-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Dakwah Sastrawi Kyai Nyentrik Asal Makassar

Thursday, July 8, 2021 | July 08, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-07-09T05:15:24Z
Buku Kyai Saleh 2 : Dia yang tak tersandera Huruf, Karya Pepi Al Bayqunie


Kata “Kyai” seringkali di rekatkan dengan dunia pesantren. Tentu saja dalam membahas Kyai ini, kita tak bisa lepas dari daerah ke Jawaan. Namun tak selamanya Kyai berasal dari Jawa, ada juga Kyai yang berasal dari luar Jawa yang nyentrik, dialah Kyai Saleh, Kyai asal Makassar.


Jika menilik lebih dalam asal katanya. Kata Kyai bukanlah berasal dari bahasa Arab, menurut KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) mengatakan, kata Kyai, murni berasal dari bahasa Nusantara. Dilansir dari nu online, Kyai adalah seseorang yang mengasuh, membimbing, dan memberikan ilmunya kepada santri di pesantren. 


Buku Kyai Saleh 2, Dia Yang Tak Tersandera Huruf, menarik untuk kita simak. Buku yang setiap bagian ditulis dalam bentuk cerpen ini seringkali mempertanyakan dengan kritis tentang kejadian-kejadian yang sedang viral. Mulai dari kejadian gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah. Kemudian pemilihan presiden pada 2019, hingga kejadian-kejadian atau pun kebiasaan-kebiasaan khas daerah Bugis- Makassar, yang seringkali dipertentangkan dengan agama. 


Saya sendiri belum membaca Kyai Saleh seri pertama, namun seri kedua Kyai Saleh ini saya mengambil pelajaran sangat baik tentang bagaimana dakwah islam yang ramah, islam yang moderat via jalur sastra yang mudah dipahami. 


Menurut penulisnya sendiri, Pepi Al-Bayqunie, Kiai Saleh menjadi satu identitas penting baginya, dan juga menjadi media untuk menitipkan pesan-pesan yang merupakan buah dari pikiran yang baik untuk ditelaah dan dicermati oleh segenap pembaca. 


“Kyai Saleh adalah bank spiritual tempat saya menitipkan kebaikan-kebaikan,” tulis Pepi. 


Pengenalan Budaya Khas Bugis- Makassar 


Menurut saya, penyajian diksi dalam buku Kyai Saleh 2 cukup menarik. Terdapat sejumlah diksi dalam bahasa Bugis- Makassar yang menjadi ciri khasnya seperti, Daeng, Maccera Tasi, sampai pada nama makanan khas Makassar Kaddo Minya. Upaya menyelipkan bahasa-bahasa ibu dari orang Bugis- Makassar menjadi nilai tambah untuk penyajian diksi buku ini. Melalui itu, kita bisa mengenal budaya, bahasa dan corak warna kehidupan orang-orang Makassar. Seperti dalam kutipan berikut. 


“Kenapa sepi, daeng?” Tanya Kiai Saleh kepada salah seorang penjual ikan. 


“Sejak kemarin memang  nelayan tidak ada yang melalui, pak.”


“Kenapa?”


“Kayaknya mau bikin acara maccera tasi hari ini. setiap tahun begitu memang di sini, pak”


Dari dialog tadi kita bisa melihat, bagaimana penulisnya mencoba mengekspos secara sastrawi budaya lokalitas khas Bugis-Makassar. Simak juga percakapan yang memberikan gambaran tentang makanan khas Makassar. 


“Suasana masjid sudah mulai sepi. Ale, Tesa, Sampara, Ais dan beberapa orang membersihkan masjid dari serakan sampah. Kyai Saleh duduk di sudut masjid sembari menikmati kaddo minya (makanan khas yang terbuat dari ketan) dan telur.” tulis Pepi Al-Bayqunie. 


Seperti halnya membumikan Islam Nusantara yang menjadi ciri khas lokalitas beragama kita di Nusantara, penulis Kyai Saleh 2 juga tengah menyajikan penyebaran Islam Nusantara versi Bugis- Makassar. Setiap ulasannya selalu dikaitkan dengan adab, adat istiadat budaya bugis-makassar yang dipadukan dengan ajaran agama. Dan hal itu menjadi satupadu dalam buku Kyai Saleh 2.


Seperti yang dikatakan Gus Dur “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi Budaya Arab, bukan untuk Aku jadi Ana, Sampeyan jadi Antum, Sedulur jadi Akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi ajarannya, bukan budayanya”. 


Merekonstruksi Akal Keberagamaan Kita


Jika Ali Syari’ati terkenal dengan tulisan-tulisannya tentang merekonstruksi pemikiran islam tradisional, menjadi gerakan perlawanan kaum muslim dengan rezim Syah Pahlevi yang otoriter menindas masyarakat. Maka Pepi Al-Bayqunie, melalui Kyai Saleh mencoba merekonstruksi pola pemikiran kita tentang agama, yang kian hari kian kurang renungan filosofis, logis namun masih dalam rel yang sama yakni, ajaran Islam. 


Seperti yang dituliskan oleh penulisnya di bagian 6, dengan judul “Dia Yang Tak Tersandera Huruf”. Di sini, penulisnya menceritakan tentang tradisi turun temurun umat muslim dalam memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. 


Dalam tradisi umat muslim di kalangan  Bugis- Makassar memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, biasanya menghidangkan gantungan-gantungan telur yang ditusuk di sebuah batang pohon pisang, yang disebut dengan bunga male. Masyarakat antusias akan hal itu, dan berbondong-bondonglah mereka merampas telur. Bukan demi mengejar materi (telur), tapi karena kegembiraan mereka mengenang maulid  (hari lahir) Nabi Saw. 


Setelah kegiatan itu berakhir. Para santri Kyai Saleh membersihkan sisa-sisa sampah di masjid. Selanjutnya para santri Kyai Saleh duduk santai bersamanya dengan mendiskusikan tentang adanya sejumlah kalangan yang mempertentangkan Nabi Muhammad Saw, yang buta huruf. 


Kemudian Ais, salah satu santri Kyai Saleh mengungkapkan bahwa, ada sejumlah kalangan masyarakat yang tidak menerima jika Nabi Saw dikatakan buta huruf. 


“Buta huruf dalam sejarah Nabi disebut ummi. Bangsa Arab saat itu adalah bangsa yang tidak menggunakan huruf sebagai bagian dari simbol ilmu pengetahuan. Dalam kebudayaan Arab, pengetahuan diturun dan sebarluaskan melalui hafalan, bukan huruf. Jadi, secara umum orang Arab disebut dalam Alquran sebagai bangsa ummi, bukan hanya Nabi Muhammad Saw. ada sebagian kecil orang Arab yang bisa menulis tetapi justru dianggap kecacatan.” 


Salah satu argumentasi Kyai Saleh itu menjadi representatif penulis untuk mencoba merekonstruksi atau membangun kembali pola pikir kita yang terperangkap dalam rana kontekstual. Seperti jawaban Kyai Saleh tentang ada golongan yang beranggapan Nabi Muhammad Saw bisa baca tulis. 


Kyai Saleh menjelaskan bahwa, orang-orang yang menganut paham Nabi Saw bisa baca tulis itu diakibatkan penafsiran terhadap surah Al-Bayyinah ayat ke -2, yang dalam ayat itu menggunakan kata yathlu yang diterjemahkan membaca. Olehnya ada kalangan yang menganggap Nabi Saw, bisa membaca. 

“Sayangnya, tidak banyak dukungan hadis yang menyebutkan nabi membacakan teks, sebagaimana layaknya orang membaca kitab.” Ucap Kyai Saleh. Kemudian ia melanjutkan. “Yang sering saya jumpai adalah nabi menyampaikan wahyu yang diterimanya kepada para sahabat. Ketika Nabi mendapatkan wahyu beliau berhenti sejenak. Lalu membacakan ayat yang didapatkannya kepada para sahabat. Tidak ada huruf diantara mereka. Nabi membacakan atau menyebutkan kembali ayat yang didengarkannya dari malaikat Jibril”


Cara penulis merekonstruksi kembali pemikiran keberagamaan kita terungkap setelah Kyai Saleh menyuruh salah seorang santrinya untuk memanggil hafiz atau penghapal quran bernama Rahman. Kemudian Kyai Saleh menyuruh Rahman, hafiz tuna netra berumur 11 tahun, untuk membacakan surah Al-Kahfi, sekaligus menyuruh Ais membaca surah yang sama dengan cara membuka lembaran alquran. Keduanya disuruh membaca lima ayat masing-masing.


Setelah membaca surah tersebut Kyai Saleh menjelaskan bahwa, yang dilakukan Rahman, Hafiz yang tuna netra tadi adalah aktivitas membaca alquran. “Apa yang dibaca Rahman? Ayat Alquran. Tetapi apakah Rahman memproduksi huruf-huruf Arab seperti cara Ais. Belum tentu. Rahman mendengarkan ayat dan menyimpannya dalam file otaknya. Ais yang melek huruf, tidak menyimpan di otak tetapi menyimpan di kitab”. 


“Dua-duanya membaca teks yang sama, dengan cara yang berbeda. Jadi, aktivitas membaca tidak melulu terkait dengan huruf. Seperti peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw, ketika pertama kali menerima wahyu dari Jibril” ucap Kyai Saleh. 


Cara penulisnya merekonstruksi pemikiran kita tentang cara beragama menjadi ciri khas dari buku ini. Dalam keseharian kita yang terlalu terpaku dengan pemikiran kontekstual hingga akhirnya membuat kita malas untuk berpikir, membuat kita dangkal dalam memahami agama, contoh kecilnya dalam memahami Nabi Saw, yang buta huruf atau tidak. 


Saya mencoba memahami bahwa, melalui buku ini, penulisnya ingin kita belajar agama tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Tetapi cara pandang atau paradigma yang kita gunakan haruslah obyektif dan universal


Oleh: Muhammad Fadhil Hadju (Alumni Kelas Pemikiran Gus Dur Online Gorontalo, Pegiat Isu Keberagaman)

×
Berita Terbaru Update