Memulihkan Nama Baik Rois Syuriah Lebih Penting Daripada Merasa Benar Sendiri

 

Logo organisasi sosial keagamaan Nahdlatul Ulama/ Foto : Istimewah


Redaksi - Dalam kepemimpinan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) Syuriah adalah pimpinan tertinggi. Ia bertugas membina dan mengawasi setiap pelaksanaan keputusan-keputusan yang akan dan sedang dijalankan organisasi.

Alasan bahwa Syuriah punya kedudukan tertinggi karena didalamnya terhimpun para ulama-ulama sepuh dan punya basis pengetahuan keagamaan mumpuni, sebab NU adalah organisasi para ulama. Selain mengawasi dan membina, syuriah juga berfungsi sebagai dewan pengarah organisasi. Jadi jelas peran dan fungsi syuriah dalam struktur organisasi NU.

Dan peran-peran syuriah terekam jelas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) bab 7, bahwa syuriah adalah pimpinan tertinggi di NU. Sementara pada bab 8 juga menerangkan, bahwa tugas syuriah adalah membina, mengarahkan dan mengawasi pelaksanaan keputusan-keputusan organisasi, baik yang akan direncanakan maupun sesudahnya.

Sementara tugas tanfidziah (pelaksana) menjalankan keputusan dan kebijakan yang ditetapkan oleh syuriah. Jika dikonversi dalam ketatanegaraan, tanfidziah adalah dewan eksekutif yang tugasnya mengeksekusi yang lahir dari keputusan syuriah.

Faktanya, peran-peran syuriah NU di Gorontalo dikebiri. Salah satu fakta yang terungkap di permukaan dan sempat menjadi perbincangan serius di kalangan internal NU ialah, dugaan pemalsuan tanda tangan Rois Syuriah PCNU Kabupaten Bone Bolango KH Helmi Podungge. Pemalsuan tanda tangan itu diduga dibuat langsung oleh Pengurus Tanfidziah NU di Bone Bolango untuk kepentingan ‘politik’ tanfidziah dalam merespon polemik di tubuh pengurus wilayah NU dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Gorontalo.

Lebih buruknya lagi, Surat Pernyataan (SP) yang keluar tersebut tanpa pertimbangan dan masukan dari Rois Syuriah sendiri. Pengurus tanfidziah di Bone Bolango telah memperlihatkan kepemimpinan yang buruk dalam pelaksanaannya. Peran Syuriah nyata-nyata telah dikebiri. Lalu, apakah ego pengurus tanfidziah yang diduga memalsukan tanda tangan dan mengabaikan peran syuriah dalam pengambilan keputusan organisasi tak perlu minta maaf?

Sejatinya, organisasi yang menghimpun para ulama ini penting memperketat recruitment kepengurusan. Rekam jejak pengurus juga menjadi pertimbangan internal, apakah calon-calon pengurus tersebut layak dan punya mental leadership? Recruitment kepengurusan tidak boleh hanya mengutamakan bahwa sang calon pengurus itu ahli ibadah, aktif di majelis, alumnus pesantren, tapi juga sang calon pengurus punya mental terbuka. Dan lebih penting dari itu semua ialah, menanggalkan egonya tidak merasa benar sendiri dalam mengelola organisasi. Dengan demikian, NU akan lebih bermartabat di mata pengikutnya, utamanya publik.

Sekian..

Lebih baru Lebih lama