-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Adam Zakaria (1) : Ulama Gorontalo tak kenal lelah belajar hingga akhir hayat

Sunday, August 1, 2021 | August 01, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-08-02T08:09:05Z

 

KH Adam Zakaria (1924-2006) 

 

Barangkali masih banyak dari kita yang mengenal sosok ulama masyhur Gorontalo yang tak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Ia adalah KH. Adam Zakaria, yang turut berjasa dalam pengembangan Islam di Gorontalo. Kiai Adam tidak pernah mengenyam pendidikan pesantren seperti halnya sahabat yang juga gurunya, KH Ridwan Podungge (Aba Idu). Namun ia adalah pengajar berbagai kitab kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren pada umumnya. Darinya banyak ulama lahir yang meneruskan perjuangan dakwahnya.

 

Ia belajar berbagai kitab kuning dari berbagai guru-gurunya. Ia belajar kitab Risalatul Mu'awanah yang dikarang Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad shohibur rotib yang juga pengarang Ratibul Haddad dan Wirdul Lathif. Kitab yang mengajarkan akhlaq dan adab itu pun ia tularkan kepada murid-muridnya. Satu diantara muridnya ialah KH Abdul Rasyid Kamaru yang mengantikan Kiai Adam sebagai Qadhi di Kota Gorontalo.

 

Selain itu, ada juga kitab yang ia kuasai, yakni Kitab Alfiyah Ibnu Malik (Al-Khulasa al-Alfiyya) karangan Ibnu Malik yang berisikan nahwu-shorof, termasuk kitab Haji dan  Fiqih lainnya. Meski hanya berlatarbelakang pendidikan sekuler, keinginan untuk belajar ilmu-ilmu agama tak ada kata lelah baginya. Untuk belajar ia rela bersepeda jarak jauh mengunjungi rumah para gurunya.

 

Kiai Adam  lahir di Gorontalo pada 21 Juli 1924 dari pasangan Zakaria Soi dan Afifah Ismail. Meski lahir dari keluarga sederhana, orang tua kiai adam sangat taat beribadah. Tanda bahwa Kiai adam akan menjadi orang besar pernah diceritakan turun temurun. Tanda itu ketika ibunya bermimpi melihat Kiai Adam kecil saat berada di bumbungan atap rumah. Menurut Kiai Rasyid Kamaru, mimpi yang dialami ibu Kiai Adam itu menandakan bahwa orang yang dimimpikan akan menjadi sukses. Dan itu pun terbukti.

 

Sanad Keilmuan

 

KH. Adam Zakaria adalah salah satu murid dari KH. Abas Rauf (1921-1980). Ia pernah menjabat Qadhi Kota Gorontalo di tahun 70-an, ia adalah guru para ulama-ulama di Gorontalo. Kiai Adam juga berguru kepada KH Abdussamad Ota (Tuan Samadi) KH Yahya Podungge (Paci Nurjana), Kali Hundu, Habib Ahmad bin Alwy Almasyhur, Habib Bin Lamin Al-Jufri. Para ulama inilah yang mendidik KH. Adam Zakaria dalam penguasaan Kitab-kitab kuning dan itu pun diajarkan kepada murid-muridnya sampai ia wafat pada tahun 2006.

 

Demi mendapatkan ilmu, Ia tidak pernah mengeluh sedikitpun. Ia adalah ulama yang haus akan ilmu. Tentunya, dalam menuntut ilmu, beliau tidak membeda-bedakan guru. Baik itu dari kalangan Nahdlatul Ulama atau pun dari guru yang berlatarbelakang Muhammadiyah. Jika itu adalah orang berilmu, beliau tidak sungkan untuk datang belajar.

 

Semangat Kiai Adam dalam menimba ilmu agama sulit ditiru di era sekarang. Mendatangi rumah guru-gurunya secara bergiliran. Selepas belajar dari Habib Ahmad, Ia tidak segera pulang ke rumah. Akan tetapi Ia harus mengunjungi kediaman Tuan Samadi, KH, Abas Rauf, KH. Yahya Podungge, Kali Hundu dan Habib Idrus Binlamin Al Jufri. Tidak mengenal malam, pagi dan sore, beliau terus menimba ilmu

 

“KH. Adam selalu ditemani sepeda ontel untuk mengunjungi rumah para gurunya. Dan hal ini dikisahkan KH. Ridwan Podungge kepada kami”, kata Ustadz Safrudin Mahmud.

 

Tak hanya kepada Habib Ahmad, Kiai Adam  berguru kepada KH Abdussamad Ota (Tuan Samadi). Suatu ketika jadwal pengajian rutin di rumah Tuan Samadi tiba. Pengajian ini akan mengaji kitab Fiqih. Tetapi saat di perjalanan menuju rumah Tuan Samadi, Kiai Adam lupa membawa kitab. Kitab yang dibawa hanya kitab Risalatul Muawanah. Ia tidak memutuskan kembali ke rumah, namun melanjutkan perjalanannya ke tempat pengajian.

 

Saat dihadapan Tuan Samadi, entah mengapa, Tuan samadi senyum-senyum sendiri sembari berkata :

 

“Hari ini kita belum belajar Fiqih. Kayaknya ada kitab yang harus kita baca hari ini, yakni kitab Risalatul Muawanah. Ayo cepat keluarkan kitab Risalatul Muawanah itu dari balik bajumu”

 

KH. Adam Zakaria tidak menyangka bahwa Tuan Samadi mengetahui keberadaan kitab Risalatul Muawanah di balik baju. KH. Adam Zakaria termasuk murid istimewa dari Tuan Samadi dan KH. Abas Rauf. Bahkan KH. Abas Rauf pernah berwasiat kepada murid-muridnya: “Jika ada pertanyaan yang ingin kalian tanyakan dan saat itu aku sudah tidak ada lagi, maka silahkan bertanya saja kepada KH. Adam Zakaria”. Wasiat yang disampaikan Kiai Abas itu dikisahkan oleh murid-muridnya yang tak lain adalah Kiai Rasyid Kamaru dan Ustad Safrudin Mahmud.

 

Ulama melahirkan Ulama

 

Dengan ketekunan belajar kepada ulama terdahulu, membuat beliau memiliki banyak murid. Diantaranya adalah KH Armin Otoluwa (alm), KH. Rasyid Kamaru (Qadhi Kota Gorontalo saat ini), KH Yusuf Mopangga (alm) KH. Muin Mooduto (Pimpinan Ponpes Alkhairaat Kota Gorontalo dan Ketua MUI), KH. Abdulla Hippi (Imam Hippi), Basi Jidi, termasuk Ustadz Safrudin Mahmud, ustadz kondang yang sering mengisi pengajian di NUtizenTV.

 

Dulu, di tahun 90 –an,  setiap kelurahan di Kota Gorontalo mengirim 2 orang untuk dapat berguru langsung kepada Kiai Adam. Mereka belajar setiap minggu dalam tiga kali pertemuan dan mendatangi masjid-masjid yang telah ditentukan sebelumnya.  Suatu ketika, saat membimbing baca kitab, Ia tidak peduli berapa lama murid itu membaca kitab. Sebelum ada aba-aba berhenti, selama itu pula murid itu melafalkan bacaan kitab. Tak heran, ia banyak melahirkan murid yang juga ulama di Gorontalo.

 

Kiai Adam adalah ulama yang tak kenal lelah mengajarkan dan membimbing murid-muridnya. Itu terbukti ketika murid-murid pengajian sedang menunggu Kiai Adam, yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Manado-Sulawesi Utara. Para murid-murid berpikir, jika harus menunggu lama, sebaiknya mereka pulang. Namun ada yang tak habis pikir. Ketika para murid-murid ini akan hendak pergi dari tempat pengajian,  mobil yang dinaiki Kiai Adam sudah berada di depan mereka. Dan akhirnya mereka pun tak jadi pulang.

 

“Mestinya Ia istirahat kerena perjalanan cukup jauh ia tempuh. Ia tetap mendampingi dan membimbing murid-muridnya untuk belajar kitab”, tutup Ustad Safrudin.

 

Oleh : Rodney Neu

Alumni Kelas Pemikiran Gus Dur Online Gorontalo

×
Berita Terbaru Update