Cerpen : Bocah Ajaib

 

Ilustrasi


SAYUP terdengar suara seorang pria. Ia sedang mengisahkan sesuatu. Sepeda motor saya menderu, menyelip di antara mobil dan bentor. Temaram merkuri menyirami badan jalan. 

Semakin dekat dengan masjid, terdengar makin lantang dan jelas suaranya. Saya penasaran dan singgah di masjid. Perlahan saya parkir motor yang bising knalpot nya itu di halaman masjid. Seminimal mungkin suara yang dikeluarkan, agar tak mengganggu aktifitas di dalam masjid. 

Saya menurunkan standar samping motor. Ketika hendak turun, saya ditatap oleh seorang bocah. Mungkin umurnya lima tahun. Saya melemparkan senyum ke arahnya. Ia membalas dan melangkah menghampiri. Ia sodorkan sebuah buku. Saya menerimanya bagai sebuah mustika. 

Mustika yang sangat langka, harus hati-hati saat memegang. Buku itu tak terlalu tebal. Saya membaca judul yang tertulis “Kisah Sang Bocah Ajaib”. Setelah membaca beberapa halaman, saya menutupnya. Saat hendak bertanya, bocah tadi telah hilang dari hadapan. Hati bertanya-tanya, siapa gerangan dia? Mengapa ia memberikan buku ini? 

Saya abaikan semua pertanyaan itu, ketika suara pria tadi menghampiri telinga. Saya simpan buku tersebut dalam tas dengan baik, buat jaga-jaga. Bila nanti bocah itu bertanya, saya bisa mengembalikan dengan kondisi utuh. 

Saya masuk ke dalam masjid, jejeran bapak-bapak tengah duduk rapi, dengan kaki bersila menghadap kiblat. Mereka tengah mendengarkan pria paruh baya tengah berkisah. Pakaiannya serba putih, berkopiah hitam dan sarung yang melilit di pinggang, hingga menutupi bagian bawah tubuh. 

Sesekali ia tersenyum dan bercerita dengan semangat. Nampak di sudut lain masjid, para ibu sedang duduk tenang mengamati. 

“Kisah Ba Idu dimulai dari beliau kecil,”  pria itu mulai berkisah. "Ia sangat terkenal dengan tingkah lakunya yang culas tapi cerdas. itulah julukan dia masa kecil.

Saat itu Ba Idu baru berumur lima tahun. Seperti lazimnya para bocah, ia sangat suka bermain. Beliau tengah bermain jungkat-jungkit di taman. Kesenangannya terganggu ketika Ba Idu dipanggil oleh pamannya, Kasim. 

Paman Kasim memanggil nama Ba Idu. Ia mengajak untuk pergi ke taman pengajian. Tetapi Ba Idu menampik, ia tetap ingin bermain. Paman  Kasim terus membujuk.  Dia bilang bahwa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Ba Idu. Ia pun menuruti. 

Mereka berjalan dari taman menuju sebuah rumah. Nampak biasa bentuknya. Bahkan modelnya nampak paling sederhana, dengan dinding kayu dicat kuning. 

Di depan rumah, berdiri tegak sebuah papan berukuran satu kali satu meter bertuliskan “Taman Pengajian Al-Mursyid”. 

Kerumunan pria dan wanita tengah berkumpul saat itu. Ba Idu heran lantas diperhadapkan dengan pria yang berpakaian serba putih. Segenggam jenggot menempel di dagunya. Ia memegang tangan Ba Idu, kemudian menggendongnya seperti anak sendiri. Ia mengusap bagian dada hingga perut Ba Idu. Dilanjutkan dengan bagian jidat keseluruh bagian kepala. 

Sekonyong-konyong saat pria itu berbicara dengan bahasa Arab, Ba Idu dengan lancar menerjemahkannya ke bahasa Indonesia. Semua orang tercegang ketika  mendengarkan Ba Idu menjadi penerjemah dadakan. 

Mereka tahu Ba Idu adalah anak yang culas. Ia tak bersekolah apalagi di sekolah agama. Jangankan berbahasa Arab, lafadz alif, ba, ta pun tak pernah keluar dari mulut Ba Idu. Tetapi sekejap ia bisa menerjemahkan ucapan pria itu dengan fasih. Tidak hanya ke bahasa Indonesia, bahkan ke bahasa Gorontalo. Mereka takjub, dan menjuluki Ba Idu Bocah Ajaib. Itulah kisah beliau mengawali perjalanan mendalami ilmu agama islam”. 

Saya duduk dengan posisi yang tidak nyaman. Kaki rasanya kesemutan. Saya terpaksa berdiri, pamit pada dua pria yang duduk di kiri dan kanan. Saya memberi salam dan berjalan ke luar masjid. 

Kisah yang saya dengarkan tadi sungguh menakjubkan. Bagaimana bisa seorang anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan islam mampu berbahasa Arab? Luar biasa. Sangat ajaib. Rasa takjub mereda saat wajah dihinggapi butiran air. Saya menghadap ke langit. Air tadi berasal dari sana. Malam terasa senyap tanpa bintang yang menerangi angkasa. 'hujan segera turun' pikir saya. Saya segera balik ke rumah dengan sepeda motor. 

Seperti memiliki dendam kesumat. Titik-titik air terus saja menabrak helm. Untungnya jarak dari masjid ke rumah tidak terlampau jauh. Sehingga pakaian tak basah kuyup ketika sampai di rumah. 

Saya tanggalkan baju dan celana. Seketika kamar mandi menjelma menjadi tempat ternyaman melepas penat. Selepas mandi dan ganti baju, saya segera menenggelamkan tubuh di kasur. 

Ritual yang sering saya lakukan sebelum tidur adalah bermain ponsel. Smarphone sebutan orang zaman kini. Barang satu ini bagai oksigen yang sangat penting untuk bernafas, bisa mati kalau tidak ada. 

Jika oksigen adalah gabungan dari gas hidrogen dan oksigen, maka ponsel adalah gabungan antara kecanggihan dan harapan. Orang-orang sering mengharapkan sesuatu dari ponsel mereka. Berharap sang kekasih membalas cintanya, berharap mendapat pekerjaan, berharap dapat barang bagus. Hampir semua orang berharap untuk memiliki ponsel. Dunia ada digenggaman ketika punya ponsel.

Menghadap layar, jarum panjang tergelincir di angka tiga puluh dari pukul sepuluh. Waktu berjalan dengan cepat saat bermain ponsel, angka satu berderet dua menunjukkan waktu hampir tengah malam. Mata Pun terasa berat untuk tetap terjaga. 

Saya menutup ponsel, lantas berbaring dengan posisi nyaman di kasur. Sejurus saat ingin terlelap, alam bawah sadar menggali ingatan tentang buku tadi. 

Saya masih ingat perawakan bocah penyumbang buku itu. Bocah itu nampak berwibawa dengan pakaian dan kulit putih. 'Bilamana ia besar nanti para gadis akan kesemsem'.

Ia mengenakan koko, kopiah lengkap dengan sarung warna putih. Saya baru sadar bahwa, cukup unik pakaian bocah itu. Saya penasaran anak siapa dia(?) Siapa namanya (?) Dari mana asalnya(?) Terlebih lagi, kenapa ia memberikan buku (?)

Seketika saya teringat dengan buku tadi, apakah masih utuh di dalam tas (?) sebab saya harus menghadapi rintik hujan di jalan tadi. 

Saya keluarkan dari dalam tas. Saya terkesima, buku ini ternyata berwarna putih. “Kisah Sang Bocah Ajaib” tertulis pada sampul. Rasa penasaran kian bertambah, sebab hal-hal aneh yang saya alami malam ini. Sebelum terlelap lebih dalam, saya sempatkan untuk membaca bab awal buku itu.

***

KISAHNYA berawal dari rumah kecil.  Sepasang suami istri, dengan anak semata wayang tinggal di dalamnya. Nama dia Ridwan. Ia adalah anak periang, namun seringkali membuat resah. Berbagai hal yang sering membuat orang tuanya khawatir, salah satunya saat ia lebih memilih berhenti sekolah. 

Sekolah membuat dia bosan. Katanya, berkebun bersama paman lebih mengasyikan. Ayah dan ibu Ridwan tidak setuju dengan hal itu. Mereka ingin putranya menjadi seorang Polisi, Tentara atau seorang Pegawai Negeri Sipil. Terbukti dengan tetangga mereka seorang polisi, yang sudah punya motor dan rumah sendiri. 

“Tidak mau. Ridwan maunya berkebun!” 

“Kamu harus pilih, jadi Polisi,Tentara atau Pegawai Negeri Sipil. Kalau tidak, keluar dari rumah!” 

“Tidak Mau!” 

Ridwan minggat dari rumah. Ia meninggalkan bapak dan ibu yang kesal. Begitulah hukumnya, tak semua niat baik langsung diterima. Bahkan Nabi Muhammad pun harus terusir dari tanah kelahirannya.

Ridwan berjalan ke luar rumah. Ia merobek dinginnya malam, ditemani rintik hujan. Tak peduli lagi dengan baju dan celana, ia sampai di rumah paman, Kisman. 

Paman Kisman menjadi sosok ayah bagi Ridwan. Begitu Pula sebaliknya. Suatu waktu Kisman membelikan Oleh-oleh dari Ujung Pandang. Ridwan mendapat hadiah lebih besar dari ponakan lainnya. 

“Pakaianmu basah, Nak. Ada masalah lagi sama Ayah dan Ibumu?”

Ridwan hanya diam. Paman Kisman segera membawa bocah itu ke kamar mandi. Bocah itu membilas bekas hujan di tubuhnya. Ia sudah menggigil sedari tadi. Pria itu paham betul bahwa mandi adalah hal biasa yang disenangi ponakannya.

Selepas mandi, ia membantu Ridwan berpakaian. Menempel warna putih pucat di bibir bocah lima tahun itu. Suara gigi saling tabrak terdengar dari mulut. Kaki dan tangan bocah itu gemetar dengan hebat. Hawa dingin telah memeluk erat-erat.

Paman Kisman menyeduh teh hangat. Ia menyodorkan setoples biskuit. Dua menu itu jadi suguhan favorit untuk para tamu. Maklumlah, ia telah hidup seorang diri lebih dari lima tahun. Sang pujaan hati telah lama meninggalkan dia untuk selamanya.

Selepas mengunyah beberapa biskuit, Ridwan menceritakan pada paman tentang kejadian di rumah tadi. Bapak dan Ibu memaksa dia untuk menjadi yang mereka inginkan. 

"Kamu masih kecil, Nak. Ayah dan ibu lah yang mengambil keputusan untuk mu. Sebagai anak, turutilah keinginan mereka," ucap paman lirih.

"Tapi, saya tidak mau. Saya hanya ingin membantu paman di kebun," ucap Ridwan dengan wajah memelas.

"Cukup paman yang merasakan teriknya mentari di siang hari. Kamu harus belajar. Umurmu masih sangat muda," suaranya lembut, sambil mengusap rambut Ridwan.

"Tapi pekerjaan paman lah yang paling mulia. Jika tak ada yang berkebun, orang-orang bisa kelaparan." 

Pria kepala empat itu memahami hal yang dialami ponakannya. Ia juga pernah di keadaan yang sama. Akhirnya Ridwan disuruh untuk menginap, dan pulang esok hari. Bocah itu pun terlelap di kamar paman.

SEPERTI yang diduganya, suasana hati bocah sangat mudah berubah. Hanya butuh waktu semalam, Ridwan kembali ceria bak cahaya mentari di pagi itu. Di ruang tamu, ia tengah memutar tutup toples biskuit. Dilahapnya jajanan renyah berbahan tepung terigu itu dengan khusyuk.

Paman menghampiri. Ia menasehati dan menyuruh Ridwan untuk pulang ke rumah, segera meminta maaf. Sambil melahap biskuit Ridwan menganggukkan kepala. Ia mengikuti saran dari paman, dan berniat untuk kembali ke rumah.

Dengan sepeda milik paman, Ridwan dibonceng ke rumah. Ia mengeluarkan suara pelan, seperti berbisik. Bocah itu sedikit-sedikit belajar cara memohon maaf. Kata paman, ketulusan akan meluluhkan hati orang. "Cara itu yang paling ampuh," pikirnya.

Rem sepeda berdecit. Kepala Ridwan terhantuk di punggung paman. Ia terkejut. Mereka sudah sampai depan rumah. Di halaman, menumpuk kerumunan orang. Menghalau pintu masuk rumah. 

Wajah ayah dan ibu segera menggelembung di pelupuk mata, ia membayangkan mereka. "Apakah mereka baik-baik saja? Atau jangan-jangan mereka mencari saya semalam dan terjadi kecelakaan?" Ridwan mulai berpikiran negatif. Paman meminta Ridwan untuk menunggu di sepeda. Ia menuruti. Pria itu pergi, mencari tahu apa gerangan yang terjadi. 

Paman berjalan ke halaman rumah dan tenggelam di dalam kerumunan. Lagi-lagi pikiran negatif hinggap di kepala. Semakin lama ia berpikir, tambah sedih hasil pemikirannya. Ridwan pilu. Ia tak mampu membayangkan jika ayah dan ibu meninggal. Tak terasa bulir air membasahi pipi. Ridwan sesenggukan. Sekonyong-konyong ia terkejut dengan kehadiran paman. Ia telah berdiri di hadapan Ridwan.

“Ayo, Nak!” 

Paman menggenggam tangan Ridwan. Makin ia melangkah, genggaman paman tambah erat. Hati Ridwan makin kelabu. Perlakuan paman, membuat ia berpikir sesuatu buruk telah terjadi. 

“Cepat, Nak. Ada yang harus kau temui!"

“Kenapa ini, Paman? Ada apa?”

“Ayo, cepat!” 

Langkah kaki kecilnya melayang di atas tanah saat paman menarik. Kesedihan sekejap sirna. Ia melihat ayah dan ibu duduk  tenang  di sofa coklat peninggalan kakek.

Air muka mereka muram. Empat bola mata menusuk tajam pada Ridwan yang berhasil keluar dari himpitan pagar betis. Pandangan mereka seakan bertanya dan penasaran. Ia menundukan kepala. Tetapi ia merasa lega karena mendapati orang tua masih hidup.

Sebuah lengan berkulit putih dan besar menggenggam jari Ridwan yang mungil. Sungguh lemah lembut, namun penuh ketegasan saat menggenggam. Perlahan tangan bocah itu ditarik. Ia terseret ke pelukan seorang pria. 

Pria itu berpakaian serba putih dari kepala hingga kaki. Ia baru sadar ada orang asing duduk di ruang tamu. Wajahnya bak air tenang yang menghanyutkan dan menyegarkan. Senyum tipisnya menggetarkan jiwa.

Ketika pria itu menggendongnya, rasanya familiar. Orang itu bak kerabat yang sangat sayang pada Ridwan. Tapi entah siapa. Pria itu seperti sering bertemu dia. Namun sayang, ia tak pernah mengingat pernah bertemu sebelumnya. 

“Anda siapa?” 

Ahda abni. Sawf 'azhar min 'ana” 

Bibir bocah itu membentuk garis horizontal. Bola matanya jadi sipit.  Ia hanya bisa mengingat satu hal saat itu. Ucapan pria itu bukanlah bahasa yang digunakan sehari-hari, baik bahasa Indonesia maupun Gorontalo. Ia mengernyitkan dahi, memandang dengan dalam ke mata pria itu. Nampak bulat dan bercahaya dibalik kacamata. Ia tersenyum lagi. Ridwan tak membalas, rasa heran menyirami air mukanya. 

Perlahan pria itu mengusap dada hingga perut Ridwan, dibarengi dengan membaca beberapa ayat. Ia melafalkan surah al-fatiha, al-ikhlas, dan memanjatkan doa kepada para alim ulama. Sekonyong-konyong ia mulai memahami yang diucapkan pria itu. 

Ridwan membelalak. Pria itu berucap, “Semoga Allah memberkahi anak ini dengan ilmu yang dalam dan maha luas, dan terbuka pintu rezeki luas baginya untuk menuntut ilmu agama”.

Ucapan pria itu perlahan mulai berubah. Bagai suara radio yang berpindah channel. Ridwan mendengar suara kresek. Wajahnya pucat pasi. Keringat bercucuran dari pori-pori dahi. 'Apakah pria ini menjampi-jampi ku untuk tuli?' pikir Ridwan.

Ridwan hanya bisa menatap pria itu. Sesekali ia menarik daun telinga, bak mengatur siaran. Bocah itu mencoba memperbaiki tangkapan sinyal telinga. Setelah menariknya, ia mendengarkan bunyi hening. Matanya membendung bulir air. 

Ia menghadap ke langit-langit rumah, terbelahlah. Biru dan putih warna angkasa memayungi rumah. Sosok putih bercahaya turun dari langit. Ia berdiri di samping mereka. “Sungguh besar” ucapnya dalam hati. Sekelebat sayap luar maha besar membungkus mereka. 

Setelah beberapa detik, ketika hendak menangis, suara hening menghilang, ia bisa mendengar lagi. Sosok putih dan bercahaya itu kembali ke langit.  Kali ini suara pria itu terasa lebih aneh. Ridwan memahami ucapannya.

“Ya Allah, tuntunlah anak ini di jalan yang Engkau Ridhoi. Jalan para pencari ilmu. Alim ulama. Jadikanlah masa depan anak ini menyiarkan kebaikan-kebaikan agama-Mu. Sayangilah anak ini, sebagaimana engkau menyayangi mereka yang menyembah karena mencintai-Mu,” ucap pria itu, dan berhenti mengusap.

Pria itu menyuruh Ridwan untuk memberitahu kepada semua orang bahwa, ia telah diangkat menjadi murid. Ridwan mengucapkannya kepada semua oranh, juga orang tua dan paman. Wajah mereka yang menyaksikan kejadian itu nampak penasaran. Terlebih ketika Ridwan mengucapkan hal yang diamanatkan oleh pria itu. 

“Apakah ini nyata? Ridwan bisa berbahasa Arab dengan fasih,” ucap Ibunya. 

“Mungkin kamu salah mendengarkan, Sayang” sahut ayah Ridwan.

“Tidak, Ridwan baru saja berbahasa Arab” bantah ibunya

“Mana mungkin, anak kita jarang pergi ke sekolah, ia sangat malas. Terlebih untuk bersekolah agama” ayah bersikeras.

Orang-orang beralih pandangan ke orang tua Ridwan. Perdebatan kecil terjadi. Mereka sangsi. Ayah dan Ibu tahu bahwa Ridwan hanya berkebun bersama Paman Kisman. Ia tidak pernah pergi ke taman pengajian, ataupun sembunyi-sembunyi belajar agama dari seorang guru. “Apa mungkin Ridwan pernah melakukannya?” pikir mereka. Orang tuanya bersikeras tidak mempercayai hal ini. 

“Saya telah diangkat menjadi murid oleh Habib” 

hadha altifl sayakun khalifi fi alkarazati”. ucap Habib dan disambung Ridwan, “Anak ini akan menjadi penerusku dalam berdakwah. Sayangilah dia dengan sebaik-baiknya”. 

Raut wajah ayah dan ibu nampak linglung. Tatapan kosong mengarah tepat pada Ridwan dan Habib. Salah seorang dari kerumunan itu menyahut, “itulah karomah dari Habib”. Pria itu nampak tinggi, bertubuh kekar dengan wajah yang tampan. Ia berkata bahwa, itulah mukjizat yang sangat kecil bagi Allah Subhana Wata'ala jika Ia meridhoi. Habib, kata dia, menjadi media pembuka rahmat bagi Ridwan mendalami ilmu agama. “Anak ini adalah bocah ajaib yang diberkahi” ucap pria itu. 

***

KANTUK mulai hinggap di pelupuk mata. Buku hampir lepas dari genggaman. Saya tidak bisa menahan kantuk lebih jauh lagi. Namun rasa penasaran menggelembung di kepala. Saya semakin heran, kisah dalam buku ini hampir sama dengan cerita pria di masjid tadi.

“Kisah Sang Bocah Ajaib” tulisan di sampul buku. Apakah bocah yang ada di buku ini adalah sosok  diceritakan pria itu(?) Terlebih, kenapa harus bocah yang memberikan saya buku ini(?)

Namun, rasa penasaran saya tenggelamkan di alam bawah sadar, agar esok hari bisa digali lagi. Alam bawah sadar adalah memori terbesar, anugerah Tuhan kepada manusia. Kapasitasnya tak terhingga. Sebuah kuasa yang mungkin tak kita sadari bahwa, kasih sayang-Nya memiliki berbagai rupa.

 Saya membenamkan kepala di bantal, mulai memejamkan mata. Tertidur...

Penulis : Fadhil Hadju
Gorontalo, 1 Juni 2022
Lebih baru Lebih lama