Redaksi: Selain Puasa Ramadan, NU Gorontalo juga Puasa Program?


Ramadan tak hanya bulan yang penuh berkah dan ampunan, tapi juga bulan merawat trilogi ukhuwwah nahdliyyah - unplash.com/foto


Ramadan 2022 sudah memasuki hari kelima. Di antara kita tengah berlomba-lomba memperbanyak pahala di bulan yang mulia ini. Bagi kita (baca : Nahdlatul Ulama), bulan Ramadan tak hanya bulan yang penuh ampunan, akan tetapi bulan merawat Trilogi  ukhuwwah nahdliyyah (sesama muslim, wathoniyah dan sesama insan manusia).

Trilogi Ukhuwwah Nahdliyyah adalah pijakan jamaah dan jamiyyah Nahdlatul Ulama dalam hidup sehari-hari pun dalam menjalankan organisasi terbesar ini di Gorontalo. Akan tetapi, di bulan yang mulia nan penuh ampunan ini, trilogi ukhuwwah nahdliyyah tak terlihat di permukaan. Apakah itu dijalankan oleh elit-elit di NU Gorontalo, maupun secara organisatoris.

Padahal, trilogy ukhuwah nahdliyah ini sudah amat ‘tua’ dan familiar di kalangan individu-individu yang mendaku Nahdliyyin. Sejak diperteguh kembali dalam keputusan Muktamar ke-33 di Jombong tahun 2015, dalam konteks organisasi, menjaga ukhuwwah nahdliyyah adalah niscaya terutama menjaga persatuan dan kekompakan seluruh warga NU

Tak Ada Geliat NU Gorontalo 5 Hari Ramadan.

Lantas, yang patut dipertanyakan adalah; apakah bulan Ramadan kali ini NU Gorontalo juga Puasa Program? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Kita perlu lacak sejak hari pertama Ramadan, adakah program-program Ramadan yang tengah dijalankan NU secara organisasi? Jawabannya tentu belum ada. Padahal sejatinya, NU di Gorontalo yang mendaku sebagai organisasi yang jumlah pengikutnya terbanyak ini ‘miskin program’ selama Ramadan. Padahal ada banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk menjalankan program, semisal media sosial.

NU di Gorontalo mestinya tengah sibuk dalam penguatan-penguatan amaliah selama bulan Ramadan tahun ini. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya juga minim, barangkali karena covid-19 yang terus menghantuai. Jangankan NU sebagai organisasi induk, toh Badan Otonom maupun lembaga-nya tak terlihat bergeliat dalam mewarnai Ramadan kali ini.

Jika program-program NU itu ada, program itu hanya di jalankan sebagian institusi yang sejak lama menjalankan amaliah NU, semisal Pesantren. Pesantren NU yang tengah mewarnai Ramadan, dan itu pun sudah jadi tradisi-nya, yakni PP Salafiyah Syafiiyah Randangan dan PP Sirujuth Tholibin, Mootilango. NU secara struktur di Gorontalo, tak bisa mengklaim bahwa program penguatan amaliah NU yang dijalankan pesantren tersebut adalah bagian dari program NU.

Muhammadiyah, Wahdah dan Salafi Mewarnai Ramadan

Secara organisasi, Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah dan Salafi tengah sibuk mewarnai Ramadan tahun ini. Muhammadiyah misalnya, dengan membagikan flyer jadwal berbuka puasa gratis dengan beragam menu takjil, sudah dibagikan sejak 3 April 2022. Tak ketinggalan organisasi Wahdah Islamiyah di Gorontalo. Organisasi ini sangat rapi memoles program, baik itu sebelum dan saat Ramadan tahun ini. Perjumpaan-perjumpaan para individu dua organisasi ini terus terjaga dan terawat. Hal ini terekam jelas dalam laman media sosial mereka.

Pun salafi, yang dengan jargon Syabab Gorontalo-nya ini juga tengah sibuk memeriahkan bulan yang agung nan penuh ampunan. Tiap hari, meski bukan di bulan Ramadan, komunitas keagamaan satu ini sangat telaten dalam ‘melancarkan’ dakwah-nya. Sosial media adalah ruang utama penyebaran dakwah mereka. Tidak seperti NU di Gorontalo, home page bahkan website pun tak ada. Jika ada, itu pun tak massif melawan tebaran narasi-narasi mereka.

NU Rekom dan Papan Nama

NU di Gorontalo dinilai sejumlah kalangan, termasuk internalnya sendiri sebagai organisasi ‘Rekom’. Rekom sangat identik dengan surat sehelai untuk memperkuat diri para individu, termasuk meraih jabatan terntu. Tak pelak, organisasi ini mulai ditinggal jamaahnya. Sejumlah kiai-kiai mencibir dan merasa bahwa NU di Gorontalo hanya papan nama tanpa ruh. Jika penilaian ini hanya sekedar asumsi, Anda bisa jalan-jalan ke Kiai-kian NU, termasuk ke pondok-pondok pesantren yang bersanad NU di Gorontalo. Bisa jadi, apa yang dikatakan Prof. Dr. KH. Usman Kaharu adalah benar: "NU Gorontalo ibarat kepiting, terlihat bersatu, tapi jalan sendiri-sendiri". 

Sudah menjadi konsumsi di kalangan Individu-individu di NU, organisasi ini hanya sekedar tunggangan semata, namun mereka abai dalam merawat dan menjaga trilogi ukhuwwah nahdliyyah. Jika demikian, bulan Ramadan yang tinggal 25 hari lagi tak dimanfaatkan untuk memperkuat tali silaturahim antara sesama warga NU? Bisa jadi, Elit-elit di NU Gorontalo menjadikan Ramadan tahun ini adalah Puasa Program. Artinya, NU tidak hanya menjalankan Ibadah Puasa mehanan lapar dan haus, tapi juga menahan niat menjalankan program sebulan penuh. Benarkah demkian? Wa Allahu a’lam bish-Shawab

nulondalo online

Media yang dihidupi & dikembangkan oleh Jaringan Anak Muda NU Gorontalo

Lebih baru Lebih lama