Maa Ledungga : Bincang Seni, Petani dan Kearifan Lokal yang tercerabut

Bincang-bincang Maa Lendungga bertajuk art.dik.tif di Huntu Selatan (Studio Hartdisk), minggu (29/5/2022)


NUlondalo.Online, Gorontalo - Studio HartDisk kembali menyelenggarakan bincang-bincang maa ledungga pada minggu, 29/05/2022 di huntu barat. Kegiatan ini sebagai bentuk lanjutan dari pengenalan event maa ledungga yang akan digelar di tahun 2022 setelah pandemi. Untuk tahun 2022 ini, maa ledungga mengusung tema  Art.dik.tif.

 

Agenda yang diselenggarakan di studio HartDisk tersebut turut dihadiri oleh perupa Gorontalo, dosen, akademisi, warga huntu, serta dari komunitas lokal di Gorontalo.

 

Dalam bincang-bincang tersebut, selain membicarakan soal makna Art.dik.tif, persoalan pertanian menjadi topik yang hangat dibahas. Terry Repi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Gorontalo mengungkapkan, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh petani saat ini begitu kompleks. Pertanian modern telah banyak membuat petani sekarang berada dalam posisi yang riskan.

 

Tema art.dik.tif diterjemahkan Terry sebagai kondisi petani yang cenderung berada pada posisi lingkaran ketergantungan terhadap pupuk, pestisida kimiawi, benih, sehingga petani secara lambat laun tercerabut dari basis pengetahuan lokalnya dalam bertani.

 

Tradisi dan Nilai yang tercerabut

 

Sejalan dengan hal itu, Mohammad Ahmad mengungkapkan kearifan lokal masyarakat Gorontalo dalam bertani mulai tercerabut dalam ritus bertani sehari-hari. Ia menjelaskan,  dulu sebelum melakukan penyemaian benih padi, masyarakat Gorontalo biasanya menggelar ritual pra tanam dengan meminta saran dari panggoba (seseorang yang dianggap ahli dalam melihat kapan waktu tanam). Selain itu, ada juga  prosesi ilonda (pestisida alami) yang dilakukan terlebih dahulu pada benih padi guna menghindari benih diserang tabongo (jamur tanah). Proses menanam lebih mengedepankan asas gotong royong (Mohuyula) ketimbang membayar buruh. 

 

Tabongo menurut Terry merupakan kecerdasan ekologi yang dimiliki oleh masyarakat Gorontalo berbasis kearifan lokal. hitung-menghitung waktu yang baik untuk menanam, sudah jarang dilakukan oleh petani dikarenakan prosesi bertani sudah bukan lagi ritus keseharian, akan tetapi telah menjadi bagian sistem produksi pangan yang cenderung mengejar produksi maksimal. padahal, Panggoba layaknya pembaca alam yang cenderung menerjemahkan hubungan-pengaruh antara tanda-tanda alam dengan kehidupan (proses bertani).

 

Menerjemahkan kembali kearifan

 

Syam Terrajana selaku pembicara mengungkapkan, etika bertanam itulah yang sekarang mulai jarang ditemui. Dia berharap, art.dik.tif nanti bisa menjadi wadah menyuarakan persoalan petani Gorontalo ke dalam bentuk karya yang bisa tersampaikan kepada masyarakat. Seni rupa bisa menjadi medium untuk menyuarakan persoalan tersebut. Bagi Syam, perupa diharapkan untuk bisa melakukan riset mini sebelum memulai berkarya. riset mini itu bisa dilakukan dengan semisal, turut bersama terlibat dalam prosesi bertani. atau dengan melakukan kolaborasi semisal dari kalangan akademisi.

 

Acara bincang-bincang maa le dungga itu ditutup dengan menonton film dokumenter artjog 2019. film dokumenter tersebut oleh Awaluddin selaku pengelola HartDisk diharapkan bisa memberikan gambaran bagaimana seni bisa melibatkan kalangan lain dari luar seniman untuk bersama-sama turut terlibat dalam proses pembuatan karya seni. Sehingga, lanjut Awal, pada event  nantinya, maa ledungga tidak hanya melibatkan dari kalangan seniman yang ingin menampilkan karyanya, tetapi juga bisa melibatkan petani, akademisi, bahkan kalangan dari komunitas lain. "maa ledungga bukan hanya milik seniman, tapi milik kita bersama", ungkapnya.


Kontributor : Zulfianto Biahimo

 

Lebih baru Lebih lama