-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Aba Idu, Syekh Subhanallah Dari Gorontalo

Wednesday, September 15, 2021 | September 15, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-09-16T06:54:15Z

 

Almagfurloh KH. Ridwan Podungge ( Aba Idu ) 


Oleh : Fadil Hadju


Malam itu ayah sangat serius mengendarai motor. Saya tengah duduk di boncengan motor memeluknya dengan erat. Kala itu umur saya memasuki delapan tahun. Kretek, kretek, kretek....,, bunyi mesin motor ayah. Di depannya, lampu motor sedikit redup. Sesekali, ayah menyuruh saya turun. Kemudian ia menyiram air ke mesin motor.


“Ayah, kenapa mesinnya mesti disiram air?” tanya saya.


“Motornya haus, nak”


Ceshh..,,  bunyi mesin saat disiram air. Uap menyembul keluar dari mesin motor ayah. Tak henti-hentinya saya takjub dengan hal itu. Seketika saat asap itu keluar, ayah berucap; subhanallah


Setelah menunggu beberapa lama, ayah menyuruh saya untuk naik ke motor. Perjalanan pun dilanjutkan. Lampu-lampu jalan yang jingga membuat silau mata. Sesekali saya menutup mata, merasakan terpaan angin di wajah dan sinaran lampu yang terlihat putih saat menembus kulit mata. 


Rembulan terlihat terang. Putih dan bulat bentuknya. Kemana pun motor melesat ia turut mengikuti. Dalam hati saya berkata, “Ini bulan ngikutin terus, hih...” 


“Ayah, kenapa ya bulan itu ngikutin kita terus?”


Ayah tersenyum tipis. “Subhanallah” kata yang keluar dari mulutnya. “Itulah tanda keesaan Allah anakku. Bukan bulan yang mengikuti kita. Tapi karena jarak kita dengan bulan yang terlampau jauh, membuat sudut pandang kita konstan atau tidak berubah terhadap bulan. Jadinya kita seperti melihat bulan sedang mengikuti kita,”. 


Saya hanya bisa manggut-manggut di belakang ayah, meski saya sama sekali tak paham maksud ucapannya. Kemudian saya terus melihat ke arah bulan. Lama kelamaan kantuk menghampiri pelupuk mata. Saya tertidur di belakang ayah. 


Allahuakbar” gema yang keluar dari towa masjid. 


Saya terkejut. Saya menengadahkan wajah. Dingin menusuk-nusuk kulit. Saya masih di atas motor bersama ayah. “Jangan tidur nak. Sedikit lagi kita sampai,” ucap ayah. 


“Ayah, apa tadi yang keluar suaranya Allahuakbar itu?”


“Oh.., itu orang di masjid nak,”


“Kenapa mereka teriak Allahuakbar? Saya jadi terkejut,”


Ayah tersenyum tipis lagi. “Tapi kan karena teriakan itu kamu jadi terbangun,”


“Iya, tapi kenapa mereka tidak berucap subhanallah saja, melainkan Allahuakbar?”


“Semua itu ada artinya, nak. Subhanallah artinya maha suci Allah. Allahuakbar artinya Allah maha besar. Mereka teriak Allahuakbar itu menandakan mereka mengakui kebesaran Allah,”



“Terus tadi ayah berucap subhanallah saat menyiram motor dan juga saat jelaskan soal bulan, kenapa?” 



“Ayah menyerahkan diri kepada Allah, tidak yang lain yang agung dan suci selain diri-Nya. Semua di muka bumi ini terjadi atas kehendak Dia yang maha suci, nak,”



Saya manggut-manggut lagi. Kali ini saya agak paham, berkat penjelasan guru agama di sekolah tadi pagi. Guru berkata, kita dan semua mahkluk, baik hewan dan tumbuhan semua berdzikir pada Allah. Masing-masing berbeda dzikirnya. Ada yang berdzikir dengan subhanallah, ada yang alhamdulillah, ada juga yang Allahuakbar. Tapi manusia bisa ketiganya seperti; subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah Allahuakbar. Banyak lagi jenis dzikir yang bisa diucapkan oleh manusia sepertiku. 



Kisah Syekh Subhanallah dari Gorontalo


Suatu kisah tentang subhanallah ini pernah diceritakan pada saya oleh salah satu murid ulama terkenal asal Gorontalo. Ulama itu bernama Kyai Haji Ridwan Podungge. Kyai Ridwan terkenal di kalangan masyarakat perkotaan Gorontalo. Khususnya di area Sipatana. Ia akrab disapa dengan Aba Idu, panggilan murid-muridnya. 



Saat itu waktu menunjukan pukul 18.45 Wita. Saya dan Imran Tahir- murid Aba Idu- tengah duduk santai di area belakang sebuah masjid di Kelurahan Liluwo, Kota Gorontalo. Kala itu saya meminta Ka Imu- panggilan akrab Imran Tahir- untuk menunjukan rumah dari murid salah satu ulama Gorontalo Kyai Haji Yahya Podungge, atau yang dikenal dengan Bapu Paci Nurjana. 



Sebelum menemui murid Bapu Paci Ka Imu bercerita sedikit tentang kisah Aba Idu. Ia bercerita tentang Aba Idu yang dijuluki sebagai Syekh Subhanallah. Kisahnya berawal pada tahun 1998. Kala itu, Ka Imu dipanggil oleh Aba Idu.



Ka Imu memulai ceritanya. “Antar kamari dulu ti Aba kasana uti ,” tutur ka Imu, kemudian lanjutnya, “Itu yang diucapkan Aba ke saya saat itu,” ucapnya pada saya. “Saya kemudian menyalakan motor, dan membonceng Aba. Kami berangkat ke masjid,”. 



Waktu itu, tutur dia, ada perselisihan di kalangan masyarakat tentang seorang ulama yang berasal dari negeri Mesir. “Ulama itu kontroversial,” ucap Ka Imu. Ka Imu kemudian berdiri. “Kita orang Gorontalo, dan pada umumnya kan kalau adzan berdiri di satu tempat. Di tempat imam. Baru kita adzan sampai selesai,”. Lanjutnya, “tapi dia ini (ulama mesir) beda,”. 



Ka Imu kemudian berjalan ke arah kiri, kemudian ke arah kanan. Ia berjalan, berpindah kasana kemari, sembari tangannya menutup telinga, mencotohkan orang yang sedang adzan. “Begitu cara dia adzan. Dia adzan dari sudut ke sudut di mesjid,”.


“Saya baru tahu soal itu, kenapa ya dia begitu?” tanya saya. 


“Saya juga tidak tahu kenapa. Yang intinya. Di kalangan masyarakat dan para imam mesjid terjadi perselisihan. Ada yang tidak mempermasalahkan, ada juga yang mempermasalahkannya,” 



“Saya dan beliau (Aba Idu) kemudian pergi menemui ulama itu. Saya lupa nama ulama itu,”



“Saat sampai di sana. Aba Idu berjabat tangan dengan dia. Kemudian mereka mengobrol santai. Aba tidak langsung menanyakan soal keganjilan cara dia adzan,”



“Terus apa yang terjadi saat itu?” tanya saya pensaran.


“Mereka mengobrol mengenai ayat yang berbunyi tentang bukit Tursinah, tempat Nabi Musa bermunajat ingin melihat Tuhannya. Dalam Al-qur’an dijelaskan bahwa, saat Allah membuka hijab yang menyelimutinya, maka hancur leburlah bukit itu,”



“Iya saya pernah dengar soal itu,” ucap saya mengakui bahwa masih kurang membaca al-qur’an. 



“Tapi kemudian Aba tanya ke ulama Mesir itu, apakah bukit Tursinah saat ini ada atau tidak? Jawab ulama itu ada. Ulama itu terdiam. Kemudian Aba menjelaskan, itulah ayat yang jika kita menggunakan akal secara mentah, maka tak akan sanggup,” 



Subhanallah,” ucap saya. 


“Nah, saat mereka berdua sedang mengobrol, kan mereka duduk bersebelahan, Aba menepuk nepuk betis ulama itu, sembari mengucapkan subhanallah,” 


“Kaki dia saat itu sakit. Kemudian setelah mereka selesai mengobrol, dan ia berdiri, kakinya sudah tak sakit lagi,”


“Aduh.., bagaimana bisa begitu Ka Imu?” 



“Ah...,, itu kita tahu pada keesokan harinya, saat ulama itu pergi menemui Aba di kediamannya di Sipatana,”



“Yang herannya, tadi malamnya kami pulang itu tidak ada yang beritahu soal alamat rumah Aba. Tapi saat ia naik bendi, ia mengatakan pada kusir bendi untuk mengantarnya ke rumah syekh subhanallah, dan saat itu tidak ada yang tahu siapa itu syekh subhanallah. Tapi tiba-tiba kusir jalan. Dan bendi berhenti tepat di depan rumah Aba,” 



Subhanallah,” melesat keluar dari mulut saya lagi. 



“Nah, lalu ulama itu cerita tentang kakinya yang sakit sekali, sampai-sampai ia sulit untuk berdiri,” 



Aku menengguk air dari botol saat itu. Rasa haus di kerongkongan tak bisa saya bendung lagi. Mungkin karena asiknya obrolan ini aku jadi lupa untuk minum. 



“Kemudian ulama itu disuruh duduk oleh Aba di depan rumah,”



“Aba hanya menjelaskan pada ulama itu bahwa, semua itu adalah kekuasaan Allah. Aba tidak ada campur tangan di dalamnya,” 



“Kemudian ulama Mesir itu pulang. Dan dari masyarakat saya dengar kabar bahwa, sejak kejadian Aba menepuk kaki ulama itu, ia tak lagi adzan dengan cara dia yakni berkeliling di sudut-sudut masjid,”



“Saya kemudian bertanya pada Aba saat itu,” ucap Ka Imu serius pada saya. Saya pun mengerenyitkan dahi. Lanjut dia, “Apa yang Aba ada bilang sama dia?”



“Aba hanya menjawab, ‘jika kamu menempuh cara kasar, langsung melabraknya, dia tidak akan menghentikan cara dia adzan. Tapi dengan melihatkan tanda kekuasaan Allah, baru itu dia akan paham’,” Ka Imu menirukan ucapan Aba Idu.


“Bagaimana maksudnya itu ka Imu?” tanya saya. 


“Maksudnya adalah Aba tidak akan ambil jalur kekerasan, atau paksaan. Aba hanya mengambil jalur yang halus untuk menegur ulama itu,” 


Penulis adalah Pengurus Cabang PMII Kota Gorontalo

×
Berita Terbaru Update