-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pakuni Ahama, Guru Fiqih, Penuntun Tarekat yang Larut dalam Ilmu

Thursday, September 23, 2021 | September 23, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-09-24T07:09:24Z


Pakuni Ahama ( Hi. Ahmad Hatla) - Foto : Yohan Aribie

Pakuni Ahama begitu sapaan akrab masyarakat di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Haji Ahmad Hatla adalah nama lengkapnya. Ia lahir dari pasangan Idris Hatla (Bapu Pali Saurini) dan Salami Urbubiya Ali. Ayahnya adalah Imam Besar di Kecamatan Tibawa

 

Usai menempuh Pendidikan Guru Agama (PGA), Pakuni Ahama mengabdikan diri sebagai guru honorer pada Madrasah di Kecamatan Sumalata yang wilayah jangkauannya hingga Boroko, Bolaang Mongondow Utara.

 

Selain guru honor di madrasah, Pakuni Ahama adalah pedagang Madu dan juga guru ngaji. Usai mengajar di madrasah, ia meluangkan waktu mengajar bahasa arab kepada masyarakat . Keahlian lain yang dimiliki adalah bermain gambus dan seni beladiri ala Gorontalo, yakni Langga.

 

Semasa hidupnya, Pakuni pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA)  mulai dari Bone Pantai, Kwandang,Telaga, Batudaa, Limboto, Paguyaman dan terakhir di Isimu hingga purna bakti. Selepas pensiun Pakuni Ahama terus mengabdikan dirinya untuk agama dan masyarakat.

 

Ia aktif membuat forum-forum pertemuan keagamaan, mulai dari majelis-majelis ilmu hingga pengkaderan para imam-imam kampung. Bahkan dipercaya sebagai To Limutu atau hakim dalam adat di Gorontalo.

 

Pecinta badminton dan sepak bola ini pernah diangkat sebagai Qadhi Limutu (Limboto- Kab Bogor) . Akan tetapi, ia menolaknya. Baginya, kehormatan keagamaan yang diberikan kepadanya adalah jabatan yang sangat sakral dalam Gorontalo. Menurutnya, jabatan itu belum layak disandangkan kepadanya.

 

Putra Bongo ini lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di Isimu (Kabupaten Gorontalo). Meski demikian, ia tak pernah lupa keluarga di kampung halamannya. Setiap acara Maulid dan hajatan lainnya di kampung, ia selalu datang dan memberikan ceramah kepada keluarga dan masyarakat Bongo.

 

Senyum dan kesederhanaan adalah ciri khas yang tak bisa dilupakan masyarakat yang mendiami pesisir di barat Gorontalo.  Ia adalah tempat bertanya ilmu Fiqh ataupun tarekat. Sepeninggal Pakuni Ahama di tahun 2007, banyak ilmu yang ia wariskan di tanah kelahirannya itu.

 

Ia lahir di Gorontalo pada tahun 1936.  Pakuni menikahi putri  Abdullah Nggilu, yang merupakan Imam di Desa bongo, yakni Sarintan Nggilu dan dikaruniai 4 orang anak, diantaranya;

 

1.Misi Hatla (Alm)

2.Abd Wahid Hatla (guru iti)

3.Fatmawaty Hatla ( ses Tima)

4.Sukri Hatla (Budi)

 

Pakuni Ahama telah mendedikasikan dirinya kepada agama dan masyarakat. Ia terus belajar hingga akhir hayatnya.  Pakuni Ahama diberi gelar adat Taa Loyo Loyohu Too Ilimu  yang artinya ; ‘Putra Gorontalo yang Larut dalam Ilmu’. Kepergian  almarhum adalah duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Bongo

 

Oleh :  Yohan Arbie

×
Berita Terbaru Update