Kisah Widhia Seni “Demi Keta’atan terhadap Tuhan”

 

Widhia Seni

Penulis : Abdul Kadir Lawero - Komunitas GUSDURian Gorontalo  

NUlondalo.Online - Namanya Widhia Seni. Kawan-kawan dekatnya sering memanggilnya Widhia. Perjumpaan saya dengan Widhia bisa dikatakan sebagai sebuah kebetulan. Mengingat, kami tidak begitu akrab, dan hanya dipertemukan lewat agenda Workshop Peningkatan Kapasitas yang dilaksanakan Sekretariat Jaringan GUSDURian Nasional. Widhia sendiri merupakan salah satu peserta Workshop. Bersama kawan-kawan dari berbagai daerah, kami dipertemukan untuk belajar, bertukar cerita, berbagi pengalaman, berdialog untuk saling menguatkan kapasitas, membongkar sekat-sekat identitas terutama menyangkut soal agama. Di antara berbagai cerita maupun pengalaman yang menurutku penting untuk dijadikan sebuah pelajaran maupun refleksi adalah sikap kepribadian Widhia. Mengapa? Mari kita bahas.

Terasingkan di Keluarga

Sejatinya keluarga adalah tempat berbagi keluh dan kesah. Keluarga adalah ruang ataupun tempat mendialogkan beragam harapan dan masa depan. Keinginan untuk mendapatkan perlakuan yang baik dari keluarga tentunya menjadi dambaan setiap anak, terutama kasih sayang dari seorang ibu. Tetapi kenyataan ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh Widhia. Di usia yang masih kecil (7 Tahun), kehidupan Widhia bisa dikatakan tidak seberuntung dengan anak kecil pada umumnya.

Widhia hidup di tengah keluarga kurang mampu, dan bersama keluarganya dia tinggal di Kota Semarang. Bukan hanya permasalahan ekonomi keluarga yang sering dia hadapi sehari-hari, tapi juga termasuk soal perbedaan keyakinan. Ibunya seorang muslim, pekerjaan sebagai Ibu rumah tangga. Sementara Ayahnya adalah seorang yang beragama Budha. Bekerja sebagai penjual roti. Hidup di tengah lingkungan keluarga yang berbeda keyakinan antara Ibu dan Bapak merupakan tantangan tersendiri baginya. Widhia sendiri telah mempunyai keyakinan terhadap agama Budha sama seperti ayahnya.

Berjalannya waktu, perbedaan keyakinan antara Ibu dan Ayah telah membawa konsekuensi tersendiri  baginya. Disatu sisi, Widhia sudah mempunyai ketataan terhadap agama Budha, namun di sisi yang lain Widhia harus berhadapan dengan tekanan dari Ibunya agar mengikuti agama islam. Dampak dari ketidakmauan mengikuti keinginan Ibunya, membuat Widhia sering mendapatkan tindakan kurang baik dari Ibu beserta keluarganya. Dalam kesehariannya, ini dirasakan Widhia ketika mau bersiap-siap untuk pergi sekolah. Widhia belajar di Sekolah Katolik. Sebelum berangkat sekolah, semua pekerjaan rumah harus sudah selesai dikerjakan. Pulang dari sekolah wajib bekerja dulu baru boleh makan. Terkadang Widhia merasa sedih. Jarak antara sekolah dan rumah lumayan jauh. Parahnya lagi, Widhia tidak bisa membaca Alqur’an tapi ibunya selalu memaksanya untuk membacanya.    

Teguh Pada Keyakinan Di Tengah Tekanan                      

Terlahir dan hidup di tengah keluarga yang berkecukupan pastilah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang, apalagi anak yang berusia 7 tahun seperti Widhia. Keinginan untuk bahagia serta mendapatkan bekal pendidikan agama yang baik dari kedua orang tua terutama ibu pastilah menjadi harapan terdalam baginya. Namun, perasaan untuk bahagia bersama Ibu tidak sama sekali dirasakannya. Bahkan Widhia merasa jauh dari pendidikan agama. Baginya, Ibunya tidak memberikan sikap tauladan yang baik layaknya seorang Ibu, terlebih dalam hal pengetahuan agama. Belum lagi, ketika di rumah, dia selalu di perhadapkan dengan penghasilan ayah yang tak menentu. Sehingganya, kondisi inilah yang terkadang menjadi biang keributan antara ibu dan ayahnya.

Di tengah situasi pergulatan ekonomi di kehidupan keluarga mereka, membuat  Widhia  berpikir agar harus mengambil sikap untuk mandiri. Tindakan ini dilakukannya sebagai akibat dari tekanan kebutuhan ekonomi. Di usia 7 tahun, Widhia sudah sudah harus belajar mencari tambahan penghasilan, membantu sang ayah guna menopang nafas panjang kehidupan keluarga mereka. Harusnya, ketika di rumah, Widhia bisa fokus untuk belajar, berbagi cerita dengan orang tuanya, serta bisa bermain dengan sahabat-sahabat seumurnya. Tapi lagi-lagi itu hanya sebatas harapan yang tak berwujud.

Pasang surut masa kecil Widhia tidak hanya berhenti pada tekanan keyakinan dan ekonomi yang harus ia hadapi, tapi juga menelan pahitnya melihat kedua orang tuanya bercerai. Ibunya pun mengambil sikap untuk tidak perduli lagi padanya. Sang ibu malah mencoret nama Widhia dari kartu keanggotaan keluarga. Dirinya tidak lagi dianggap sebagai anak kandung. Keluarga dari pihak Ibu kandungnya juga ikut menekan dirinya. Penyebabnya, karena Widhia beragama Budha sama seperti ayahnya. Perbedaan keyakinan telah menjadi dasar persoalan retaknya hubungan anak dan Ibu. Widhia merasa apa yang telah dilakukan oleh ibunya kepada dirinya selama ini sebagai bentuk diskriminasi. Terlintas di pikirannya bahwa seperti itukah sikap agama islam? Kasar, sinis, memaksa, anti terhadap agama lain, dsb.  Dia pun kemudian mengambil sikap untuk tidak lagi berhubungan dengan ibunya. Setelah kejadian ini, Widhia memilih tinggal bersama Ayahnya.

Bertemu Dengan Keluarga Baru

Bagi Widhia, perjalanan panjang kehidupan keluarganya telah banyak memberikan pelajaran tersendiri baginya. Dalam hati kecilnya, sikap trauma akibat tekanan agama dari ibunya di masa lalu cukup dia saja yang merasakan. Harapan terdalam dari Widhia adalah dia tidak menginginkan ada anak-anak seumurannya mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Di usia 18 tahun, suatu ketika Ayahnya pernah bertanya kepada Widhia, apakah setuju dan ikhlas kalau ayah menikah lagi? lanjut sang ayah mengutarakan keinginan, tapi ini dengan perempuan yang beragama islam?. Mendengar kemauan Ayah menikah dengan perempuan yang berbeda keyakinan, pikirannya seperti dipantulkan dengan bayangan perlakuan buruk Ibu kandungya di masa lalu akan terjadi lagi .

Widhia kemudian terdiam. Sambil menarik nafas panjang, Widhia berusaha untuk bersikap tenang. Lalu Widhia menjawab keinginannya Ayahnya. Asalkan perempuan itu baik, dan ayah juga sudah yakin dengan pilihan untuk memeluk islam maka saya pun ikhlas. Ayahnya pun merasa sangat senang. Sebelum melangsungkan pernikahan, Ayahnya sempat bertanya kepada Widhia, apakah kau juga ingin berpindah keyakinan? Widhia menjawab, dirinya akan tetap berpegang teguh pada agama Budha. Mendengar jawaban dari Widhia, ayahnya tersenyum dan berpesan kepada Widhia, “Agama apapun yang ingin kau yakini kuncinya adalah kau harus taat pada ajaran agama tersebut”. Kini, ayahnya sudah memeluk agama islam, dan telah menikah untuk yang kedua kalinya. Mengenai hubungan antara Widhia dengan Ibu sambungnya tidak terlalu dekat antar keduanya, tapi perlakuan ibu sambungnya sangat baik.

Saat ini, Widhia telah mendapatkan keluarga baru. Meskipun sudah mempunyai keluarga, dia tetap memilih untuk mandiri, tinggal di Asrama Budhis.dan tidak ketergantungan dengan keluarga barunya. Bentukan kepribadian untuk bersikap mandiri inilah yang membuat Widhia bisa bertahan dengan keadaan, terus belajar, serta berhasil menyelesaikan studinya dari  Strata satu hingga bisa lulus dengan beasiswa master.

Bagi saya, perjumpaan dengan Widhia beserta cerita tentang pengalaman hidupnya bukanlah sebuah kebetulan. Tapi lebih dari itu, bisa jadi ini adalah jalan Tuhan kepada saya untuk terus belajar. Apa yang di alami oleh Widhia telah memberikan pelajaran bahwa keta’atan manusia terhadap Tuhan dan agama adalah hubungan paling rahasia yang tidak bisa di ganggu oleh manusia lainnya. Semoga saja perdebatan dan penghakiman terhadap yang berbeda agama tidak terjadi Gorontalo. Tetapi, kita juga tidak boleh berbangga diri, bisa jadi daerah yang mempunyai basis mayoritas muslim yang kita banggakan selama ini justru masyarakatnya menyimpan banyak cerita dan luka seperti apa yang di alami oleh Widhia. Selamat buat Widhia. Pengalaman hidupmu ini bisa memberikan maanfat dan pelajaran bagi banyak orang.               

Lebih baru Lebih lama