-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Redaksi: Nabi Dikritik Sahabat Terkait Strategi Perang, Apakah Nabi Marah?

Monday, September 13, 2021 | September 13, 2021 WIB | 0 Views Last Updated 2021-09-14T07:13:45Z

 

Ilustrasi perang badar (foto istimewah)

Redaksi NUlondalo.Online - Seringkali kita mendapatkan sesuatu yang kurang cocok dalam setiap pengambilan keputusan yang diambil. Baik itu keputusan atasan dalam kantor, organisasi maupun kelompok kita sendiri. Dalam muamalah, kritik berupa masukan merupakan hal yang wajar untuk saling mengingatkan. Tentu kritik yang dimaksud adalah kritik yang membangun.


Dalam sebuah buku inspirasi yang berjudul ’99 Resep Hidup Rasulullah’ karya Abdillah F. Hasan, Rasulullah Saw bukanlah orang yang antikritik. Beliau adalah manusia yang dengan lapang dada menerima kritikan para sahabatnya. 


Saat perang Badar, pasukan Muslimin berhenti di sebuh sumur yang bernama Badar dan Beliau memerintahkan untuk menguasai sumber air sebelum dikuasai musuh.


Sebagai pemimpin tertinggi pasukan perang saat itu, Rasulullah pun menerangkan; “ Tempat ini kupilih berdasarkan pendapat dan strategi perang”. 


Mendengar jawaban Rasulullah, Sahabat Khabab mengkritik, “Wahai Rasulullah, jika ini tempat menurutmu strategis, lebih baik kita pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh.

Lebih lanjut, Khabab mengatakan, bahwa kita perlu membuat lubang-lubang dekat perkemahan dan di isi dengan air sampai penuh.

Khahab ibn Mundzir ra yang saat itu ikut berperang bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah apakah penentuan titik ini adalah wahyu dari Allah atau hanya strategi perang?”


“Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya”, terang Khabab


“Sehingga kita akan berperang dan mempunyai persediaan air yang cukup. Sedangkan musuh tidak mempunyai persediaan air minum.” katanya


Mendengar kritik Sahabatnya itu lantas Rasulullah marah? Tidak, beliau justru langsung berpikir kembali dan akhirnya menyetujui kritikan Sahabat sambil tersenyum. “Pendapatmu sungguh baik”, Rasulullah menimpali


Akhirnya malam itu juga, Rasulullah Saw dan para sahabat melaksanakan masukan Khabab. Lalu apa yang terjadi kemudian? Kaum Muslimin memenangkan peperangan tersebut dengan telak.


Ibaratnya kritik adalah pedang, bisa berguna maupun jadi malapetaka, tergantung diri kita menyikapinya. Pada umumnya, orang-orang yang berpikiran negatif akan menjadikan kritik sebagai senjata yang menghunus dirinya sendiri.


Sebaliknya orang-orang yang berpikir positif selalu menjadikan kritik sebagai cermin yang memberi inspirasi ke dalam diri sebenarnya.


Wallahu'alam


×
Berita Terbaru Update