-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ada 43 Tariqah Tergabung di Jatman NU, Apa Saja?

Friday, June 11, 2021 | June 11, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-06-11T13:52:09Z
Logo Badan Otonom tertua NU, Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al Mut'abarah An Nahdliyah


NUlondalo.Oline
, - Jam’iyyah Ahlith Thariqoh Al-Mut’abarah An-Nahdliyah (Jatman) Nahdlatul Ulama menyebutkan bahwa ada 43 Tarekat yang diakui keabsahannya dan telah tergabung di dalam badan otonom tertua di Nahdlatul Ulama ini.


43 Tarekat tersebut sudah berstandar, yakni yang Mu’tabarah. Tak mudah untuk bergabung dan  dipayungi Jatman NU, mereka yang memenuhi standar Thariqah bisa diperkenankan masuk menjadi Banom NU di dalam Jatman.


Lalu seperti apa standar Thariqah versi NU? Dilansir dari muslimmoderat.com, KH Aziz Masyhuri, pengasuh Pondok Pesantren Al-Aziziyah Denanyar pernah melakukan penelitian tentang aliran Thariqah di Indonesia. Kesimpulan yang didapat; keberadaan Thariqah di tanah air ini ada sekitar ribuan. Jumlah itu dianggap wajar seiring dengan dinamika yang mengelilinginya.



Salah satu contoh, ada sebuah aliran Thariqah yang demikian berpengaruh dan memiliki massa besar di salah satu kota di Jawa Timur, namun dalam perkembangan berikutnya terjadi perpe-cahan dan masing-masing berdiri sendiri.


Kondisi itu masih diperparah lagi dengan campur tangan pemerintah yang berkuasa kala itu. Jadilah berkeping-keping. Dunia Thariqah memang rentan terpecah-pecah dan ingin berdiri sendiri-sendiri. Masing-masing menjadi seorang Mursyid.



“Di Indonesia, tercatat ada bermacam-macam Thariqah dan organisasi yang mirip Thariqah. Beberapa di antaranya hanya sebagai Thariqah lokal yang berdasarkan pada ajaran-ajaran dan amalan-amalan guru tertentu”, ujarnya


Thariqah lainnya lanjut Kiai Azis, biasanya yang lebih besar, sebetulnya merupakan cabang-cabang dari gerakan Sufi internasional, misalnya Khalwatiyah (Sulawesi Selatan), Syattariyah (Sumatera Barat dan Jawa), Qadiriyah, Rifa’iyah, Idrisiyah atau Ahmadiyah, Tija-niyah dan yang paling besar adalah Naqsyabandiyah.



Apa yang telah dilakukan Kiai Aziz adalah mencoba menampilkan profil Thariqah yang telah berstandar dan sesuai dengan pakem Nahdlatul Ulama, yakni Thariqah yang Mu’tabarah. Pada Muktamar ketiga yang berlangsung di Surabaya (1928), kala itu ada sejumlah kalangan yang mempersolkan keberadaan Thariqah Tijaniyah; apakah memiliki sanad yang muttashil kepada Rasululloh? Para Ulama telah menetapkan bahwa Tijaniyah adalah termasuk yang dibenarkan lantaran sanadnya muttashil (tersambung).



Secara singkat, Kiai Aziz mengemukakan bahwa kriteria ke mu’tabaran sebuah Thariqah adalah dapat dilihat dari sanad para Mursyidnya yang muttashil sampai kepada Rasulullah SAW. Demikian pula yang tidak bisa ditawar adalah ajaran yang disampaikan harus berpedoman pada pakem NU; yakni dalam fiqh mengikuti salah satu imam empat. Dalam aqidah mengikuti Imam Asy’ari dan Maturidi.



Dari terselenggaranya pertemuan para ahli Thariqah dan Sufi di Jakarta beberapa waktu yang lalu, ada beberapa manfaat yang bisa diambil oleh Indonesia sebagai tuan rumah. Paling tidak, hal ini akan menstimulus ahli Thariqah untuk bisa bersatu. Bila persatuan Thariqah bisa digagas, akan berdampak positif bagi Indonesia. Dan kalau pertemuan dan persatuan ini bisa diselenggarakan secara berkesinambungan, manfat berikutnya adalah akan terjadi saling komunikasi antar pengikut dan Mursyid Thariqah yang ada.Pertemuan seperti itu dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan koreksi sekaligus kla¬rifikasi etas beberapa informasi yang beredar.



Seperti dalam kasus Thariqah Naqsyabandiyah Haqqaniyah. Di sebagian negara seperti Syria, ada beberapa Mursyid yang mempertanyakan kemu’tabaran Thariqah ini. Karenanya, di pertemuan yang diselenggarakan oleh PBNU yang menghadirkan banyak ahli thariqah dan Sufi, akhirnya dapat dijadikan sarana untuk menjelaskan keberadaan thariqah yang dimaksud.



Prakarsa PBNU sepertinya disambut positif berbagai kalangan khususnya ahli thariqah dan Sufi dunia. Tidak salah kalau kemudian peserta berharap, Indonesia menjadi harapan bagi keberlansungan pertemuan ini di kemudian hari. Dan hal ini tentunya bukannya tanpa tanggung jawab. PBNU dan Thariqah di tanah air harus menjaga kepercayaan ini demi kelangsungan dan masa depan Thariqah di belahan dunia. Tanpa itu, harapan dunia akan sia-sia.



Berikut ini 43 Thariqah Mu’tabarah dan Berstandar di naungan JATMAN NU


1.      Abbasiyah

2.      Akbariyah

3.      Baerumiyah

4.      Bakriyah

5.      Buhuriyah

6.      Ghaibiyah

7.      Haddadiyah

8.      Idrisiyah

9.      Isawiyah

10.  Justiyah

11.  Khadliriyah

12.  Khalidiyah wa Naqsyabandiyah

13.  Madbuliyah

14.  Maulawiyah

15.  Rifa’iyah

16.  Sa’diyah

17.  Sumbuliyah

18.  Syadzaliyah

19.  Syuhrawiyah

20.  Umariyah

21.  Utsmaniyah

22.  Ahmadiyah

23.  Alawiyah

24.  Bakdasyiyah

25.  Bayumiyah

26.  Dasuqiyah

27.  Ghozaliyah

28.  Hamzawiyah

29.  Idrusiyah

30.  Jalwatiyah

31.  Kalsyaniyah

32.  Khalwatiyah

33.  Kubrawiyah

34.  Malamiyah

35.  Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

36.  Rumiyah

37.  Samaniyah

38.  Sya’baniyah

39.  Syathariyah

40.  Tijaniyah

41.  Usyaqiyah

42.  Uwaisiyah

43.  Zainiyah

 

×
Berita Terbaru Update