-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kisah Pak Gula (1): Ulama Gorontalo Penggerak Masyarakat Pesisir

Saturday, August 21, 2021 | August 21, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-08-21T14:12:02Z


KH Naha Akadji atau Pak Gula (1926-2010)


Di Gorontalo penyebutaan Ulama atau guru/pemimpin agama belum mengenal istilah Kiai atau Kyai, seperti halnya ulama-ulama di Jawa pengasuh pesantren. Di sini justeru unik. Ulama di Gorontalo dikenal atas penamaan masyarakat itu sendiri. Misalnya kita akan menemukan nama ulama seperti; Ti Bapu (orang tua), Ti Guru (seorang guru), Ti Paci, Ti Kali, Ti Danggu (berjenggot), Ti Aba dsb.


Penamaan kepada seseorang menunjukan karakter sosialnya. Mislanya di Gorontalo sendiri ada penamaan kepada sesesorang yang menunjukan ciri-cirinya. Seperti; Ti Ka’i yang berarti ia hitam. Ka Tinggi yang berarti ia bertubuh tinggi dan Ti Ka pende menunjukkan seseorang itu bertubuh pendek. Ti Gula atau Pak Gula adalah penamaan oleh masyarakat kepada KH Naha Akadji. Penamaan ini tentu karena sosok ulama karena pembawaannya yang manis, pembawa berkah, baik dan bijaksana.


Pak Gula atau yang dikenal dengan KH. Naha Akadji  lahir di Gorontalo pada tanggal 17 Agustus 1926 M, atau 15 Safar 1347 H. Lahir dari keluarga sederhana, Ibunya mengurus rumah tangga, sementara ayahnya adalah nelayan. Keduanya sangat taat beribadah dan berkhidmah kepada orang-orang alim terdahulu. Ia tumbuh dan besar di Kelurahan Pohe, Kecamatan Hulondalangi, Kota Gorontalo.


Pak Gula, bagitu sapaan masyarakat di Pohe, Kecamatan Hulondalangi, Kota Gorontalo. Nama ini sangat familiar di kalangan masyarakat pesisir di Kota Gorontalo. ‘Pak’ berarti bapak dan ‘Gula’ adalah pemanis. Secara kosmologi, pemberian nama seperti ini merupakan hasil pemikiran yang sangat beradab masyarakat setempat.


Guru Pengajian Kitab Kuning


Di usia 7 tahun Pak Gula kecil menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) di  Kayubulan, Kabupaten Gorontalo. Setelah lulus dari sini, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Al Fatah (Al Huda-red). Di usia sangat muda, Pak Gula sudah belajar baca kitab kuning yang biasanya diajarkan di pesantren-pesantren yang bersafiliasi dengan Nahdlatul Ulama. Kitab-kitab yang dibaca diantaranya; Duratunnasihin dan Irsyadul Ibad, Ihya Ulumuddin yang ia dalami dari sang guru yang tak lain adalah KH Abas Rauf.  


Menurut penutaran keluarga, di usia muda semangat belajar Pak Gula dalam belajar kitab sangat tinggi, utamanya belajar baca kitab kuning. Demi belajar dan berguru kepada orang-orang alim, ia rela tidak pulang rumah. Kiai Naha wafat pada tahun 2010 dan di makamkan di kampung halamannya. Makamnya sering di ziarahi, baik masyarakat sekitar maupun para murid-muridnya. Jika Anda ingin berziarah, jarak tempuh sampai ke sana akan memakan waktu 20 menit menggunakan motor. Di perjalanan, Anda akan disuguhi keindahan laut di sisi kiri, dan pegunungan di sisi kanan.


Menurut pengakuan berbagai kalangan, Kiai Naha merupakan murid istimewa yang dibimbing langsung KH Abas Rauf. Pada umur 23 tahun, diusianya yang terbilang muda itu, Kiai Naha Akadji sudah menjadi guru pengajar kitab kuning. Pengajiannya digelar berpindah-pindah, dari rumah ke rumah. Dari desa satu ke desa lainnya, yang ada di kecamatan Kayubulan, Kabupaten Gorontalo.


Ulama Penggerak Masyarakat


Kiai Naha juga dikenal sebagai tokoh penggerak masyarakat. Suatu ketika warga pesisir sedang berkumpul mendiskusikan agar di kelurahan mereka perlu dibangun masjid. Masjid sangat dibutuhkan karena jarak ke masjid lain cukup jauh. Wacana ini sampai ke telinga Kiai Naha dan saat itu pula ia datang memecahkan kebuntuan warga agar dapat membangun masjid sendiri.


Antusias masyarakat ingin membangun masjid sanggat tinggi. Pak Gula memberi saran untuk membuat arisan warga. Bagi Pak Gula, ide tersebut justeru menghindari beban warga untuk membangun masjid. Dari setiap arisan yang digelar setiap pekan itu, sebagian disisihkan untuk pembangunan masjid. Dengan ide itu, masjid pun terbangun dan aktivitas keagamaan terpusat di sini. Mulai dari pengajian maupun aktivitas keagamaan lainnya. Saat masjid itu dibangun, orang yang menjadi peletak batu pertama pembangunan masjid tersebut adalah KH. Abas Rauf, yang tak lain adalah Guru Pak Gula


Ulama Penemu Pukat Cincin


Hidup di wilayah pesisir di Kota Gorontalo, Pak Gula sangat akrab dengan laut. Selain imam kampung, guru pengajian, ia adalah nelayan. Ia punya andil besar dalam memberdayakan masyarakat nelayan. Kehidupan nelayan sangat bergantung pada hasil tangkapan. Agar nelayan pesisir memperoleh tangkapan lebih banyak, Pak Gula menciptakan Pukat Cincin yang ia desain sendiri dan sampai saat ini masih digunakan masyarakat nelayan setempat.


Menurut penjelasan Irfan Akadji salah satu putranya, hasil karya ini terkenal hingga seantero Sulawesi. Bahkan temuan ini sempat tersiar sampai ke Poso, Sulawesi Tengah. Nelayan dari berbagai penjuru di Sulawesi memesan langsung hasil karya ini. Pukat cincin yang dipakai  masyarakat pesisir di Gorontalo tak lain adalah hasil karya langsung Kiai Naha.


Bersambung...

Oleh : Abdul Kadir Lawero

Sekretaris di Lakpesdam PCNU Kota Gorontalo

×
Berita Terbaru Update