-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Cerita Haji Umar (1): Ditelpon Pihak Istana Mendampingi Presiden Gus Dur

Sunday, July 25, 2021 | July 25, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-08-02T16:18:44Z

Drs. H. Umar Mantali (Foto : NO)


Jamaah masjid Al-Marhamah sedang menuju tempat sandal di pelataran masjid. Petanda salat asar di masjid itu baru saja berlalu. Suara bising kenderaan di Jalan Protokol Pangeran Hidayat (JDS-Tanggidaa), Kota Gorontalo tak putus-putus. Mesin dan knalpot beragam kenderaan itu menutupi suara langkah tatih seorang jamaah masjid tetap, yang sedang berjalan menuju rumahnya.


Ia berjalan sedikit pelan dibantu tongkat kayu untuk menjaga keseimbangan saat menapaki tepi jalan. Tubuhnya terlihat renta, peci hitam menutupi kepala yang sudah beruban. Kemana pun ia, sarung adalah ciri khas lelaki yang tengah berusia 73 tahun itu. Ia adalah Haji Umar, Drs. H Umar Mantali adalah nama lengkapnya. 


Saya sedang mengunjungi kediamanya (2016) dan duduk di teras rumah. Sedikit lagi ia akan tiba di depan gerbang pagar terbuat dari besi bercat hitam. Saat melihatnya kian dekat kemari, saya langsung ikut beranjak menghampirinya. Menyelami serta mencium tangannya yang sedikit gemetar nan keriput itu. Ia tentu tak mengenal saya. Meski begitu, ia tak kelihatan heran atau pun kaget, apalagi langsung bertanya; siapa saya.


Ia langsung mempersilahkan saya duduk kembali pada kursi semula. Dan saya langsung menyapanya;


“Sehat pak Haji?” “Alhamdulillah”


Haji Umar adalah salah satu Tokoh Nahdlatul Ulama di Gorontalo. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Syuro PKB Provinsi setelah memutuskan keluar dari Golkar dan pensiun dari Guru SMA. Bahkan ia tercatat sebagai Caleg  DPRD Provinsi Dapil Kabupaten Pohuwato-Boalemo (2009). 


Ia termasuk sahabat Gus Dur. Mantan Aleg Partai Golkar di DPRD Kota Gorontalo (1997-1999) dikenal sosok yang sangat tegas dan kritis. Karakter khas mantan Ketua GP Ansor Kota Gorontalo itu mengantar ia bisa bertemu dan akrab dengan Gus Dur. Haji Umar lahir di Gorontalo pada tanggal 30 Agustus 1943.  


Tak lama, ketika kami sedang duduk berdua, aroma kopi dari dalam ruangan menyengat dan lari keluar rumah, lalu menabrak hidung kami. Petanda kopi baru saja diseduh dan bersiap hadir dihadapan kami berdua. Saya terus mengamati gerakannya. Di saat waktunya bertanya, saya langsung sigap memulai pembicaraan. 


“Ini dari mana dan bermaksud apa?”, tanya Haji Umar


Saya tidak langsung ikut menimpali pertanyaan Haji Umar, seseorang yang sedang mengantarkan kopi membuat pembicaraan kami terhenti sejenak. 


“Saya Djemi pak Haji, anak NU di Kota dan kebetulan saya diarahkan ke Pak Haji untuk menanyakan kisah Gus Dur saat datang di Gorontalo”


Pihak Istana Menelpon, Gus Dur Akan Datang


Haji Umar adalah orang yang pertama kali dihubungi pihak istana dalam rangka lawatan Gus Dur ke Gorontalo. Kunjungan Presiden Gus Dur kala itu belum tersiar se Gorontalo. Namun ketika Gus Dur tiba di Manado-Sulawesi Utara, barulah informasi kedatangan Gus Dur ke Gorontalo tersiar kemana-mana. 


“Terus terang ya, awalnya Gus Dur itu tidak mengenal saya. Saya pun sempat bertanya, kenapa saya di telepon orang istana bahwa Gus Dur akan datang. Dan saya diminta mendampingi Gus Dur”, tuturnya


Ia dihubungi pihak istana sekitar pukul 13.00 Wita. Diujung telepon itu, kata Haji Umar, suara pria berdialek Jakarta itu meminta kesediaannya untuk bisa mengawal Presiden. Pria di ujung telepon dengan jelas menginformasikan kedatangan Gus Dur bersama rombongan nanti. 


Tentu, selain menginformasikan kedatangan Gus Dur, ketentuan-ketentuan dalam pengawalan itu harus dibicarakan bersama. Agar saat di lapangan, semua berjalan dengan baik dan normal sesuai setingan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres)


Mendengar kabar kedatangan Presiden, yang juga Mantan Ketua Umum PBNU sekaligus Dewan Syuro PKB tersebut, Haji Umar pun langsung mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut orang nomor satu di Indonesia itu. Ia tentu gembira, namun dibalik itu, Haji Umar masih menyimpan tanya. Mengapa ia diminta mengawal presiden? Ia merasa bukan orang yang spesial di mata presiden, apalagi pemerintah daerah. 


“Saat menerima telepon dari istana bahwa Gus Dur akan datang ke Gorontalo, saya kaget. Apa urusannya mereka menelpon saya. Saya bertanya dalam hati, kenapa orang istana menelpon saya, padahal saya bukan siapa-siapa,” terang Haji Umar.


Dua hari setelah menerima Informasi, ia telah menerima kabar bahwa Gus Dur akan tiba dan mendarat menggunakan pesawat kepresidenan. Gus Dur tiba di bandara (jalaludin) dan bersiap menuju Kota Gorontalo. 


Tak disangka, Kopi yang setengah jam lalu diseduh dalam gelas, surut. Saya terus mendengar penuturan dan pengalaman Haji Umar bersama Gus Dur kala itu. Kepulan Asap rokok saya terbang ke berbagai arah. Saya terus merekam pakai HP dan sesekali mencatat hal penting darinya.


(Bersambung)

Oleh : Djemi Radji


×
Berita Terbaru Update