GMNU Indonesia Timur dan GUSDURian Sosialisasikan Program Pendidikan Kader Ulama

 

Prof. Dr. KH. Nazaruddin Umar, Imam Majid Istiqlal Jakarta selaku Keynote Speech pada agenda sosialisasi Pendidikan Kader Ulama via daring, Rabu (27/4/2022)

NUlondalo.Online, Regional - Generasi Muda Nahdlatul Ulama Indonesia Timur (GMNU-IT) dan GUSDURian menggelar agenda “Berkah Ramdhan” dalam rangka mensosialisasikan Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) yang bekerjasama dengan LPDP untuk jenjang Magister dan Doktor.

“Semoga agenda ini membawa keberkahan bagi seluruh peserta, khususnya bagi GMNU-IT , para kader PMII, GUSUDURian dan perserta yang ikut peserta ini”, kata Djemi Radji Koordinator GMNU-IT saat mengawali sambutan , Rabu (27/4/2022).

GMNU-IT, kata Djemi, adalah organisasi kultur non struktural bagi anak muda NU Indonesia Timur. Semangat gagasannya yaitu bagaimana menjaga keberagaman yang menjadi simbol bagi Indonesia, serta bagaimana agar tradisi ke-NU-an tetap terjaga dalam masayarakat khususnya Indonesia di bagian timur.

“Dalam GMNU-IT tergabung anak-anak muda NU yang memiliki konsen dan gerakan kultural sebagai penopang NU di akar rumput,” beber Djemi.

Agenda ini mengahadirkan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A (Imam Besar Masjid Istiqlal) sekaligus penggagas Pedidikan Kader Ulama, Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A (Direktur PKU-MI), Muhammad Amir, Lc., M.TH.I (Mahasiswa Doktor LPDP-PKUMI)

“Indonesia timur adalah sasaran pertama dalam sosialisasi program PKU-MI, nanti kita akan melaksanakan juga di kawasan tengah dan barat Indonesia, ” jelas Prof. Nasar.

Lebih lanjut, kata Prof Nazaruddin, banyak program pendidikan kader ulama yang digagas, akan tetapi, hanya namanya saja dan lebih banyak kursus-kursus kader ulama. Sedangkan yang dilakukan oleh Masjid Istiqlal, Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran dan LPDP benar-benar pendidikan kader ulama.

“Di sini kita akan memperoleh gelar magister dan doktor yang terakreditasi secara nasional, kedua akan mendapatkan dua ijazah yaitu satu ijazah yang akan dikeluarkan oleh Masjid Istiqlal selaku penyelenggara dan dua ijazah yang dikeluarkan oleh Negara melalui PTIQ selaku penyelenggaran pendidikan tinggi,” jelasanya.

Sementara untuk Program Pendidikan Kader Ulama Perempuan (PKUP), kata Prof Nazaruddin, adalah satunya-satunya program di dunia, yang diinisiasi oleh Masjid Istiqlal. Tak lama ini juga akan melakukan study banding ke beberapa tempat di luar negeri,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal.

Ia menjelaskan, bahwa out put dari dari PKU akan memiliki 12 karakter yaitu menguasai mihrab (imam); menguasai mimbar (pendakwah); menguasai menara masjid (muadzin); menguasai MTQ; majelis ta’lim; ma’had tahfidz Quran,  rohis di militer, menguasai maqabir (pemakaman dan takziyah), musabaqah, termasuk di  Majelis Ulama Indonesia dan lainnya.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKU-MI) menjelaskan, bahwa pendaftaran PKU dan PKUP jenjang magister dan doctor akan dibuka  pada bulan Juli 2022. Oleh karena itu, kata Prof Thib, saatnya mempersiapkan diri untuk bergabung.

“Jangan lupa, bagi peserta yang akan ikut nanti punya  kemapuan bahasa arab dan bahasa inggris, karena ini adalah penilaian utama untuk ikut PKU maupun PKUP”, paparnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan, bahwa semua program dilakukan secara offline dengan memperhatikan protokoler kesehatan. PKU ini menurutnya, memiliki program yang sangat padat yaitu mengikuti program pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) dan pendidikan ke-ulama-an di Masjid Istiqlal.

“Pendidikan Kader Ulama terbuka untuk siapa saja dan dari ormas apa saja, namun tidak berlaku bagi mereka yang memiliki afiliasi dengan organisasi terlarang seperti HTI dan organisasi terorisme” tutupnya.

Sebelumnya, Alumni PKU, Ustadz Amri yang hadir pada agenda tersebut membeberkan pengalamanya  saat ikut PKU. Bagi pendaftar, kata ia, perlu memperhatikan jadwal yang tertera di LPDP dan PKU-MI. Mempersiapkan diri dengan baik adalah kunci, termasuk menjaga pemahaman aqidah dan terhindar dari paham-paham ekstrimisme, radikalisme dan terorisme.

“Yang harus diperhatikan juga adalah mempersiapkan proposal tesis dan disertasi untuk dipaparkan dalam proses seleksi dan harus memilki dampak terhadap kehidupan beragama dan keummatan”, jelasnya.

Lebih baru Lebih lama