesulitan yang berat ditanggung karena puasa menghinggapinya,” (Lihat Imam An-Nawawi, 2010 M: VI/215).


Demikian ketentuan berbuka puasa pada siang hari Ramadhan untuk pasien Covid-19 agar menjaga daya tahan tubuh dari serangan virus. Mereka tidak diwajibkan berpuasa Ramdhan. Mereka diizinkan secara syar’i untuk mengqadha puasa wajibnya di luar bulan Ramadhan. Wallahu a’lam.


Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/120202/hukum-membatalkan-puasa-ramadhan-bagi-pasien-covid-19

×
Berita Terbaru Update