Gus Dur dan Kantor PBNU




Bus masih melaju membelah jalan yang padat, ketika kondektur meminta penumpang yang mau turun di Kramat Raya segera bersiap-siap. Dengan tergopoh-gopoh saya dengan teman segera menuju pintu bus. Bus menepi, tapi tidak betul-betul berhenti. Kondektur memberi isyarat agar kami meloncat turun dari pintu kendaraan yang telah dimakan usia itu. Kaki kami menapak di trotoar. Itulah pertama kali saya menginjakkan kaki di ibu kota. 1996.

Udara yang gerah segera menyergap wajah kami dan suara bising kendaraan menusuk-nusuk telinga. Kami berjalan beberapa puluh meter hingga akhirnya sampai tepat di depan sebuah gedung bertingkat. Di halaman gedung berdiri sebuah pohon besar. Suasana Jakarta sebagai kota metropolitan tiba tiba terasa berubah ketika memasuki halaman gedung. 

Gedung itu sudah terlihat tua, beberapa catnya pudar disapu waktu. Selain itu jika dipandang lama-lama, tampaknya tidak terlalu rapi meskipun tetap bersih. Gedung bertingkat itu jauh dari kesan megah. Sebaliknya siapa pun yang memasukinya terasa ada kesederhanaan. Rasanya kita tidak akan sungkan untuk mengamati setiap lekuknya dan menelusuri ruang ruang yang ada di dalamnya. Gedung yang seperti sengaja dibiarkan sederhana dan tampil akrab dengan pengunjungnya. Maklum saja pengunjungnya kebanyakan dari kampung dan sering kali menjadikan gedung ini tempat nginap sementara. Gedung itu tidak seperti kebanyakan kantor yang berdiri angkuh dan seakan tersenyum angker meneror pengunjungnya untuk berhati-hati memasukinya. Padahal gedung ini juga kantor, bahkan ia adalah kantor dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Saya teringat Biografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton, situasi kantor PBNU ini juga digambarkan sederhana dan terkesan dibiarkan tidak begitu rapi. Sangat berbeda dengan kantor Muhammadiyah yang lantainya saja dari tegel putih licin mengkilat. Begitu kata Barton. Tetapi Barton juga mengakui dengan kondisinya yang tidak terlalu formal itulah, kantor PBNU membuat siapapun yang datang seakan merasakan berada di rumah sendiri.

Itulah yang kami rasakan. Sebagai orang yang baru menginjakkan kaki di Jakarta, keberadaan kantor PBNU membuat kami merasa tidak terasing. Kami masuk dengan tanpa ragu. Duduk sejenak di ruang tamu yang terdapat satu set sofa berwarna merah. Seseorang lalu mengajak kami ke lantai tiga. Ia menunjukkan satu ruangan dengan karpet tua sederhana berwarna merah. "Di sini kalian bisa tidur" Katanya. Kami mengangguk hormat dan mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba saya ingat sesuatu. Lalu saya mendekat ke orang tersebut. "Ruangan yang biasa ditempati Gus Dur di mana ya?" Tanyaku.

"Oh...di bawah, lantai satu agak ke pojok belakang, kalau mau, kalian bisa turun melihatnya"

Kami bergegas kembali ke bawah.Tiba di lantai satu terus bergerak ke arah pojok kiri belakang. Sebuah ruangan dibuka oleh orang yang belakangan kami tahu sebagai penjaga kantor ini. Ruangan tersebut tidak terlalu besar. Sangat sederhana dengan sebuah meja dan dua kursi. Di atas meja tergeletak beberapa buku. Di belakang meja terdapat lemari rak, juga berisi buku-buku. Di dinding ada tali jagat melintang penuh wibawa. Kalau tidak salah juga ada foto Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari. Hari itu Gus Dur tidak ada.

Selama berada di kantor PBNU kami tidak sempat bertemu Gus Dur. Justru pada saat sudah ada di area pelatihan tingkat lanjut PMII, seorang sahabat malah mengajak balik ke kantor PBNU, "sowan ke Gus Dur." Katanya. Tawaran yang dengan senang hati kami terima.

Hari itulah, sayangnya saya lupa persis kapan tanggalnya, kami berdua untuk pertama kalinya berjumpa dengan Gus Dur, dalam ruangannya di PBNU. Kl tidak salah kami berempat saat itu. 

Gus Dur duduk di kursinya. Ia mengenakan kaca mata tebal. Berkemeja pendek. Rambutnya disisir tidak terlalu rapi. Tidak ada yang istimewa secara fisik, tetapi rasanya siapa pun pasti akan betah berada di dekatnya. Terasa ada magnet pada dirinya. Dengan takzim kami mencium tangannya. 

Salah seorang yang lebih senior memperkenalkan kami sebagai kader kader PMII dari Sulsel. Gus Dur tersenyum, mengangguk-angguk, bergumam pelan, "oh iya iya...." Katanya. Tidak banyak yang Gus Dur katakan saat itu, ia hanya, kalau tidak salah, meminta kami menjadi aktivis yang baik dan banyak belajar.  

Pertemuan itu tidak berlangsung lama. Beberapa orang yang lain juga ingin ketemu Gus Dur. Meski masih ingin berlama-lama mendapat curahan pengetahuan dari Gus Dur, tetapi karena situasi tidak memungkinkan akhirnya kami keluar juga dari ruangan itu.

Saya kembali mengamati gedung PBNU yang sederhana itu. Tampilannya sebersahaja penampilan Gus Dur. Tetapi keduanya sama sama membuat betah berada di dekatnya. Khusus Gus Dur, menurut Greg Barton, daya pikatnya terpancar dari keluasan spektrum pengetahuannya. Bila sudah mulai bicara, siapa pun orang yang ada di dekatnya akan terkagum-kagum dan ingin dekat dengan Gus Dur.

Hari itu kami telah bersua Gus Dur. Sang Guru Bangsa itu hanya bicara sepatah-dua patah. Tetapi kami sudah seperti dipantek oleh daya pikat yang luar biasa. Dan sejak saat itulah, saya mulai senang membaca tulisannya atau tulisan tentangnya, meski karena kekurangan duit, akhirnya lebih banyak pinjam buku teman....

Selamat jalan Gus Dur, kamu tidak pergi hanya pulang.

Oleh : Syamsurijal Ad'han

Pembina GUSDURian Makassar

nulondalo online

Media yang dihidupi & dikembangkan oleh Jaringan Anak Muda NU Gorontalo

Lebih baru Lebih lama